menu.jpg
 
50 Pasangan Mesum Ditangkap

SURABAYA (Surabaya Pagi) – Meski dirazia berulangkali, praktik mesum di Pantai Ria Kenjeran (Kenpark) dan hotel short time di kawasan Kenjeran, Surabaya, masih terus berlangsung. Seperti razia yang dilakukan Minggu (5/5) dinihari. Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya dan Polres Pelabuhan Tanjung Perak, mengamankan sedikitnya 50 pasangan mesum. Ironisnya, sebagian besar pasangan mesum itu masih belia. Mereka tertangkap basah saat sedang bermesraan.

Informasi yang dihimpun, wisata Kenpark ini dikelola Setiadji Yudho, bos PT Granting Jaya. Pengusaha bermata sipit ini diketahui sebagai pelopor hotel short time di Surabaya, seperti Hotel Pasar Besar di Jl Pahlawan dan Hotel Mini di Kenpark. Namun dalam tiga tahun tahun terakhir, Setiadji Yudho membangun dua hotel kelas menengah atas. Yakni, Hotel Veni Vidi Vici (V3) di Jl Tambak Bayan dan Hotel Oval di Jl Diponegoro.

Namun, dua hotel terakhir disinyalir kerap dijadikan tempat prostitusi kelas atas. Hotel Oval merupakan lokasi awal terungkapnya kasus prostitusi online yang dijalankan Yunita alias Keyko dan rekan-rekannya. Kasus ini sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya. Sedang di Hotel V3 tak kalah heboh. Hotel ini digerebek Polres Pelabuhan Tanjung Perak saat membongkar kasus layanan seks secara live, pada April 2013 lalu.

Selain mengamankan pasangan medum, petugas Satpol PP juga menjaring sekitar 85 orang yang tidak dapat menunjukkan identitas, baik Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Ijin Mengemudi (SIM) maupun identitas lainnya. Selain pasangan ABG, juga terdapat beberapa pasangan yang sudah berumur.

“Razia ini tindak lanjut upaya penertiban adanya dugaan pelanggaran fungsi tempat wisata sebagai tempat yang tidak benar (mesum, red). Ternyata, dugaan itu benar. Kami mengamankan puluhan pasangan mesum dan tanpa identitas”, kata Kepala Satpol PP Irvan Widianto.

“Kami pastikan, akan terus menggelar operasi yustisi semacam ini guna mempersiapkan peringatan hari jadi Kota Surabaya 31 Mei mendatang,” lanjutnya.

Pantauan di lokasi, pasangan mesum itu tak menyangka jika akan ada razia. Begitu petugas datang, mereka tak sempat kabur. Dalam waktu kurang dari 30 menit, sekitar 100 personil terdiri dari petugas Satpol PP, Polres Pelabuhan Tanjung Perak dibantu Polisi Militer, berhasil menjaring sekitar 50 pasangan. Petugas sampai blusukan di tempat remang-remang, guna mencari pasangan mesum di Kenpark.

Selain di lokasi yang gelap karena tempat wisata ini tak diberi lampu penerangan, warung-warung di sana juga gelap. Tempat-tempat itulah yang digunakan pasangan yang berpacaran untuk berbuat mesum.

Tidak hanya lokasi wisata yang terkena sasaran razia. Pintu keluar masuk wisata Kenpark juga dijaga ketat oleh beberapa personil gabungan. Setiap kendaraan yang keluar dari kawasan wisata, diperiksa semuanya. Baik itu roda empat maupun roda dua.

AKP Supiyan, perwira Polres Pelabuhan Tanjung Perak yang ikut dalam razia mengungkapkan, razia ini digelar setelah pihaknya mendapat laporan masyarakat, bahwa Kenpark dijadikan tempat mesum. Bahkan, ditengarai dijadikan tempat praktek prostitusi terselubung. “Yang kami proses 35 pasangan mesum,” ungkap AKP Supiyan dihubungi Surabaya Pagi, Minggu (5/5).

Ia menambahkan, 35 pasangan mesum itu dibawa ke Mapolres Pelabuhan Tanjung Perak untuk diperiksa dan didata. “Mereka tidak bisa menunjukkan bukti jika mereka telah menikah,” ujarnya.

Berkedok Hotel Keluarga

Hotel short time terbilang cukup eksis, meski setahun terakhir ini banyak bermunculan hotel baru di kota Surabaya. Sayangnya, hotel-hotel tersebut kerap disalahgunakan sebagai tempat mesum, praktik prostitusi dan trafficking (perdagangan perempuan). Lalu, hotel short time mana yang paling laris?

Menurut pengunjung banyak sekali hotel yang berkedok hotel keluarga, tapi menyediakan kamar dengan tarif short time. “Saya lebih enak bermalam di hotel short time karena harga lebih murah dan pelayanannya sama dengan yang sewa full time. Cuma bedanya kalau short time hanya 6 – 8 jam,” ujar Budi (nama disamarkan) ditemui di Hotel Pitstop, Jl Semut Kali Baru, Surabaya, kemarin (5/5).

Hotel Pitstop sendiri beberapa kali diketahui menjadi lokasi prostitusi dan trafficking. Seperti terbongkar September 2012 lalu. Saat itu Polrestabes Surabaya menangkap Ayu, warga Banyu Urip, yang melibatkan anak-anak di bawah umur untuk ‘dijual’ ke pria hidung belang. Terbaru, Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang tercatat anggota DPRD Kabupaten Sampang, Mochammad Hasan Ahmad alias Ihsan (44), juga ditangkap di Hotel Pitstop, 8 April lalu. Ia kini ditahan di Polrestabes Surabaya karena diduga mencabuli 9 gadis dengan modus nikah sirri.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kurang lebih ada 60 – 70 persen hotel di Surabaya ini menyediakan fasilitas sewa kamar dengan tarif setengah harga dan lama bermalam antara 6 – 8 jam. Data yang dihimpun Surabaya Pagi, sedikitnya ada 86 hotel melati atau hotel short time di Surabaya. Di hotel kelas melati ini lah kerap diberlakukan sebagai hotel transit alias hotel short time. Yang cukup mengejutkan, dari sekian banyak hotel short time ini, ternyata sebagian besar dimiliki oleh dua pengusaha besar. Yakni, Setiadji Yudho, bos PT Granting Jaya, pengelola Pantai Ria Kenjeran.

Dari beberapa kawasan yang sering menjadi langganan pengunjung adalah Hotel Pasar besar, hotel di dalam kawasan Pantai Ria kenjeran(Ken Park), hotel Pit Stp, hotel Istana Permata di Jl. Dinoyo, Ngesong dan Ngagel. Tarif hotel short time di kawasan tersebut variatif antara Rp 30.000 s/d Rp 150.000. Tarfi ini jauh dari standart hotel untuk sewa full time.

“Meski saya sering bermalam dengan pasangan saya di beberapa tempat, yang paling sering yaitu di kawasan Pantai Ria Kenjeran tepatnya di Mini Hotel dan Hotel Sirkuit,” cetus Saman, salah satu pengunjung.

“Karena di hotel tersebut harganya sangat murah ketimbang hotel short time yang ada diluaran sana (di luar Ken Park), ya kurang lebih antara Rp 30.000 s/d Rp 60.000,”tambahnya.

Menurut informasi, hotel-hotel short time tersebut hanya menyediakan tempat penginapan saja. Kalaupun para tamu hotel menginginkan teman bermalam (wanita panggilan), ada beberapa oknum yang mampu menjadi mediator untuk mendatangkan wanita tersebut.

Bukan Anggota PHRI

Menanggapi ini, Atmantoro dari PHRI (Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia) Jatim mengatakan, seringkali hotel jenis short time ini disalahgunakan sebagai tempat prostitusi, trafficking hingga peredaran narkoba. Ia menegaskan, hotel short time tak masuk dalam keanggotaan PHRI. “Sistem yang mereka terapkan berbeda dengan hotel yang kebanyakan ada. Seperti pembatasan jam sewa hanya 6 jam dan lainnya. Padahal umumnya hotel adalah 24 jam. Andai sistemnya normal, ada kemungkinan bisa masuk ke anggota PHRI,” katanya dalam satu kesempatan.

Meski demikian, ia mengakui bisnis hotel short time memang menjanjikan. Itu terbukti dari animo masyarakat yang antusias dengan keberadaan hotel tersebut. Tak heran jika tingkat okupansinya bisa sampai 300 persen per hari. Sementara investasi untuk mendirikannya terbilang cukup terjangkau. “Untuk mendirikan hotel sekelas melati, mungkin hanya butuh investasi ratusan juta rupiah saja. Padahal untuk hotel bintang tiga, butuh sekitar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta untuk satu kamarnya,” tambahnya.

Keterjangkauan modal untuk hotel short time tersebut kata dia, diperkirakan akan bisa balik modal kurang dari 5 tahun. Mengingat hotel ini masih tinggi tingkat okupansinya. Sementara untuk modal membuat kamar hotel bintang tiga, baru bisa kembali 10-15 tahun kemudian.

Pemilik Hotel Bisa Ditahan

Pemkot Surabaya melalui Satpol PP yang merazia pasangan mesum dinilai sia-sia. Pasalnya, institusi yang dipimpin Tri Rismaharini ini tidak tegas menindak pemilik dan pengelola hotel short time, yang memberi peluang praktik mesum.

"Perdanya sudah ada, tinggal bagaimana sistem kontrol yang harus dilakukan Pemkot. Tapi kontrol itu belum sepenuhnya dijalankan," kata Reni Astuti, anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Surabaya, kemarin (5/5), menanggapi razia mesum di Kenjeran yang dilakukan Satpol PP.

Ia mencontohkan razia yang sama beberapa hari lalu. Kebanyakkan yang tertangkap rata-rata berusia 18 tahun atau seusia anak SMA. Tarif murah yang bisa dijangkau oleh anak-anak SMA, itulah yang mempermudah mereka berbuat mesum. Pengelola hotel sendiri tak pernah menyeleksi tamu-tamunya, apakah masih pelajar atau tidak.

"Selain tempatnya (hotel, red) murah, kontrolnya juga tidak ketat, sehingga terkesan menyedia tempat bagi para anak-anak muda untuk berbuat hal-hal yang melanggar norma-norma agama (mesum, red)," ungkap Reni yang juga anggota komisi C.

Selain kontrol yang lemah, lanjutnya, Pemkot harusnya memperketat ijin hotel-hotel short time. Dengan adanya hotel short time yang semakin marak di Surabaya, dampak negatifnya sangat banyak daripada positifnya. Selain memicu kejahatan trafficking dan seks bebas, tentunya berdampak pada penyakit HIV/AIDS. "Di surabaya, para penderita HIV ini usia muda yakni 17 - 30 tahun dan rata-rata anak SMA," beber Reni.

Untuk itu, lanjutnya, Pemkot mencabut ijin operasional hotel jika terbukti membiarkan praktik prostitusi di sana. “Kalau memang kesalahannya sudah berulang kali dan sudah melampui batas, ditutup saja,” tandasnya.

Sebelum ini, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Tri Maryanto pernah memberikan atensi pada maraknya prostitusi yang melibatkan anak-anak di bawah umur. Menurut Tri, menjamurnya prostitusi, karena banyak hotel short time yang menjadi tempat eksekusi prostitusi.

Menurut Tri, pemilik hotel bisa dipidana jika kedapatan menerima tamu yang terbukti terjadi tindak pencabulan di sana. "Pemilik hotel bisa juga bisa ditahan, karena telah menyediakan fasilitas untuk tindakan cabul," kata Tri (21/9/2012). Pemilik hotel bisa diproses, berdasarkan pasal 296 KUHP. "Ini untuk efek jera mereka," tandasnya. n cr1/bkr/rzl/bi

Berita lainnya
Pelapor Ingin Tegakkan Hukum sampa...
Hotel Best Zodiak Digrebek Lagi
Ibu Korban Marah, Terdakwa Cabul D...
Majikan Keji Ajukan PK
Selundupkan Narkoba, WNA China Ter...
Buang Hajat, Sopir Lyn Tewas Tengg...
Budak Narkoba Diserahkan ke Sidoar...
Dilindas Truk, Pengendara Motor Te...
Lamaran Ditolak, Carok Calon Mertua
Ugal-Ugalan, Pick Up Tabrak Pasutri
Lecehkan Istri Adinata, Tetanggany...
Giliran Hotel Palm Inn, Digerebek
Ngaku Kabag Humas, Tipu Puluhan PNS
Bandar Sabu Dijerat Pasal Rehab
Embat Motor, Buronan Dibekuk
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  71