menu.jpg
 
Tempat Dugem Tutup, Main di Karaoke atau Hotel

Bulan puasa Ramadhan menjadi bulan yang berat bagi para perempuan pekerja malam. Pasalnya, selama bulan itu kegiatan bisnis di diskotik, panti pijat, klab malam dan karaoke dewasa wajib tutup. Lalu dari mana mereka mengais uang untuk keperluan sehari-hari? Sejumlah purel, therapist hingga pekerja seks komersial curhat ke Surabaya Pagi. Berikut ini laporannya.

Sebagaimana tercantum dalam Perda Kota Surabaya No. 2 Tahun 2008 tentang Kepariwisataan bahwa selama bulan Ramadhan dan malam Hari Raya Idul Fitri, kegiatan usaha Diskotik, Panti Pijat/Massage, Kelab Malam, Karaoke Dewasa dan Pub/Rumah Musik diwajibkan menghentikan kegiatan.

Sedang untuk rumah biliar dilarang membuka kegiatan usahanya, kecuali digunakan untuk tempat latihan olah raga serta mendapat rekomendasi dari KONI Surabaya berdasarkan usulan dari Persatuan Olah Raga Bola Sodok Seluruh Indonesia (POBSI) Surabaya. Sementara untuk pertunjukan bioskop dilarang memutar film mulai pukul 17.30 wib (waktu salat magrib/berbuka puasa) hingga pukul 20.00 wib (waktu salat Isya/Tarawih).

Selain itu, kegiatan lokalisasi PSK di Surabaya harus dihentikan. Bagi pengusaha hotel, bar dan restoran juga tidak diperkenankan menjual minuman-minuman beralkohol.

Tentu saja ini membuat kelimpungan para pekerja malam. Khususnya cewek-cewek malam yang hanya mengharapkan uang dari sejumlah relasi atau tamu. Nah, sekarang ini puasa tinggal 12 hari lagi. Dalam kurun waktu itulah, mereka kerja keras agar mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara.

Reva, purel freelance di sebuah karaoke di Surabaya Barat, mengaku cukup berat mendapatkan uang jika bulan puasa. Namun, bukan berarti tidak ada peluang. Sebab, karaoke keluarga seperti NAV dan Happy Puppy masih buka. Bahkan, ada juga klab malam yang nakal, tetap buka di bulan puasa.

Selama tempat-tempat itu masih buka, peluang mendapatkan uang tetap ada lah. Cuma harus pintar-pintar aja. Sebab, pasti sewaktu-waktu ada razia dari Satpol PP atau Polisi, ungkap wanita asal Malang yang ngekos di daerah Wonorejo.

Yang biasa ia lakukan, dirinya akan proaktif untuk menghubungi relasi-relasinya, baik SMS atau menelepon langsung. Mereka (om-om pria hidung belang, red) pasti butuh kita juga di saat banyak tempat hiburan yang tutup. Kalau ada peluang, hampir bisa dipastikan akan mengajak kita keluar, beber wanita berusia 23 tahun ini.

Pengalaman dia, banyak diantara relasinya yang mengajak check in di hotel. Lantaran butuh uang, Reva mau-mau saja, asal bayarannya cocok. Biasanya dia minta bayaran Rp 500 ribu-750 ribu untuk short time. Hanya saja, dia menolak jika diajak check in di hotel short time. Pasalnya, hotel kelas itu kerap jadi objek razia. Daripada di hotel melati mending di kos-kosan aja, lebih aman, tukasnya sembari tertawa.

Sementara itu, Kepala Bakesbang Linmas Kota Surabaya Soemarno meminta agar para pelaku bisnis hiburan mematuhi aturan yang telah disepakati. Apabila melanggar, tempat hiburan tersebut langsung di-BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dan ditutup saat itu juga," ujar Soemarno, Senin (18/07). "Jika BAP-nya sudah 2 kali, ijin usahanya langsung dicabut," tandas dia. n tim

Berita lainnya
Stadium Masih Nekat Buka
Ada Tarian Erotis, Heaven Akan Dis...
Dugem Stadium Ditutup, Heaven Dibi...
PSK Online Berstatus Mahasiswi dan...
Prostitusi Untuk Pejabat
Model Rp 25 Juta
"Enak Kerja Sendiri, Semuanya Masu...
MUI Minta NAV-Hotel ‘Maumu’ Di...
Ditangkap, Purel NAV dan Hotel “...
Karaoke NAV dan Hotel ‘’Maumu...
Ada Karaoke Plus Hotel Short-Time
Bos Karaoke ‘Kibuli’ Pemkot
Surabaya Kota Maksiat
10 Tahun Jadi Lesbi, Kini Nani Dij...
Diperlakukan Kasar, Vicky Jadi Les...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  119