menu.jpg
 
Pijat Prostitusi, Ceweknya Imut, Hanya Rp 300 Ribu

Di sekitar Bratang Jemursari tak cuma karaoke dan klub malam yang menggeliat, tapi pijat tradional (pitrad) prostitusi juga menjamur. Ini kian menguatkan indikasi kawasan ini menjadi pusat maksiat baru di Surabaya Timur dan Selatan. Belum lagi, kos-kosan bebas yang kebanyakan ditempati pasangan mesum atau tak resmi.

Lihat saja di sepanjang Ngagelrejo-Bratang-Barata Jaya hingga Jemursari. Di kawasan ini gemerlap selama 24 jam non-stop, seperti halnya di pusat kota Surabaya. Selain banyak pedagang, daerah ini juga ramai dengan berdirinya warnet-warnet dipenuhi anak-anak muda, baik pria maupun perempuan. Belum lagi gemerlap para pedagang yang jualan berbagai makanan di kawasan ini dan menggeliatnya tempat karaoke dan biliar.

Di kawasan ini pula, tumbuh bisnis kos-kosan bebas. Kos-kosan itu berdiri tak hanya di tengah kampung, tapi juga di pinggir jalan. Untuk kos bebas tarifnya Rp 700 ribu. Jika pakai AC Rp 1,3 juta. Seperti di dekat perempatan traffic light Bratang-Barata Jaya. Informasi yang dihimpun, kos-kosan ini dihuni beberapa purel dan wanita tukang pijat (therapist). Maklum di dekat kos-kosan ini terdapat kafe dangdut Rasa Sayang dan Pitrad Bu Mamik.

Yang bayarin kos ini koko ku (sebutan untuk pria yang memacarai cewek malam, red), ujar Yuni, yang kerja di Pitrad Bu Mamik.

Di kawasan ini Pitrad Bu Mamik ini sangat terkenal. Lokasinya di pojokan Ruko Bratang, dekat terminal. Therapist di sini juga banyak yang muda-muda. Menariknya, pitrad yang dikelola sendiri oleh Bu Mamik ini tak mamatok tarif tinggi. Hanya dengan uang Rp 220 ribu sudah mendapatkan layanan plus-plus.

Pantauan di lokasi selama tiga hari, pitrad ini selalu ramai, baik siang maupun malam. Mulai kelas sepeda motoran hingga bermobil. Di sini yang diutamakan pijatnya, mas.. Kalau ceweknya mau gini itu urasan pribadi masing-masing, ujar seorang mami sambil menjepitkan jempol tanda di jari tengah, pertanda hubungan intim.

Begitu juga di Pitrad Pattaya-16 di Barata Jaya. Pitrad ini juga cukup ramai. Namun, tarif di sini sedikit lebih mahal. Untuk layanan pijat plus-plus dipatok Rp 300 ribu. Kabarnya, pijat ini milik seorang militer. Nggak mungkin ada gerebekan di sini mas, wong yang punya militer kok, ucap seorang therapist saat ditemui di tempat kerjanya.

Memang yang terkenal di daerah ini hanya dua pitrad ini. Namun, jika dicermati sepanjang Ngagelrejo-Bratang-Barata Jaya hingga Jemursari menjamur pitrad berskala kecil yang juga menyediakan layanan serupa. Hanya saja, therapist-nya rata-rata STW alias sudah tua. Biasanya mereka ini yang sudah tidak terpakai di pitrad lain.

Kondisi ini cukup ironis, mengingat di kawasan ini dekat dengan kawasan perguruan tinggi/kampus. Saya khawatirnya mahasiswa dan mahasiswi di sini terpengaruh. Kan mereka itu banyak yang lepas dari pengawasan langsung orang tuanya, ujar Ferdi, mahasiswa Unitomo. n

Berita lainnya
Stadium Masih Nekat Buka
Ada Tarian Erotis, Heaven Akan Dis...
Dugem Stadium Ditutup, Heaven Dibi...
PSK Online Berstatus Mahasiswi dan...
Prostitusi Untuk Pejabat
Model Rp 25 Juta
"Enak Kerja Sendiri, Semuanya Masu...
MUI Minta NAV-Hotel ‘Maumu’ Di...
Ditangkap, Purel NAV dan Hotel “...
Karaoke NAV dan Hotel ‘’Maumu...
Ada Karaoke Plus Hotel Short-Time
Bos Karaoke ‘Kibuli’ Pemkot
Surabaya Kota Maksiat
10 Tahun Jadi Lesbi, Kini Nani Dij...
Diperlakukan Kasar, Vicky Jadi Les...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  122