menu.jpg
 
Kos-kosan di Dukuh Kupang Bisa Jadi Lokalisasi Baru

SURABAYA- Sudah bukan rahasia lagi kos-kosan bebas yang tersebar di kota Surabaya menjadi tempat mesum pasangan tak resmi. Bahkan, ada yang menjadi tempat prostitusi. Bukti nyata saat petugas gabungan Polsek dan Satpol PP Kecamatan Dukuh Pakis melakukan razia di kos-kosan wilayah Surabaya Selatan itu, Kamis (5/5). Petugas menemukan pasangan kumpul kebo serta tiga pemuda dan seorang perempuan yang tidur sekamar, usai menggelar pesta minuman keras (miras).

Kawasan Dukuh Kupang dan Darmo Permai Surabaya, disinyalir dijadikan ladang bisnis kos-kosan untuk kumpul kebo. Pengelola kos-kosan itu adalah bos-bos yang bertempat tinggal di kawasan elite Darmo Hill, Pakuwon dan Bintang Diponggo, bahkan ada direksi sebuah hotel di jl. Tunjungan berani menginvestasikan dana Rp 5 miliar untuk kos-kosan yang disulap menjadi home stay.

"Ada satu lokasi kos-kosan yang kamarnya sampai 30 kamar, ada reseptionis dan office boy, mirip hotel. Pak Camat juga tahu, tinggal bagaimana Pemkot dan DPRD menyikapinya penginapan berkedok kos-kosan. Berapa kerugian Pemkot dari retribusi dan pajak," kata Kapolsek Dukuh Pakis, Kompol Rakidi, usai melakukan razia bersama Danramil dan Camat Dukuh Pakis, Kamis siang.

Dalam razia kemarin, beberapa petugas kepolisian dibuat terhenyak atas lokasi kos-kosan. Ada rumah dua lantai yang lantai satu untuk parkir dan lantai dua untuk kamar-kamar. Penghuninya bebas keluar masuk tanpa identitas. Bila dibiarkan oleh Pemkot, selain merugikan dari aspek pajak, juga kerawanan sosial dan peluang prostitusi terselubung diluar lokalisasi. "Kos-kosan ini bisa kalahkan lokalisasi dolly, spa dan hotel short-time. Ini kalau Pemkot dan Polrestabes tidak serius menertibkan kos-kosan yang menjamur di kawasan Dukuh Kupang dan Darmo Permai," tambah anggota Polsekta Dukuh Kupang yang turut melakukan razia.

Mereka ini diamankan dari rumah kos Jl Dukuh Kupang Barat VI/19-21. Sedang pasangan kumpul kebo yang diamankan adalah Benny (34) warga Grogol III Peneleh dan pasangannya Pamuji (20) asal Desa Badek Ploso Klaten, Kediri. Sementara tiga pemuda yang diamankan adalah Ari Eko Supriyantoro (19) warga Selorejo I Sukomanunggal, Fredi Setiawan (18) warga Dukuh Pakis, dan Ilham Syaifudin(16) warga Sono Indah V. Ketiganya berada satu kamar dengan Ita Roichatun (19) Warga Putat Jaya Gang Lebar, yang mengaku bekerja sebagai pekerja malam atau Purel Rasa Sayang Manukan.

Awalnya petugas gabungan ini hanya memeriksa KTP (Kartu Tanda Penduduk) para penghuni kos. Namun, saat diperiksa dari kamar ke kamar, ternyata ditemukan pasangan tak resmi. Awalnya Benny dan Pamuji terlihat santai. Tapi saat ditanya surat nikah, Benny yang awalnya tertidur langsung bangun. Di hadapan petugas, keduanya membantah kumpul kebo. Meski begitu, mereka memang mengaku hidup serumah selama setahun lebih. "Kami sudah bertunangan. Rencananya menikah awal tahun 2012 nanti," aku Benny di hadapan petugas.

Petugas tampaknya tidak begitu saja percaya dengan pengakuan kedua pasangan ini. Karena itu, petugas berencana mendatangkan kedua orang tua pasangan tersebut. Petugas berjanji akan melepas keduanya begitu orang tua mereka telah datang. "Tidak bisa datang, Pak. Orang tua saya kerja jadi TKI di luar negeri," cetus Benny lagi.

Selain mereka berdua, petugas juga menangkap tiga lelaki yang tidur sekamar dengan purel Rasa Sayang Manukan Tama. "Saya baru sebulan kost bersama. Kalau cewek saya kerja di Rasa Sayang. Saya sendiri kerja serabutan. Untuk bayar kos, ya patungan," aku Ari saat diminta keterangan petugas kecamatan.

Sedangkan Fredi dan Ilham mengaku merupakan teman Ari saat balap liar dan menginap di kos, karena pulang kemalaman usai bermain internet warnet. "Saya putus sekolah hanya lulus AMP tahun 2008, sama seperti Ilham," kata Fredi.

Kapolsek Dukuh Pakis Kompol Rakidi mengatakan keempat remaja tersebut akan dikenakan pasal tindak pidana ringan (Tipiring). Sedangkan pasangan kumpul kebo, sampai saat ini pihaknya masih menunggu keluarga dari pasangan tersebut.

Kos-kosan Bebas

Sementara itu, penelusuran Surabaya Pagi, rumah-rumah di kawasan Dukuh Kupang banyak yang digunakan untuk kos-kosan bebas. Seperti di Dukuh Kupang Barat XXXII/5-9, dengan tarif mulai Rp 1,5 juta per bulan dengan fasilitas AC dan kamar mandi dalam.

Begitu juga di Jalan Dukuh Kupang Barat VI/ 19. Rumah besar ini juga bertarif Rp 1,5 juta per bulan dengan fasilitas springbed, kamar mandi dalam, AC, wastafel, dan lemari pakaian. Sedang di lobby disediakan TV umum. Lokasinya cukup luas dan disedikan parkiran untuk mobil. “Di sini bebas. Bawa cewek masuk gak malah. Pagar halaman gak pernah dikunci,” tutur salah seorang warga setempat.

Bahkan, di Jalan Hercules ada kos-kosan yang disewakan harian dengan tarif Rp 100 ribu per hari. Jika bulanan Rp 1,5 juta dengan fasilitas springbed, AC, TV dan kamar mandi dalam. Menurut warga setempat, rumah berlantai tiga itu kerap dijadikan bobok-bobok siang (BBS). Mereka ini sewa harian.

“Dari pada di hotel kegrebek, di kos-kosan lebih aman,” ucap pemuda ini. Hal sama juga terlihat di kos-kosan jalan Kencana Sari (belakang Vida). Bahkan, di sini ditulis papan besar menerima kos harian dengan fasilitas seperti hotel.

Kos-kosan bebas yang disinyalir menjadi tempat prostitusi juga terlihat di Jl Prapanca dan Jl Kanwa. Kos-kosan ini mayoritas dihuni wanita pekerja malam alias purel. Ada juga yang berprofesi therapist atau wanita pemijat. Menariknya kos-kosan di Jl Prapanca. Sebab, umumnya di sini khusus cewek. Tetapi anehnya, cowok bebas keluar masuk. “Saya sendiri pernah “eksekusi” di sana. Waktu itu malah si cewek yang nawarin,” aku seorang teman Surabaya Pagi yang mengaku pernah “membeli” cewek di kos-kosan tersebut.

Pantauan Surabaya Pagi, selain lokasi itu, kos-kosan bebas juga terebar di kawasan Wonorejo, Klampis, Tempel Sukorejo, Kupang Krajan, Petemon hingga sekitar Tunjungan Plaza seperti di Pelemahan dan Kalisarin. Tarifnya memang bervariasi, tergantung fasilitas yang tersedia. Ada juga yang Rp 500 ribu-Rp 600 ribu tapi cuma kamar kosongan tanpa fasilitas.

Tidak Ada Aturan

Menanggapi adanya penyalahgunaan tempat kos sebagai ajang prostitusi, Ketua Komisi B DPRD Surabaya M Mahmud mengatakan, hal itu terjadi karena pihak Kelurahan dan Kecamatan tidak aktif melakukan pengawasan dan pendataan perkembangan rumah kos di wilayahnya. “Perkembangan rumah kos akan cepat diketahui oleh Pemkot jika Kelurahan dan Kecamatan juga aktif,” cetus dia.

Namun sejauh ini tidak aturan yang membatasi berdirinya rumah kos. Sebab, izinnya hanya diketahui Kelurahan dan Kecamatan setempat. Perda yang ada hanya mengatur pajak/retribusi kos-kosan. Sebab, menurut Mahmud, berkembangnya rumah kos juga berpotensi menambah pundit-pundi PAD. “Tahun ini Pemkot menargetkan Rp 6 milyar dari sektor pajak kos-kosan sebagaimana yang diatur di dalam Perda Pajak Daerah yang disahkan beberapa waktu lalu,” jelas politisi Demokrat ini.

Mahmud menambahkan dengan diberlakukannya Perda tersebut, setiap pemilik rumah kos dengan minimal tarif kamar Rp 1juta per bulan akan dikenakan pajak tersebut. “Tidak ada pengecualian, semua pemilik rumah kos harus mematuhi hal ini,” tandasnya.

Terancam Pidana

Dosen hukum dan kriminolog dari Untag Surabaya, Kristofarus L. Kladen, SH, Mhum membenarkan bahwa maraknya kos bebas di Surabaya mengarah pada bentuk pelanggaran asusila. “Fenomena ini merupakan dampak dari perkembangan kota mulai dari nilai sosial dan modernisasi, di mana masyarakat cenderung mencari kenyamanan tidak merepotkan orang lain. Sehingga mereka mencari tempat yang bebas, yang penghuni maupun masyarkat tidak memperdulikan satu sama lainnya,” ujar Kris.

Namum ada satu hal yang dilupakan masyarakat. Menurutnya, pemilik rumah kos bisa terancam pidana, karena membuka peluang bagi perbuatan cabul atau asusila. “Pemilik kos bisa dikenakan ancaman pidana karena secara tidak langsung mereka terlibat. Seharusnya diberi peraturan yang ketat sehingga tidak terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” terangnya.

Begitu juga dengan Ketua RT/RW setempat yang membiarkan tempat kos tersebut untuk asusila. Jika tidak melaporkan kepada pihak berwajib, bisa diancam pidana. “ Didalam hukum pidana kan sudah jelas, jika pak RT diam saja bisa diancam pidana. Apalagi pemilik kos yang tanpa memberikan suatu aturan yang ketat meskipun itu para pelaku diam-diam,” pungkasnya. n ma/to/bi

Berita lainnya
Polda kok Cuma Gerebek Prostitusi ...
Perawani Siswi SMP, Pria Malaysia ...
Semalam, Arek Mojokerto Bunuh Ayah...
Kajari Bojonegoro Dipolisikan
Edarkan Upal, Ibu dan Anak Dituntu...
Karyawan Diskotek 777 Terancam LDH
7 Bulan Ngendon Kasus Penganiayaan...
Lima Pelaku Curat Dibekuk
4 Pemuda Gilir Siswi SMP di Sawah
Lempari Bus, 4 Bonekmania Diamankan
Ingin Punya Motor, ABG Nyolong
Dicurigai Nyolong Sapi, Kadus Nyar...
Curi Pompa Air, Pengantin Baru Dir...
6 Perusak Pesantren YAPI Divonis 3...
Edarkan Pil, Pemuda Mojosari Dicid...
  Komentar Anda :
  Nama * :   Email * :
  Komentar * :
  » :: Disclaimer
   
Auto Loading Records
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  68