menu.jpg
 
Pindah Agama dan Syarat Mendaftar di Catatan Sipil

Pertanyaan :

Saya bermaksud untuk mengikuti agama calon suami saya.
Yang ingin saya tanyakan:
1. Syarat-syarat apa saja yang harus saya penuhi agar saya dapat pindah keyakinan dan sah secara hukum?
2. Syarat-syarat apa saja agar pernikahan kami nantinya dapat didaftarkan di kantor catatan sipil?
3. Apa akibatnya secara hukum apabila saya melaksanakan pernikahan tanpa persetujuan orang tua?
4. Apakah orang tua dapat menuntut calon suami saya? Atas perhatian dan jawabannya saya ucapkan terima kasih. Salam.

Ira T.
Surabaya

Jawaban:

Mbak Ira, untuk menjawab pertanyaan saudara, maka saya harus tahu lebih dahulu agama calon suami. Untuk dapat pindah agama tentunya harus mengikuti aturan atau tata cara dari agama yang akan mbak anut. Menurut saya pada saat pindah agama lain mbak harus benar-benar yakin bukan semata-mata karena alasan perkawinan.

Suatu perkawinan dinyatakan sah apabila memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam undang-undang, syarat-syarat intern maupun syarat-syarat extern. Yang dimaksud dengan syarat-syarat intern adalah yang menyangkut pihak-pihak yang melakukan perkawianan, yaitu kesepakatan mereka, kecakapan dan juga adanya izin dari pihak lain yang harus diberikan untuk melangsungkan perkawinan serta Usia minimal wanita 16 tahun dan usia pria minimal 19 tahun (pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan). Sedangkan syarat-syarat extern adalah yang menyangkut formalita-formalita pelangsungan perkawinan.

Syarat sahnya perkawinan diatur dalam pasal 2 UU No.1 Tahun 1974. Menurut pasal 2 ayat (1) UU No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Selanjutnya dalam ayat (2) diatur : Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perkawinan dapat dicatatkan di kantor catatan sipil apabila dilakukan tidak secara Islam. Bagi perkawinan yang dilaksanakan secara Islam maka harus didaftarkan pada KUA.

Apabila perkawinan anda tidak disetujui oleh orang tua, maka mbak dapat memohon izin dari dari pengadilan setempat dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang akan melangsungkan perkawinan atas permintaan orang tersebut dapat memberikan izin setelah lebih dahulu mendengar alasan –alasan keberatan orang tua atau wali mbak. Ketentuan ini berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain. (pasal 6 ayat (5) dan ayat (6) UU Perkawinan).

Mbak Ira orang tua atau siapun tidak dapat menuntut mbak dan calon suami apabila semua syarat-syarat perkawinan sudah dipenuhi.

Demikian semoga bermanfaat

Berita lainnya
Bupati Berharap PPIP Berjalan Sesu...
Mengecek Keaslian Sertifikat Tanah
Bos PT Golden Shines (Edward Ho) p...
2012 PAD Kota Probolinggo Naik Men...
Belum Ada Perjanjian, UM Tak Bisa ...
Keabsahan Perkawinan di USA
Kekuatan Pembuktian, Perjanjian Ha...
Gugat Cerai Karena Suami Pindah Ag...
Suami Ingin Beristri Lagi
Sertifikat Hak Milik Atas Nama Org...
Namanya Digunakan dalam Akta Anak ...
Pengembang Real Estate Wanprestasi...
Tak Bisa Menuntut Dinikahi Pria Be...
Hak Kepemilikan Tanah oleh Warga N...
Pembagian Harta Waris dalam Perkaw...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  54