menu.jpg
 
Heboh, Arisan Seks Arek SD

SURABAYA (Surabaya Pagi) – Menjelang perayaan tahun baru, Jawa Timur dihebohkan lagi kasus arisan seks yang dilakukan siswa Sekolah Dasar (SD). Ini lebih heboh dari sebelumnya, arisan seks pelajar SMA di Situbondo, awal Desember lalu. Sejumlah tokoh masyarakat yang dihubungi Surabaya Pagi, Jumat (28/12), kaget bukan kepalang mendengar berita itu. Meski kejadiannya di Kediri, tapi fenomena seks bebas ini bisa merembet ke daerah lain. Terutama Surabaya dan sekitarnya, mengingat gaya hidup pergaulan bebas remaja di kota ini sudah jamak terjadi.

Orang tua mana yang tidak was-was, jika anaknya yang masih bau kencur terlibat pergaulan bebas. Tapi fakta menunjukkan, pengawasan orangtua yang kurang kerap menjadi faktor si anak terseret pergaulan bebas itu. Ironisnya, pelajar SD pun sudah berani melakukannya. Bahkan, berani berhubungan intim dengan pekerja seks komersial (PSK)

Temuan adanya seks bebas di kalangan siswa SD ini diungkapkan Hj. Ike Firdasari, ketua Persatuan Waria Kediri. Menurutnya seks bebas tersebut dilakukan oleh 6 pelajar SD di area Gelanggang Olah Raga Jaya Baya di Kelurahan Banjar Melati Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Gilanya lagi, seks bebas tersebut dilakukan secara beramai ramai bergiliran 6 orang.

”Istilahnya bisa dikatakan salome (Satu lubang rame-rame, red), mereka melakukanya tidak hanya bersama PSK, melainkan juga sama waria. Saat berhubungan mereka dalam kondisi mabuk,” ungkap Hj Ike di sela-sela acara refleksi akhir tahun Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kota Kediri, Jumat (28/12).

Ike juga mengaku mengenal dan tahu identitas serta tempat tinggal, salah satu pelajar yang dimaksud. Saat melakukan seks bebas, keenam pelajar SD ini tidak dimintai uang sepeser pun oleh PSK dan waria yang diajaknya melakukan hubungan badan.

Melihat kondisi seperti itu, Hj. Ike merasa miris. Karena itu, ia meminta petugas Satuan Polisi Pamong Praja berkordinasi dengan Aparat Kepolisian berperan aktif sesering mungkin melakukan razia di sejumlah tempat hiburan dengan sasaran pelajar.”Jangan salahkan PSK atau waria saja. Tapi peran serta orang tua juga lebih penting. Kalau sudah begini terus,” cetus dia.

Testimoni Hj Ike soal anak SD arisan seks dengan hadiah PSK ini, mengagetkan sejumlah kalangan. Anggota DPRD Jawa Timur langung merespon temuan itu yang sudah di luar batas kesusilaan. “Kita semua pasti kaget mendengar anak SD sudah melakukan arisan semacam itu,” ucap Sabron Djamil Pasaribu, ketua Komisi A DPRD Jatim.

Politisi yang berangkat dari dapil Kediri-Tulungaung ini mengaku akan menindaklanjuti temuan tersebut dan mengecek ke lapangan. Jika benar hal tersebut terjadi, harus ada penangangan yang serius. Baik itu dilakukan oleh aparat, guru sekolah yang bersangkutan, tokoh masyarakat setempat dan yang terpenting adalah dari keluarga masing-masing siswa SD tersebut. “Ini pasti karena pergaulan dan pengaruh pergaulan bebas yang seharusnya tidak diterima oleh pelajar sekecil mereka, jadi harus segera ada penanganan serius. Terutama dari sisi agama,” harap Sabron.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur tak kalah kaget. Sekretaris MUI Jatim, M Yunus menegaskan kejadian itu tidak bisa dibiarkan. Menurutnya, arisan seks pelajar SD itu harus menjadi masukan pemerintah untuk serius menggenjot program pengentasan PSK. "Kejadian ini sangat kita sayangkan, kita akan turun untuk mengimbau semua sekolah agar lebih jeli dalam menangani fenomena seperti ini," tandas Yunus dihubungi secara terpisah, kemarin.

Ustadz Yunus, demikian ia akrab disapa-- menambahkan fenomena ini bukan merupakan kegagalan pemerintah dalam mengentas PSK. Namun ia melihat bahwa ini merupakan suatu keberhasilan, karena modus kejahatan seksual makin terungkap.

Kalangan DPRD Kota Surabaya juga ketar-ketir. Pasalnya, seks bebas seperti itu sebenarnya telah terjadi lama di kalangan remaja Surabaya. Apalagi, laporan yang masuk di Polrestabes Surabaya, banyak anak SD yang menjadi korban pencabulan di kalangan pelajar SMP/SMA. “Perda nomor 16 tahun 2012 tentang pendidikan sudah keluar, namun tidak memberikan instruksi kepada orang tua untuk memberikan batas – batas kepada anaknya wajib belajar sehabis maghrib. Untuk itu saya mendesak supaya walikota mengeluarkan perwali itu, agar seks pelajar SD di Kediri itu tidak merembet ke Surabaya. Apalagi akan ada perayaan tahun baru,” papar Baktiono dari Komisi D DPRD Kota Surabaya.

Pria yang sudah tiga kali duduk sebagai wakil rakyat ini juga meminta kepada Kasatpol PP mengkontrol tempat hiburan umum, mall dan tempat strategis lainnya yang biasanya dibuat tempat bolos para siswa. “Pihak sekolah juga harus lebih mendisplikan anak didiknya. Kalau perlu kasih tambahan kurikulum yang mengajarkan soal budi pekerti,” ujar politisi PDIP ini.

Karena Libido Tak Tersalurkan

Bagong Suyanto, sosiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menilai “arisan seks" seperti yang baru-baru ini terbongkar di kalangan pelajar akibat kuatnya dua pengaruh perubahan yang ada di tiap diri remaja. Pertama, pengaruh perubahan permisif seiring dengan bertambahnya usia menuju kedewasaan. Kedua promiskuitas, yakni hasrat ingin menyalurkan seks dengan siapapun tanpa menempuh ikatan resmi atau perkawinan.

"Dua gejolak itu yang tidak tersalur dengan wajar. Tidak seperti remaja zaman dahulu, saat menginjak dewasa meraka menikah atau dikawinkan," kata Bagong.

Perilaku yang terjadi itu indikasi permisif yang makin kelihatan. Mereka tengah berada di rentan waktu menunggu libido. Dan bahayanya jika tidak tersalur dengan benar melalui ikatan pernikahan. Sementara jalan yang dilakukan disebut promiskuitas, yakni mencari jalan keluar melalui relasi. Dalam hal ini PSK, karena tidak ada ikatan emosional. "Menggunakan jasa PSK, menurut mereka itu yang bisa dilakukan. Karena tidak ada ikatan emosional, setelah selesai ya sudah," jelasnya.

Hal lain yang menjadi sorotan, lanjut Bagong, karena saat ini kontrol masyarakat semakin longgar. Diumpamakan oleh Bagong, saat ini tidak seperti dulu. Kalau ada orang yang tidak melakukan salat, orang sekampung pasti tahu. "Saat ini, warga tidak lagi peduli dengan apa yang dilakukan orang lain. Termasuk tetangga, meski berdekatan," ucapnya.

Daniel M Rasyid, anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur menambahkan, kasus terjadinya “arisan seks” tidak terlepas dari ketidakpedulian orangtua siswa, lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah terhadap jaminan masa depan generasi bangsa. Karena itu, “arisan seks” baik terjadi di kalangan pelajar Situbondo maupun pelajar SD Kediri, merupakan krisis besar di dunia pendidikan. " Masalah ini seperti gunung es yang harus segera dipecahkan," cetus Daniel.

Ia menyebut, saat ini, sekolah bukan lagi tempat murid belajar, melainkan hanya tempat para guru mengajar. "Artinya dunia pendidikan formal tidak sepenuhnya memberi pendidikan moral. Tapi hanya mengajarkan pelajaran-pelajaran secara tex book. Mengajarkan materi-materi untuk ujian saja," papar dosen Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) itu. n rko/arf/bi/sn/mik

Berita lainnya
Perusahaan Dimerger, Karyawan Fina...
Jadi First Lady, Bagaimana Perasaa...
Kompol Simamora Berlebihan
KBS Tambah Bayi Anoa
Rekonstruksi Bethany Ricuh
Harta, Saiful Ilah - Sambari Berli...
Penataan Videotron Masih Rusak Lin...
Bapak Bethany Tersangka
Tokoh NU Juga Gundah Atasi FPI
Mau Lengser, SBY Unjuk Kekuatan
Buruh Minta Upah Naik 30%
Sukses Korban Lapindo Bisnis Pepay...
Pdt Aswin Dilawan
Gandeng Korsel, Produksi Pesawat T...
Pdt Aswin Mbalelo
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  127