menu.jpg
 
Lunturnya Nasionalisme Generasi Muda

O l e h : Dr. Jusup Jacobus Setyabudhi, S.H., M.S. - Dosen F.H. UPH Surabaya

Akhir-akhir ini banyak diberitakan tentang perkelahian pelajar, perkelahian antar kelompok, perkelahian antar desa, ulah berbagai geng motor yang meresahkan masyarakat, terjadinya konflik antar umat beragama, bahkan bentrok antara pelajar dengan wartawan. Berita-berita tersebut sangat memprihatinkan, dan apabila para founding fathers Indonesia bisa bangkit kembali, tentu mereka sangat sedih atas hal tersebut.

Para sejarahwan menyatakan bahwa ada tiga tonggak sejarah Indonesia yang harus diperingati, yaitu tanggal 17 Agustus, tanggal 19 September, dan tanggal 28 Oktober. Tanggal 17 Agustus adalah tanggal kemerdekaan Indonesia, tanggal 19 September adalah tanggal rapat raksasa Ikada, dan tanggal 28 Oktober adalah tanggal sumpah pemuda, yang terhubung dengan benang merah, dan yang menggambarkan Kesatuan dan Persatuan Kebangsaan Indonesia. Pernahkah generasi muda Indonesia sekarang ini memikirkan hal-hal di atas? Generasi dari pelaku sejarah peristiwa yang disebutkan di atas sudah tidak ada lagi, dan generasi berikutnya banyak yang sudah melupakan peristiwa bersejarah tersebut karena sibuk dengan dirinya masing-masing, akibatnya generasi muda Indonesia saat ini hanya tahu tanggal kemerdekaan Indonesia, dan jarang yang tahu arti tanggal-tanggal lainnya. Sungguh memilukan!

Semboyan “sekali merdeka tetap merdeka” sudah mengalami pergeseran menjadi semboyan “sekali merdeka, merdeka sekali”. Gaya hidup hedonistik sudah melanda generasi muda Indonesia, dan mengakibatkan lunturnya rasa nasionalisme mereka. Hal itu juga menyebabkan generasi muda lebih suka memilih jalan pintas untuk mencapai apa yang diinginkannya. Apabila ada hal yang tidak berkenan bagi generasi muda, mereka lebih suka berdemo daripada bermusyawarah. Adagium yang diisyukan dan terisyukan adalah, para pendemo akan menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Korupsi terjadi dimana-mana, main hakim sendiri menjadi ikon dalam masyarakat, penyaluran rasa tidak puas dengan melakukan hal-hal yang destruktif, sudah menjadi rutinisme dalam masyarakat. Bagi sejumlah generasi muda Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah wilayah di mana mereka dapat memuaskan rasa hedonistik mereka.

Rasa nasionalisme generasi muda Indonesia yang luntur itu sebenarnya hanya merupakan akibat dari tidak adanya contoh dari generasi di atasnya. Pada tanggal 28 Oktober 1928, ketika para pemuda Indonesia mendeklarasikan Sumpah Pemuda, tidak pernah diributkan masalah suku, agama, ras, atau kelompok yang mana. Tekad yang ada pada para pemuda itu adalah, kami mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Tidak ada embel-embel apa pun, seperti misalnya, kami mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, tapi suku Madura.

Mohammad Yamin dalam Konggres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 menyatakan bahwa, ada lima faktor yang dapat memperkuat persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Pada saat sekarang faktor itu harus ditambah dengan contoh dari generasi sebelumnya kepada generasi muda Indonesia. Apabila generasi sebelumnya selalu berkonflik dan hanya mementingkan diri sendiri atau kelompok sendiri, maka mau tidak mau generasi mudanya akan mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh generasi sebelumnya. Sekarang baru dapat dipahami pernyataan Bung Karno bahwa, kemerdekaan hanyalah adalah suatu jembatan. Pada saat menuju ke jembatan itu, tidak banyak terjadi konflik, tetapi sesudah melewati jembatan itu muncullah berbagai konflik karena interes pribadi, golongan, kelompok, dan suku. Bahkan terjadi pula konflik yang dengan sengaja direkayasa untuk kepentingan pribadi tertentu atau kelompok tertentu. Masya Allah.
Alhamdulilah, bahwa tidak semua generasi muda Indonesia berperilaku seperti yang sudah disebutkan di atas. Mayoritas generasi muda Indonesia banyak melakukan hal-hal positif seperti belajar dengan tekun, berkompetisi untuk meraih prestasi, dan menjunjung tinggi nama negara dan bangsa Indonesia. Pepatah menyebutkan bahwa, nila setitik merusak susu sebelanga. Kelompok generasi muda Indonesia yang hedonistik, dikhawatirkan dapat mempengaruhi dan merusak mental dan moral mayoritas generasi muda Indonesia yang berakhlak baik.

Hidup dan pengabdian memang penuh misteri dan seringkali sulit sekali dimengerti. Simak saja perjalanan hidup para pahlawan kemerdekaan Indonesia, yang sudah memberikan contoh bahwa demi kemerdekaan Indonesia rela mengorbankan apa saja, termasuk nyawanya. Demikian pula, perjalanan hidup sejumlah orang besar yang hidupnya memang sulit dipahami. Ada yang mengabdi dalam bidang sosial, pendidikan, agama, lingkungan dan seni, pokoknya di berbagai bidang kehidupan. Ada yang berjuang menemani yang sakit sekarat karena tidak dipedulikan orang lain. Ada juga yang tak gentar mendekati dan merawat yang sakit karena kutukan leprosi. Pokoknya yang dijauhi manusia normal mereka datangi dengan kasih sepenuh hati, yang penting bisa memberi apa yang dapat diberikan, membakti apa yang dapat dibaktikan. Bukan seperti yang terjadi pada saat ini di Indonesia, mengambil apa saja yang dapat diambil, tidak peduli orang lain, tidak peduli keadaan negara.
Pengabdian adalah kata yang sering dikumandangkan oleh para pemberi teladan, bukan saja karena ungkapan ini memang layak dijadikan landasan dan panutan, tetapi juga karena kata ini memang merupakan salah satu tolok ukur peradaban. Tanpa pengabdian manusia dan kemanusiaan akan kehilangan makna dan tujuan, dan yang tersisa adalah kerakusan dan keserakahan terpilin dalam satu jalinan. Kemanusiaan dan peradaban harus terus menjadikan perjuangan dan pengabdian bukan hanya sebagai landasan tetapi juga sebagai satu tolok ukur keberhasilan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana ciri-ciri nasionalisme Indonesia itu? Pertanyaan ini tentu akan menimbulkan berbagai jawaban, tapi salah satu ciri utama nasionalisme Indonesia adalah pengabdian kepada Bangsa dan Negara Indonesia. Pengabdian ini tidak akan muncul begitu saja dalam diri seseorang, tetapi membutuhkan pendidikan dan contoh. Harus ada kesadaran bagi Bangsa Indonesia bahwa diperlukan pendidikan yang baik dan tepat bagi generasi muda Indonesia agar semangat nasional mereka bisa bertumbuh sehingga nasionalisme mereka dapat meningkat. Peningkatan nasionalisme ini seharusnya dicontohkan lebih dulu oleh generasi yang sekarang ini sedang sibuk berkonflik, yang merupakan langkah mundur dan pengikisan nasionalisme.

Berita lainnya
KPU Tak Menjalankan PSU, UU Pilpre...
Diragukan, Rentan Gesekan Dan Seke...
Capres 2014, Miliki Gagasan Dan I...
Suami Ditahan, Minta Bilik Asmara
Anis-Hidayat Bersaing di Pemira PKS
Tantangan berat Sutarman
Lembaga Survei & Kedaulatan Rakyat
Lima Langkah Recovery of Trust MK
Korban Media, SBY Tak Terlalu Paha...
Kepala Daerah Dipilih oleh DPRD?
Sebenarnya ‘Tidak Perlu’ Kalau...
Politik Dinasti Adalah Politik Mun...
MK Tak Berwenang Uji Perppu
Korupsi dalam Bingkai Hyperdemocra...
Perppu MK, Presiden Gagal Deteksi ...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  84