menu.jpg
 
Banjir Surabaya Barat Kian Parah

SURABAYA– Kawasan Surabaya Barat masih menjadi langganan banjir. Tak hanya dari luapan Kali Lamong, sejak diguyur hujan deras hampir selama 6 jam sejumlah titik di Surabaya Barat kembali terendam. Meski hanya setinggi 15 cm, tetap saja genangan air membuat warga panik dan tak nyaman.

“Air mengalir langsung masuk ke rumah-rumah. Kami sempat kaget karena ketinggiannya cukup parah,” ujar Wildani, salah satu warga Pakal, Senin (30/1).

Adanya banjir membuat aktivitas warga terganggu. Anak-anak yang harusnya sekolah jadi meliburkan diri. Sementara warga juga tak bisa memasak maupun bekerja seperti hari biasanya. “Kami semakin takut karena cuaca terus memburuk. Hujan juga diprediksi
masih terjadi selama sebulan ke depan,” ungkapnya.

Banjir, lanjutnya, harusnya tak terjadi kalau proyek pencegahan banjir bisa berjalan lancar. Persoalan genangan itu tak disebabkan karena hujan saja, sebab luapan sungai yang mendapat kiriman air dari wilayah atas sebelah selatan Sememi juga jadi penyebab.

Akibatnya, air meluap membanjiri rumah warga dan jalan di kawasan Sememi Jaya, Sememi Jaya Selatan, Jurang Kuping, Pakal Madya, Babat Jerawat dan daerah Kendung.

Hujan lebat yang terjadi hingga Senin pagi juga menggenangi sekolah. Di SMPN 26 Jalan Banjar Sugihan Tandes, misalnya, air hujan menggenangi 3 ruangan kelas II di lantai 1. Akibatnya, proses belajar mengajar menjadi terganggu. Beberapa guru tidak mau mengajar akibat ruang kelas yang tergenang.

"Kalau pelajaran ada, dan proses belajar mengajar tidak diliburkan. Tapi ada juga pelajaran yang ditiadakan karena gurunya enggan masuk ke dalam kelas," kata Amir, salah satu murid kelas II SMPN 26.

Tak hanya Surabaya Barat, banjir juga masih menggenangi titik-titik bajir lama, yang selama ini menjadi langganan banjir. Pantauan di lapangan, banjir terjadi di kawasan Ketintang dan Wonocolo. Menurut Sudirman, warga Wonocolo Pabrik Kulit, genangan air di perkampungannya memang terjadi sejak Minggu malam, ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

“Tadi malam (Minggu malam) lebih tinggi. Kalau sekarang mungkin sekitar 10 cm, tapi tadi malam sampai lutut orang dewasa tinggi airnya. Mungkin karena air sungai di dekat perkampungan Wonocolo juga sedang meluap,” cerita Sudirman.

Demikian juga dengan kawasan Ketintang, persisnya tak jauh dari kantor Samsat Bersama, masih ditandai genangan air dengan ketinggian kurang lebih 15 cm, dan itu membuat pengendara mobil harus mengurangi kecepatannya. “Biasanya memang tidak pernah sampai banjir lama seperti sekarang. Ini sejak semalam, tapi ketinggiannya memang sudah berkurang jauh. Tadi malam, menjelang subuh itu, sampai setinggi hampir separuh ban mobil Kijang,” kata Yoyok, warga Ketintang.

Luapan Sungai Banyu Urip

Kepala Bakesbanglinmas Pemkot Surabaya Sumarno membenarkan kalau genangan
air yang terjadi di Surabaya karena luapan Kali Banyu Urip. Ketinggian air menembus 10-15 centimeter. Untungnya banjir itu cepat surut dan kondisi bisa dikendalikan.

“Ini disebabkan pengerjaan penanganan banjir belum selesai. Seperti pengerukan di berbagai kali. Curah hujan yang deras juga menambah percepatan air naik ke permukaan,” ujar Sumarno.

Pemkot, lanjutnya, merasa tenang ketika genangan air cepat surut. Tak ayal, warga bisa secepatnya menyelamatkan barang berharga di rumah. Petugas dari Satkorlak Bencana Surabaya juga sudah membantu. “Tapi langsung ditarik, genangan kan sudah surut hari itu juga,” imbuhnya.

Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Pemkot Surabaya Erna Purnawati mengatakan sepanjang bulan ini pengerjaan proyek penanganan banjir memang tak bisa dilakukan. Baru pada Februari nanti semua pengerjaan bisa dilanjutkan.

Saluran air di kawasan Sememi, Kandangan, Balongsari selama ini memang belum dilengkapi dengan pintu air dan pompa. Imbasnya, banjir di Raya Benowo tidak bisa dipompa untuk dibuang ke laut dan hanya bisa menunggu banjir surut dengan sendiri.

“Nanti pada Februari di Kali Balong akan dibangun pompa. Itu kami jadikan sebagai langkah pencegahan banjir,” tegasnya.

Pemberian pompa itu merupakan proyek dari pemerintah pusat. Pemkot sendiri tak mengeluarkan uang sepeser pun untuk pembangunan pompa di sana. Pemkot sendiri hanya melakukan pengerukan di beberapa sungai yang kondisinya dangkal.

Erna juga menjelaskan, kawasan Benowo memang terintegrasi dengan saluran Banyu Urip yang sebenarnya saluran irigasi. Kawasan itu harusnya diubah menjadi saluran drainase supaya banjir langganan di kawasan Pakal dan Benowo bisa teratasi. “Ini dilakukan secara perlahan, tapi semua proyek tetap dilanjutkan bulan depan,” pungkasnya.

Puncak Musim Hujan

Hujan yang mengguyur Kota Surabaya dan sekitarnya sejak Minggu (29/1) sore hingga Senin (30/1) sekitar pukul 09.00, disebabkan dua faktor. Taufik, Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya menjelaskan faktor pertama karena memang saat ini merupakan puncak musim hujan, dan kedua karena pengaruh tidak langsung badai Iggy.

Sekarang ini posisi badai Iggy ada di Samudera Hindia sebelah selatan Jawa Barat atau masuk pesisir Australia. Kondisi itu membuat seluruh daerah di Jawa Timur, kecuali Pacitan diguyur hujan sejak kemarin malam.

Sementara itu Taufik, untuk cuaca Selasa (31/1) ini, Surabaya bakal diguyur hujan dengan intensitas ringan. Angin dari arat barat laut kecepatan 05 – 40 Km/jam. Suhu udara 23 –32 derajat Celcius, kelembapan 61 – 96 %, jarak pandang 3 - 10 Km. n ov

Berita lainnya
Dibuka Sore Ini, Kampoeng Sholawat...
Pocong, Genderuwo , Wewe Gombel Un...
Pemerintah Siap Hadapi Gugatan New...
TUTUP! Hotel Milik Setiaji Yudho
Pemerintah Ramadan, 29 Juni 2014
Dolly Bukan Tempat Prostitusi Lagi
Muhammadiyah Puasa 28 Juni, NU Tun...
Warga Dolly Ngotot Beroperasi Lagi...
YKS Dihentikan Selamanya
Komnas HAM Dukung Tutup Lokalisasi...
Baru 6 Merk Rokok Pasang Gambar Me...
Kemasan “Gambar Seram” Tak Efe...
Alumni Dolly Lari ke Sidoarjo
Biasanya Dapat 11-15 Tamu, Sekaran...
Wiranto: Penculikan Inisiatif Prab...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  88