Atasi Upal, BI Gandeng Bank Sentral Jerman
|
| Senin, 28 Mei 2012 | 03:10 WIB |
|
|
|
JAKARTA – Peredaran uang palsu masih saja terjadi. Bahkan, peredaran upal paling banyak terjadi di Jakarta yang mencapai 29,6 persen. Disusul kantor Bank Indonesia (KBI) Surabaya 23 persen, dan KBI Bandung yang mencapai 20,5 persen.
Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan, bahwa pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk mencegah peredaran upal. Sebagai pemegang kebijakan, langkah BI lebih mengedepankan upaya preventif.
Upaya preventif itu, kata Darmin, berupa penyelenggaraan Training of Trainers (ToT), sosialisasi keaslian uang rupiah bekerjasama dengan mitra strategis, serta penyebaran informasi keaslian uang rupiah melalui berbagai media publikasi termasuk pencetakan kalender. Itu semua dilakukan pada Triwulan I-2012.
"Beberapa lembaga yang menjadi mitra strategis dalam pelaksanaan ToT keaslian uang rupiah antara lain Perhimpunan Pengusaha Rekreasi dan Hiburan Umum (PPRHU), Asosiasi Perusahaan Jasa Angkutan Uang Tunai (APJATIN), PT. Pos Indonesia wilayah DKI Jakarta. Kerjasama tersebut akan diperluas pula dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO)," papar Darmin Nasution dalam laporan kepada DPR, Minggu (27/5).
Sampai dengan Maret 2012, BI masih menemukan 2 lembar uang palsu dalam 1 juta lembar uang asli. Dimana pecahan terbanyak dipalsukan yakni Rp 100.000 yang mencapai 58% dan diikuti oleh pecahan Rp 50.000 yang mencapai 40%.
Darmin juga menyampaikan, BI telah bekerjasama secara khusus dengan Bank Sentral Jerman. Hal ini sebagai upaya untuk menganalisis peredaran uang palsu. "Bank Indonesia juga telah merampungkan Bank Indonesia Counterfeit Analysis Center (BI CAC) sebagai pusat analisis uang palsu, dengan bantuan teknis dari Bundesbank (Jerman)," tutup Darmin. jak