menu.jpg
 
Dampak Prostitusi Spa dan Salon Lebih Parah dari Dolly

SURABAYA- Masih mbideknya Pemkot dan Polwiltabes Surabaya terhadap praktik prostitusi terselubung membuat prihatin kalangan akademisi dan advokat. Jika tidak segera ditertibkan, dampaknya lebih parah ketimbang lokalisasi Dolly.

Demikian diungkapkan sosiolog asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Bagong Suyanto dan advokat Yusron MS yang juga dosen Universitas Narotama. Kata Bagong, bisnis esek-esek terselubung di panti pijat, spa dan salon itu justru memiliki dampak risiko lebih berbahaya daripada lokalisasi prostitusi. Risiko dimaksud terutama dalam hal kesehatan, yaitu penyebaran penyakit kelamin. “Sangat berbahaya karena penyebaran penyakit seperti HIV dan AIDS tidak terkontrol,” ungkap Bagong, Jumat (25/6).

Ini berbeda dengan lokalisasi, yang mudah diawasi dan dikontrol secara berkala oleh pemerintah. Bagong mengatakan, kemungkinan meregulasi tempat-tempat esek-esek seperti di spa dan salon sangat kecil. “Karena terselubung,” ucapnya.

Namun demikian, bukan berarti pemberantasan tidak harus dilakukan. Pemerintah tetap harus melakukan tindakan terhadap usaha-usaha salon atau spa yang di dalamnya berbisnis esek-esek. Bagong menyarankan, selain penutupan, penyelesaian dengan pendekatan sosial juga harus ditempuh. “Sebab banyak pekerja seks macam begitu terpaksa melakukannya karena faktor-faktor ekonomi dan sosial,” ujar Bagong.

Terpisah, Yusron mengatakan, sangat sulit membasmi panti pijat, spa dan salon yang digunakan untuk esek-esek. Sebab, rata-rata usaha haram tersebut dibekingi oknum polisi dan tentara. “Bahkan, pemiliknya banyak dari oknum tentara dan polisi,” kata Yusron, Jumat (25/6).

Jika sudah begitu, tambah ia, maka bisa dikatakan tidak mungkin prostitusi terselubung semacam itu bisa ditutup. Yusron menjelaskan, sebenarnya, bisnis esek-esek berbalut usaha salon, spa, pijat, dan lain bukanlah masalah baru. Ia juga mengakui, bahwa di Surabaya yang namanya bisnis hitam seperti salon plus-plus banyak. “Salon itu kan sarangnya balon (pekerja seks komersial/PSK, red),” ujar Yusron. “Tapi ada juga yang benar-benar salon, cuma sedikit,” tambah ia.

Selain itu, Yusron menengarai, tidak terjamahnya bisnis esek-esek di spa dan salon karena pemerintah dan penegak hukum setengah-setengah dalam menindak alias tidak tegas. Ini terjadi karena faktor mbeking-mbekingi yang berlaku. Padahal, jika memang berniat, bisnis esek-esek mudah diberantas. “Kalau memang ada niat, jangan tanggung-tanggung,” tegasnya.

Menurut Yusron, meski sulit, bisnis esek-esek tersembunyi ini harus dibasmi. “Yang jelas ini tugas pemerintah. Harus ada tindakan tegas,” ucapnya. Sebab, prostitusi berpengaruh besar terhadap bangunan moral masyarakat, terutama bagi kalangan mudanya. Padahal, lanjut Yusron, hukum dan moralitas harus berjalan seiring. “Dan tidak boleh lepas,” tuturnya. n en

Berita lainnya
Replika Tugu Pahlawan Raih Rekor ...
Banyak Daerah tak Miliki Early War...
Satlantas Terapkan Teguran Simpati...
22 Kabupaten Jatim Rawan Longsor
Terkubur Longsor, Ibu Hamil 9 Bula...
Rebut Bekas Air Jokowi
Batik Jokotole Bangkalan Merambah ...
Tomcat Kembali Serang Warga Suraba...
Warga Dolly: Mana Janjimu
Ribuan Buruh Bekasi Terancam PHK...
Inggris Buka British Council di Su...
Ibadah Haji Lansia Diperketat
Satgas TNI Cantik Dikirim ke Leban...
Emoh Bayar Rp 781 M, Ical Bakal Di...
JK: Salah Paham
  Komentar Anda :
  Nama * :   Email * :
  Komentar * :
  » :: Disclaimer
   
Auto Loading Records
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  93