menu.jpg
 
Konflik Bethany Perseteruan Pribadi Pdt Aswin

Laporan : Tim Surabaya Pagi

SURABAYA (Surabaya Pagi) – Konflik Gereja Bethany Indonesia (GBI) Nginden yang dipicu rebutan uang jemaat, membuat prihatin Kementrian Agama (Kemenag) Kantor Wilayah (Kanwil) Jawa Timur. Terlebih lagi Pendeta David Aswin Tanuseputra dan ayahnya, Pendeta Abraham Alex Tanuseputra, yang mengelola gereja ini tak mau dicampuri. Upaya Bimas Kristen Kemenag Jatim menyelesaikan konflik itu pun gagal.

Kepala Bimas Kristen Kementrian Agama Jawa Timur, Yunus Doloe, menerangkan konflik di Gereja Bethany itu bukanlah perseteruan para jemaat dengan pengurus gereja. Tetapi perseteruan pribadi yang diduga melibatkan keluarga Bapak Bethany, yakni Pdt Abraham Alex. “Itu (perseteruan, red) pribadi,” cetus Yunus ditemui di ruang Kantor Kemenag Kanwil Jatim di Juanda, Sidoarjo, kemarin (18/6).

Selain Pdt Abraham Alex yang juga Ketua Umum Majelis Sinode GBI, konflik itu juga melibatkan Pdt. David Aswin Tanusaputra (anak lelaki Pdt Abaraham Alex), Pendeta Yusak Hadisiswantoro (menantu Pdt. Abraham Alex) dan Pdt Leonard Limato (pendiri Badan Hukum Gereja Bethany).

Kata Yunus, pihaknya sudah melakukan usaha untuk menjembati perseteruan tersebut, namun mengalami jalan buntu. “Kita sebagai pemerintah sudah melakukan upaya menyelesaian perkara itu dengan cara menemukan pihak-pihak yang terlibat konflik, namun tidak ada jalan keluar,” ujar Yunus.

Bahkan, lanjut Yunus, pihaknya sudah berulang kali melakukan pendekatan ke sejumlah pihak di Bethany, baik jemaat, pengurus dan pendeta, untuk mencari jalan keluar terbaik. “Kita itu jemput bola, agar persoalan tak meluas, tapi kita terbatas. Menurut informasi, akhirnya sekarang akan diselesaikan ke pengadilan,” tambah Yunus.

Ia membenarkan akar konflik di GBI dari uang perpuluhan dari jemaat. Sayangnya, Yunus tak mau membeber penyebab mediasi yang dilakukannya gagal. Yunus hanya mengatakan, seharusnya pihak gereja transparan mengelola uang dari jemaat. “Sebenarnya manajemen gereja yang baik itu harus transparan, terbuka kepada jemaatnya. Tapi itu tergantung manajemen gereja masing-masing. Karena setiap gereja memiliki manajemen sendiri-sendiri,” papar Yunus.

Kini Yunus hanya bisa berharap konflik di Gereja Bethany tidak semakin membesar. “Dalam doa saya berharap konflik itu segera bisa diselesaikan, dan tidak menjadi besar,” ujarnya.

Sayangnya, apa yang dikatakan Yunus justru jauh dari harapan. Pasalnya, persoalan di Gereja Bethany makin tak karuan.

Lantaran Pendeta Abraham Alex tak bersedia melakukan pertanggung jawaban selama memimpin Bethany masa pelayanan 2003-2007, Pdt Leonard membawa permasalahan ini ke sengketa publik. Begitu juga dengan jemaat yang tak puas atas pengelolaan uang jemaat di Bethany, juga memperkarakan Pdt Alex dan Pdt Aswin ke Komisi Informasi.

Bahkan, di kalangan jemaat kini mencurigai kekayaan yang dimiliki Pdt Aswin dan ayahnya itu, diperoleh dari uang gereja. Kekayaan Pdt Aswin pun melimpah dengan nilai aset disebut-sebut mencapai Rp 500 miliar. Cara itu, menurut pakar Kristologi Menahem Ali, sama saja dengan menjual Yesus (Cho Ye Sus). Terlebih lagi, teologi yang diterapkan Gereja Bethany adalah Teologi Kemakmuran.

Aktivis Gereja Mengkritik

Cara Pdt Aswin itu mengundang kritik dari kalangan aktivis gereja. Selvi Magdalena, misalnya. Aktivis gereja yang kini mendalami teologi ini menilai cara yang dilakukan Pdt Aswin menumpuk kekayaan dari uang jemaat, jelas tidak patut. “Namun itu hanya sebagian oknum dari gembala-gembala (pendeta atau pengurus gereja, red) yang bermasalah,” tandas Selvi dihubungi via ponselnya, kemarin.

Wanita asal Sidoarjo ini juga mengutuk tindakan Pdt Aswin dan keluarganya. “Mengatasnamakan Tuhan Yesus untuk keperluan pribadi, itu jelas-jelas salah. Sebab gembala sidang itu bekerja untuk rumah Tuhan,” imbuhnya.

Pada dasarnya, lanjut Selvi, setiap gereja memiliki kebijakan berbeda-beda. Termasuk Gereja Bethany. Semakin besar gereja, semakin besar pula dana perpuluhan yang diterima gereja. “Berbeda dengan gereja kecil yang pengelolaan keuangannya lebih mudah. Tapi gereja besar dengan menerima dana yang besar pula dari jemaatnya, juga rawan konflik. Sontohkan gereja Bethany itu,” ungkapnya.

Selvi juga mengingatkan Pdt Aswin, bahwa gembala Tuhan itu mengabdikan untuk rumah Tuhan. Boleh menerima dari dana perpuluhan tersebut, tapi bukan untuk kepentingan pribadi. Selvi mencontohkan Suku Lewi di zaman Raja Firmaun. Suku itu tidak boleh bekerja, bahkan tak boleh memiliki sebidang tanahpun. Sebab, mereka suku yang menghambakan diri pada Tuhan untuk kemaslahatan jemaatnya.

“Jadi, setiap gembala memiliki otoritas mengelola dana perpuluhan, tapi penggunaannya hanya untuk kemakmuran rumah Tuhan. Ini sudah ditegaskan di Kitab Maleakhi 3,” pungkas Selvi. n

Berita lainnya
Mantan Pangdam Brawijaya, Kasad
Terminal Purabaya Mulai Dipadati P...
KASAD Dicopot Mendadak
Foto Mesra Briptu Eka Beredar, Bik...
Arek Surabaya Jadi Korban MH17
Risma Ancam Alim Markus
Alim Markus Ingkari Perjanjian
Kecam Israel, HMI Jatim Luruk KFC ...
Waspadai Jalur 'Black Spot'
Mau Kaya, Jangan Jadi Dokter
Dibuka Sore Ini, Kampoeng Sholawat...
Pocong, Genderuwo , Wewe Gombel Un...
Pemerintah Siap Hadapi Gugatan New...
TUTUP! Hotel Milik Setiaji Yudho
Pemerintah Ramadan, 29 Juni 2014
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  72