menu.jpg
 
3 Golongan Orang Berhaji ke Baitullah

Jemaah haji Indonesia reguler sudah mulai kembali ke tanah air. Diperkirakan kloter (kelompok terbang) terakhir meninggalkan Makkah, 10 Desember mendatang. Wartawan Surabaya Pagi yang mengikuti ibadah haji tahun 1432 Masehi (2011) ada dua orang, H. Tatang Istiawan (haji yang kedua) dan H. Raditya Moammer Khadaffi (haji yang pertama). Laporan Haji sudah disampaikan oleh H. Raditya M. Khadaffi, sampai prosesi haji selesai Minggu yang lalu. Mulai Senin (21/11) hari ini dilanjutkan dengan catatan haji berupa pandangan, pendapat dan kajian yang semuanya merupakan penafsiran-penafsiran ritual berhaji. Dilengkapi kritik dan saran terhadap penyelenggaraan haji Indonesia oleh H. Tatang Istiawan, dalam beberapa tulisan. Berikut catatan pertamanya dari Makkah.

"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (Al Hajj 22:27).

Seruan nabi Ibrahim dalam Al Qur'an tersebut mengandung makna ajakan kepada setiap umat Islam untuk meninggalkan rumah, kekayaan, kampung halaman, tempat usaha dan jabatan di negerinya untuk "menemuiNya". Ada ulama yang berpendapat berhaji ibarat "belajar mati". Artinya secara individual, saat menjalankan ibadah haji, setiap calon jemaah haji (calhaj) sudah siap dipanggil Allah sesungguhnya. Oleh karena itu, calon jemaah haji yang meninggal saat berhaji di tanah suci selalu "dihormati" oleh semua jemaah haji se dunia, yaitu terhadap jenazahnya dilakukan shalat gaib di Masjidilharam atau Masjid Nabawi dan dijanjikan masuk surga.

Dr. Ali Syariati, ulama besar Iran menyebut menjalankan rukun Islam kelima adalah atas undangan Allah. Maksudnya, berhaji adalah pra-kondisi sebelum mati (yang akan menimpa setiap manusia). Bagi Ali Syariati, haji adalah perjalanan kehidupan, perjalanan totalitas diri, yaitu sebuah perjalanan suci atas undangan Allah SWT.

Menurut tafsir Al Qur'an dan hadits, literatur dan pengalaman empirik menjalankan ibadah haji reguler dan umroh, orang berhaji sedikitnya terdiri tiga golongan. Pertama, berhaji, karena keinginan. Kedua, berhaji karena harapan dan ketiga, berhaji, karena kebutuhan. Berhaji karena keinginan biasanya ditempuh oleh mayoritas umat Islam di perkotaan. Ciri-ciri mereka menunaikan rukun Islam kelima, karena memiliki dana yang cukup. Motifnya lebih cenderung menempuh perjalanan ritual ke Baitullah (rumah Allah) ingin mewujudkan status sosial keislamannya di lingkungan sosialnya (komunitasnya).

Berhaji, karena harapan dilakukan oleh guru ngaji, guru madrasah, pengasuh pondok pesantren, dan kaum muslim di pinggiran kota dan pedesaan. Ciri-cirinya ilmu keagamaannya sudah mendalam. Filosofi dan makna berhaji yang disunnahkan Rasulullah pun sudah diperoleh sejak di pondok pesantren maupun bangku sekolah dan madrasah. Hanya karena masalah biaya perjalanan haji, mereka harus menabung sedikit demi sedikit dan bahkan ada yang sangking berharap, baru pada usia senja menjual sawah dan tanahnya untuk menutupi tabungannya yang tidak cukup membayar ONH (ongkos naik haji) yang ditetapkan pemerintah. Sedangkan berhaji karena kebutuhan.

Ciri-ciri mereka meliputi tokoh dan pemuka agama yang sosial ekonominya memadai, pengusaha yang sehari-hari menjalankan bisnisnya dengan jujur, pejabat negara yang tidak pernah korupsi. Profesional dan anak muda yang ingin meningkatkan ketauhidan sekaligus akhlaknya. Pensiunan yang sejak awal dikenal oleh lingkungannya pemeluk islam yang taat sekaligus memiliki tabungan untuk naik haji. Dan istri pejabat, pengusaha dan profesional yang sejak awal sudah aktif di pengajian untuk mensupport suaminya agar selalu menjalankan amar mahruf nahi munkar.

Tentu dari tiga golongan orang berhaji tersebut memiliki motif yang tidak bisa sama. Artinya, pelajaran manasik haji (input) sama-sama diperoleh (dari buku tuntutan) maupun diberikan oleh KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) oleh setiap calon jamaah haji (calhaj). Tapi hasil (result) dan perilaku orang haji (output) yang didapat selama menjalankan ibadah haji di tanah suci maupun setelah pulang haji bisa tidak sama. Mengapa? Ibadah haji adalah perjalanan menunaikan rukun Islam yang kelima secara individual. Oleh karena itu, bisa terjadi output setelah perjalanan haji yang dijalankan oleh sepasang suami istri yang sama-sama berhaji dalam satu regu, satu rombongan dan satu kloter, bisa berbeda. Terutama dalam mengimplementasikan makna dan nilai haji sehari-hari, pasca berhaji.

Tafsir, hadits, pengalaman empirik dan sejumlah literatur menunjuk pada kualitas individu calhaj. Seperti pengalaman haji saya yang pertama pada tahun 1988, hasil yang saya peroleh berbeda dengan pengalaman haji saya yang kedua tahun 2011. Tahun ini saya berhaji dengan istri dan anak-anak dengan biaya sendiri hasil menabung dan antri di Kementeriaan Agama sejak tahun 2008. Sedangkan perjalanan haji saya pada tahun 1988 saya menemani ayah kandung saya dengan atas biaya dinas (Abidin).

Hasil yang saya peroleh tahun itu, saya lebih mengarungi ritual haji. Predikat haji mabrur, jujur, hanya saya "nikmati" selama dalam perjalanan haji dan doa dari keluarga beserta teman-teman sebelum berangkat haji. Setelah pulang haji, saya belum mewujudkan makna kemabruran. Shalat saya masih bolong-bolong. Nilai-nilai Ketauhidan masih jauh dari sunnah rasulullah. Apalagi akhlak yang disunnahkan oleh rasul dan para sahabatnya belum saya implementasikan.

Berbeda dengan perjalanan haji kedua ini, saya benar-benar merasa sebagai muslim telah mendholimi diri saya sendiri. Perjalanan haji ke tanah suci, termasuk ziarah-ziarah (berkunjung) ke tempat peradaban manusia sejak nabi Adam hingga nabi terakhir, Muhammad SAW, benar-benar saya dalami dan hayati. Ternyata selama ini, meski saya sudah berhaji, saya belum masuk dalam kategori umat Islam yang mensyukuri nikmatNya. Saya belum banyak mencontoh dan mengimplementasikan sunnah rasul, baik dalam berturut maupun bersosialisasi.

Berhaji yang kedua kali ini, saya merasa kecil, kecil dan kecil dibandingkan dengan masa perjuangan nabi Adam, Ibrahim, istri dan anaknya Ismail serta Nabi Muhammad SAW. Maksudnya sebagai manusia biasa yang bukan nabi, saya, tidak harus berperilaku dan bertutur seperti para nabi yang menanamkan peradaban pada setiap manusia. Sebagai manusia biasa, saya belum mensyukuri dan menjalankan perjuangan sesungguhnya seperti yang dijalani oleh para nabi-nabi tersebut.

Di Arafah, Muzdalifah, Mina dan Baitulah, saya menemukan "gambaran peradaban makhluk ciptaan Allah" yang sebenarnya dapat dijadikan sebagai eksistensi setiap haji yang ingin diakui kemabrurannya (mabrur yang seharusnya yaitu mabrur yang dibutuhkan setiap muslim yang sudah mampu membayar ONH tidak harus ONH plus).

Tempat-tempat suci bagi kaum muslim tersebut punya nilai religius yang tinggi manakala ditambah tempat-tempat ziarah di Makkah dan Madinah. Perjalanan ibadah haji reguler selama 41 hari (berbeda dengan calhaj ONH plus yang menang fasilitas selama di tanah suci dan percepatan pulang ke tanah air) kali ini benar-benar telah memberi makna soal alam, monumental dan nilai-nilai perjuangan manusia yang menjalankan perintah Allah SWT serta eksistensi dan keesaan Allah SWT. (Bersambung/tatangistiawan@gmail.com)

Berita lainnya
Hari Ini, 89 Ribu Pemudik Serbu Pu...
Pentingnya Kebersamaan dan Gotong ...
Pemudik Padati Tanjung Perak
Mantan Pangdam Brawijaya, Kasad
Terminal Purabaya Mulai Dipadati P...
KASAD Dicopot Mendadak
Foto Mesra Briptu Eka Beredar, Bik...
Arek Surabaya Jadi Korban MH17
Risma Ancam Alim Markus
Alim Markus Ingkari Perjanjian
Kecam Israel, HMI Jatim Luruk KFC ...
Waspadai Jalur 'Black Spot'
Mau Kaya, Jangan Jadi Dokter
Dibuka Sore Ini, Kampoeng Sholawat...
Pocong, Genderuwo , Wewe Gombel Un...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  56