menu.jpg
 
Peran Islam dalam Kemerdekaan Indonesia

HEMPASAN aksi-aksi teror bom, merebaknya isu Negara Islam Indonesia (NII) KW-9, dan berlakunya syariat Islam di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) seakan menjadi petanda pengingat bahwa Islam ‘mengkhianati’ asa kemerdekaan bersama dalam ikat-pedoman Pancasila dan UUD 1945.

Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-66 tahun ini bersamaan datangnya dengan bulan suci Ramadhan. Ketepatan tersebut mengingatkan kembali betapa proklamasi kemerdekaan negeri ini di tahun 1945 juga dibacakan oleh Soekarno-Hatta saat bulan Ramadhan. Dua momentum tersebut menggoda untuk menjadi nasionalisme bangsa ini.

Tentang kemerdekaan dan penjajahan, telah dinyatakan secara tegas dalam UUD ’45, yaitu “Bahwa kemerdekaan itu hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Ternyata penjajahan merupakan perilaku yang sangat bertentangan dengan kemanusiaan dan perikeadilan, sebab kaum atau bangsa yang terjajah, mereka terampas segala haknya, baik hak atas ekonominya, atas tanah dan tempat tinggalnya, hak menjalankan syari’at agamanya maupun hak atas kepemerintahannya. Mereka hidup tertindas hingga tiada batas.

Gambaran ketertindasan di masa penjajahan itu dapat kita lihat pada apa yang telah dialami oleh orang-orang tua kita dan nenek moyang kita dahulu. Mereka dirampas tanah atas dan tempat tinggalnya, dipaksa kerja rodi bertahun-tahun untuk kepentingan kaum penjajahan, kaum wanitanya banyak yang dinodai kesuciannya dijadikan pemuas nafsu kaum penjajah, dan dari perspektif religia mereka dibatasi menjalankan syari’atnya, hanya terbatas pada ritualnya semata.

Perbuatan kaum penjajah benar-benar keluar dari batas perikemanusiaan dan perikeadilan. Maka terhadap kaum penjajah yang telah merampas hak dan menindas itu, Islam mengizinkan kepada umatnya agar memerangi mereka untuk membela diri dan menuntut hak-haknya. Dalam hal membela diri dan menuntut hak, Allah Swt berfirman :”Dan perangilah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu, dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan”. (Q.S. al-Baqarah, 2: 191)

Berpijak pada kesaksian akan kekejian kaum penjajah di nusantara ini, maka bangkitlah para pahlawan kita untuk berjuang membela kebenaran, menuntut hak-hak dan mengusir kaum penjajah dari Bumi Pertiwi. Mulai dari perjuangan yang bercorak lokalitas hingga perjuangan yang bersifat nasional. Mulai dari bangkitnya Pattimura, Hasanudin, Sisingamangaharja XII, Teuku Umar, Imam Bonjol, Diponegoro, dan lain-lain hingga para pahlawan dan pejuang di masa kemerdekaan.

Ternyata bangkitnya para pahlawan kita memerangi kaum penjajah, karena mereka melaksanakan dan perampasan hak tidak akan pernah dibenarkan Islam dan tidak akan pernah diridhai Allah. Dan tentunya penjajahan itu tidak akan pernah membawa kesejahteraan umat.

Karena itu para mujtahid dan para pejuang nusantara kita ini mereka lebih harum dikenal dengan nama pahlawan, sebuah istilah yang berasal dari pahala, yaitu orang yang berjuang semata-mata untuk mencari pahala. Maka dalam kancah perjuangan tersebut tak dapat disangkal lagi bahwa perjuangan mereka hanya bermotifkan ibadah, bukan karena ingin pangkat, jabatan, kedudukan atau ingin mendapat bintang kehormatan. Dengan demikian pantaslah jika dalam perjuangan menuntut dan mempertahankan kemerdekaan, mereka senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak ibadah kepada-Nya, membasahi bibirnya dengan dzikir di setiap kesempatan, serta memekikkan takbir pada setiap pertempuran, sehingga Allah SWT memberikan kemenangan kepada kita dengan terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat penuh.

Orang-orang yang berjuang dengan motif ibadah itu, mereka kelak mendapatkan balasan yang besar dari Allah Swt. Dalam hal balasan ini, Allah berfirman: “Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barang siapa yang berangkat di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar”. (Q.S. an-Nisa’, 4: 74)

Agama Islam ternyata begitu kokoh tertanam dalam nurani bangsa Indonesia, sehingga semangat perjuangan mereka, khususnya para pahlawan kita tidak pernah pudar sedikitpun sampai titik darah penghabisan.

Islam telah mendidik karakter bangsa Indonesia menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran dan kesucian. Karena itu jika kaum penjajah berani menghancurkan kebenaran dan kejujuran, serta berani menodai kesucian, mereka akan membelanya pantang menyerah. Islam juga mendidik karakter bangsa Indonesia kayakinan akan adanya hidup di balik maqam, keyakinan dan adanya ancaman keburukan serta balasan atas kebaikan. Maka untuk membela kebenaran mereka bersedia berjihad di jalan Allah. Demikian pula Islam juga mendidik karakter: “Jika engkau menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Q.S. Muhammad:47)

Perlu diketahui bahwa perjuangan membela kebenaran, menegakkan perikemanusiaan dan perikeadilan termasuk menolong agama Allah. Sungguh, begitu besar jasa Islam di masa lalu, maka kepada para penulis sejarah hendaklah tidak mengecilkan peran umat Islam di nusantara ini, sehingga para generasi penerus tidak buta terhadap peran Islam dan umatnya tersebut.

Setelah 66 tahun kemerdekaan negeri ini, adalah sebuah kepatutan bagi umat Islam Indonesia untuk mengambil peran besar dalam pembangunan ini seperti besarnya umat Islam di masa lalu. Sebab jika peran kita lebih besar, kita akan mampu menentukan arah pembangunan yang lebih manusiawi, hingga insyaallah dapat melepaskan diri dari penyakit peradaban kita yakni KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepostisme).

Dus, tak pantas kiranya kita umat Islam tanah air kalau hari ini menjadi penonton yang hanya bisa mengumbar himbauan, harapan, dan kutukan kepada pelaku koruptor maupun teroris yang menggunakan Islam sebagai alat pembenaran kegilaannya. Sebagai umat Islam bangsa ini, kita wajib berikhtiar untuk lepas dari kondisi karut-marut ini serta menjalankan amanah Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Allah SWT berfirman; “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. (Q.S. Ali-Imran, 3: 110)

Uraian ini mengerucut pada simpulan sederhana; Pertama, Islam memiliki jasa besar di masa perjuangan kemerdekaan dulu, maka di masa kini jika ada yang menggunakan Islam sebagai komoditi kekuasaan maka pengingkaran sejarah keniscayaan. Kedua, tanpa peran umat Islam yang lebih besar, sulit rasanya kita dapat menentukan arah pembangunan di negeri kita sendiri ke arah yang lebih manusiawi.


* Litbang Lembaga Baca-Tulis Indonesia (LBTI), tinggal di Jombang

Berita lainnya
Mengkhianati UUD dan Bung Karno
Pilkada Dipilih DPRD Apa Dijamin B...
Jangan Sampai Ada Anas-Anas yang B...
Pilkada Dipilih DPR VS Pilkada Dip...
Cara dan Permainan Mafia-Mafia Ind...
Bila Tetap Dilantik, Bisa Hilangka...
Jokowi Harus Konsisten atau Diangg...
Pembebasan Hartati Murdaya, Hukum ...
Bisa Profesional, Bisa Multi Etnis...
Atur Perijinan, Bos Alfamart Ditan...
Bocoran Dokumen Rahasia yang Buat ...
KPU Tak Menjalankan PSU, UU Pilpre...
Diragukan, Rentan Gesekan Dan Seke...
Capres 2014, Miliki Gagasan Dan I...
Suami Ditahan, Minta Bilik Asmara
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  86