menu.jpg
 
Hindari Razia, Tamu Datang Lebih Awal ke Panti Pijat Plus

Menjelang puasa Ramadan, Kepolisian Surabaya mulai mengobok-obok panti pijat (PP). Sebab, tempat ini dijadikan kedok untuk praktik prostitusi. Tentu saja, ini membuat was-was para therapist (cewek pemijat) maupun tamu yang ingin menikmati layanan plus di tempat pijat. Bagaimana mereka menyiasatinya?

Sial menimpa Panti Pijat “Timung Anugerah” di kompleks Ambengan Plaza, Jalan Raya Ambengan Surabaya. Sebab, ini tempat ini Polsekta Genteng memergoki seorang pemijat dan tamunya sedang berbuat mesum pada Rabu (4/8) sekitar pukul 18.00 WIB. Padahal, sebelumnya saat Polsekta Genteng merazia Kartika Massage dan Srikandi Massage yang satu lokasi dengan Timung, tak ditemukan perbuatan mesum di dua tempat itu.

Tak ayal, Timung Anugrah ditutup paksa oleh polisi. Sedang, cewek pemijat dan tamunya terpaksa berurusan dengan polisi. Bahkan, 6 wanita pemijat lainnya juga sempat diperiksa dan dikenai wajib lapor.

Dari kejadian ini, Surabaya Pagi melakukan investigasi ke panti pijat yang diindikasi menyediakan layanan plus (seks). Yakni, di PP “Bu Mamiek” Bratang dan PP “Pattaya-16” Jl Barata Jaya. Ternyata, dua tempat ini masih memberi layanan plus. Hanya saja, mulai ada perubahan perilaku. Cewek pemijat di sana mengaku ketar-ketir karena takut kena razia. Sebab, menjelang puasa ini polisi sering menghampiri tempat kerja mereka.

“Asline yo takut mas, nek ada razia. Sampean yo ngerti dewe lah, tempat di sini kan seperti ini. Tapi, ya opo maneh, kita cari uang. Puasa kan libur,” tutur seorang therapist Pattaya.

Rupanya kehawatiran juga dirasakan para tamu. Namun, mereka punya siasat tersendiri. Apa itu? Mereka datang ke panti pijat lebih awal dan menghindari hari Sabtu dan Minggu. Saat itu, Surabaya Pagi mendatangi dua tempat itu pada siang hari sekitar pukul 11.30. Begitu masuk, sejumlah therapist sudah siap melayani tamu yang datang. Mereka duduk-duduk di ruang kaca, menunggu dibooking.

Setelah diamati lebih seksama, ternyata therapist- therapist¬¬¬¬ lainnya sudah melayani tamu di lantai 2. Ini tidak seperti biasanya. Sebab, ramai-ramainya panti pijat ini pada sore hari atau setelah waktunya jam pulang kerja. “Nek pagi gini malah lebih aman mas. Razianya kan siang atau sore,” cetus therapist yang mengaku asal Blitar ini.

Kondisi di PP “Pattaya-16” dan PP “Bu Mamiek” tak jauh beda, sama-sama memberi layanan plus (seks). “Nang endi ae yo podo ae mas. Tapi, di sini (PP Bu Mamiek) yang penting pijetnya. Nek gini itu selingan,” ucap therapist PP “Bu Mamiek” sambil menunjukkan jarinya tanda making love (ML).

Cewek yang mengaku asal Bojonegoro ini juga ketar-ketir jika mendekati puasa Ramadan ini. Apalagi, lokasi pijetnya dekat Mapolsekta Gubeng. Tapi, dia mengaku pasrah. “Beno ae lah, iki yo golek mangan,” aku therapist yang mengaku punya satu anak ini.

Mengenai tarif, dua tempat ini hampir sama. Jika pijat saja hanya Rp 60 ribu di PP Bu Mamiek. Jika ingin tambahan layanan plus, tamu harus menambah Rp 200 ribu. Sedang di PP Pattaya, Rp 70 ribu untuk pijat dan layanan tambahan juga Rp 200 ribu. n

Berita lainnya
KA Jakarta - Malang, Ada Khusus Di...
BPJS Percepat Kepersertaan PNS
Bude Minta Filosofi Batik Diperta...
Ratusan Prajurit TNI Naik Pangkat
Periksa Hewan Kurban
7 Kapolres Digeser
Bikin Ribuan Lubang Resapan Biopori
Cegah Penularan Wabah Kolera, Pela...
Pakde Ubah Nama RS Kusta dan RS Pa...
Donor Darah HUT Lantas
Permintaan Sapi Qurban Meningkat
Target Pembangunan Embung Masih Se...
Warga Simo Keluhkan Layanan PDAM
Tahun ini KPP terima 530 Pengaduan
Amankan Mapolsek, 7 Babinsa Kangea...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  69