menu.jpg
 
Hotel Short Time, Sanggup Carikan ABG

SURABAYA – Banyaknya kasus prositusi anak di bawah umur di sejumlah hotel short time di Surabaya, tak lepas dari peran makelar. Hanya saja, gadis-gadis ABG (anak baru gede) yang umumnya siswi SMA ini tidak dipajang di hotel per enam jam-an itu. Namun, mereka siap setiap saat jika ada pria hidung belang yang membooking. Staf hotel short-time Surabaya umumnya siap mencarikan tamu-tamu hotel yang mencari ABG.

Informasi yang dihimpun, jaringan ABG ini tak jauh-jauh dari lokalisasi Dolly, yang umumnya terdapat kos-kosan bebas. Seperti di daerah Dukuh Kupang, Putat, Dukuh Pakis, Wonorejo dan sekitarnya. Ada juga ABG yang diambilkan dari kawasan Bambu Runcing Jl Panglima Sudirman.

“Kalau cari langsung ABG di hotel, ya nggak ada mas. Tapi jika sampeyan sabar bisa minta dicarikan sama staf di hotel. Sebab, hotel short time ini menjadi langganan check in cewek-cewek malam yang dibooking tamunya,” ungkap sumber Surabaya Pagi yang biasa malang melintang di dunia hiburan malam, kemarin.

Dengan sedikit tips Rp 50 ribu, biasanya staf hotel ini akan menghubungi cewek-cewek yang biasa check in atau orang yang kerap mengantarkan “ayam-ayam” ke hotel. “Mereka ini akrab dengan staf-staf hotel, apalagi receptionist-nya,” cetus dia.

Kenalan Surabaya Pagi lainnya juga punya pengalaman lain. Dia bisa mendapatkan gadis ABG dari cewek-cewek Bambu Runcing. Pria ini lantas menceritakan pengalamannya. Dua minggu lalu dia membooking cewek yang mangkal di Bambu Runcing dengan tarif Rp 300 ribu.

“Setelah check in, si cewek ini malah menawarkan temannya yang masih ABG. Cuma dia minta tambahan tips 100 ribu. Sedang cewek ABG itu dihargai Rp 300 ribu. Katanya cewek ini gak pakai mucikari, makanya harganya di bawah Rp 500 ribu,” cerita dia.

Tak berapa lama, si cewek tadi menelepon, selang 30 menit si ABG datang dengan naik taxi. “Saat itu saya check in di hotel di kawasan Pandegiling,” tutur sumber ini yang enggan namanya disebutkan.

Dalam catatan Surabaya Pagi, perdagangan cewek ABG di Surabaya ini mulai booming pada awal 2010. Saat itu memang sedang ramai-ramainya prostitusi lewat Facebook. Namun, Polrestabes akhirnya mengendus praktik trafficking ini. Tanggal 31 Januari, polisi menggerebek Hotel Malibu Jl Ngagel Surabaya. Saat itu, polisi menangkap Endry Margarini alias Vey (20), warga Dukuh Kupang Timur Surabaya, yang bertindak sebagai germo. Kemudian, Achmad Afif Muslichin (20), warga Candi, Sidoarjo sebagai penyalur (makelar atau pencari pelanggan). Mereka menjual ABG yang umumnya siswi SMA dengan tariff Rp 600 ribu-Rp 800 ribu.

Kasus ini terus berkembang, hingga sepanjang tahun 2010 sedikitnya terdapat kasus penjualan anak untuk pelacuran hingga 7 kali yang terungkap. Meski ditangkapi polisi, tetapi jaringan penjualan ABG terus berkembang hingga sekarang. Terakhir terungkap di hotel Palm Inn Jl Kencana Sari Timur X. Ironisnya, yang menjadi mucikari masih pelajar SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) di kawasan Surabaya Selatan, yakni Icha (15 tahun). Dia menawarkan temannya Vena (15 tahun) ke seorang pengusaha bernama Ari Hariyanto (43) alias Om Ari, dengan tarif Rp 500 ribu.

Menariknya, dari semua kasus trafficking ini dilakukan di hotel short time. Sementara pelanggaran lain di hotel kelas melati ini dengan banyaknya pasangan tak resmi yang berbuat mesum di hotel tersebut.

Menanggapi ini Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemprov Jawa Timur Djarianto, akan memberikan peringatan pada Disbudpar Kab/Kota yang membiarkan adanya penyalahgunaan hotel short time di daerahnya. Termasuk di Surabaya. Bukan hanya itu hotel yang kerap ndablek juga bisa diusulkan untuk dilakukan evaluasi terhadap perijinan hotel bersangkutan.

Kata Djarianto, jika memang informasi hotel-hotel short time ini yang kerap disalahgunakan sudah cukup meresahkan masyarakat, dia pun meminta agar Disparta kab/kota segera mengambil sikap. Mereka setidaknya harus melakukan pengecekan tentang informasi itu. "jika tetap dibiarkan kita (Disbudpar) akan beri peringatan," ujar Djarianto kemarin.

Lebih jauh kata dia, Disbudpar sudah melakukan kerja sama dengan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), kerjasama ini di antara memberikan wewenang untuk melakukan evaluasi terhadap hotel-hotel yang kerap menyalahgunakan. "Disbudpar Jatim kemudian PHRI dam Disbudpar Kab/kota bahkan juga berhak mengusulkan status hotel ke Gubernur untuk kemudian diteruskan ke pusat," tegasnya. n ma/arf

Berita lainnya
Perusahaan Dimerger, Karyawan Fina...
Jadi First Lady, Bagaimana Perasaa...
Kompol Simamora Berlebihan
KBS Tambah Bayi Anoa
Rekonstruksi Bethany Ricuh
Harta, Saiful Ilah - Sambari Berli...
Penataan Videotron Masih Rusak Lin...
Bapak Bethany Tersangka
Tokoh NU Juga Gundah Atasi FPI
Mau Lengser, SBY Unjuk Kekuatan
Buruh Minta Upah Naik 30%
Sukses Korban Lapindo Bisnis Pepay...
Pdt Aswin Dilawan
Gandeng Korsel, Produksi Pesawat T...
Pdt Aswin Mbalelo
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  112