BBM Langka, Salahkan Sistem Online
|
| Selasa, 6 Jan 2009 | WIB |
|
|
|
Penerapan sistem transaksi online delivery order (DO) yang diberlakukan PT Pertamina, sejak 2 Januari tampaknya masih sering menimbulkan masalah tersendiri bagi pihak pengusaha. Padahal sistem ini diharapkan bisa mempercepat transaksi antara PT Pertamina dan pengusaha.
Akibatnya, beberapa SPBU di Kota Malang kehabisan stok bahan bakar minyak (BBM). Persediaan BBM menepis, sementara stok belum juga datang. Ketua DPC Himpunan Wiraswasta Nasinoan Minyak Gas dan Bumi (Hiswana Migas) Rizal Pahlevi mengatakan, sistem online yang baru dikembangkan PT Pertamina untuk memperlancar proses transaksi ini ternyata masih banyak kendala. ”Komputerisasi sering macet, sehingga banyak armada BBM yang tidak bisa keluar dari Depo Pertamina karena surat-suratnya belum tuntas,” ungkapnya.
Sistem baru yang lebih canggih ini, memungkinkan lebih terjaminnya ketepatan transakasi dan dapat dipantau setiap saat (real time). Sebelumnya PT Pertamina menggunakan sistem SAP, kini menjadi MY SAP. Minimnya sosialisasi perubahan sistem DO yang dilakukan Pertamina ini, dikeluhkah pengusaha Migas. Pertamina baru melakukan sosialisasi pada 23 Desember 2008 lalu.
Padahal sistem itu sudah mulai diberlakukan mulai 2 Januari 2009. Usai sosialisasi terkendala banyak hari libur. ”Kebingungan sangat dirasakan pengusaha saat hari pertama penerapan sistem baru itu. Beberapa bank tidak bisa melayani transaksi sistem baru yang diberlakukan Pertamina. Jadi kalau ada SPBU yang kosong bukan karena mereka tidak menebus DO-nya, tapi karena proses transaksi yang belum beres,” katanya.
Di lain pihak, Sales Representatif Gas Domestik Rayon III Pertamina Malang Usman Leki mengakui banyak kendala dalam perubahan sistem transaksi online yang baru ini. Tidak hanya BBM jenis premium saja yang terganggu dengan perubahan sistem yang baru, semua jenis produk Pertamina juga terganggu mulai 2 Januari lalu.
Persediaan BBM bukan alasan sebenarnya kenapa terjadi kelangkaan BBM di Kota Malang dan sekitarnya. Hal itu lebih disebabkan proses pengeluarannya dari Pertamina yang terganjal akibat masalah administrasinya sesuai dengan sistem aturan yang baru yang masih menemui beberapa hambatan. ”Ada juga mitra kami yang belum familier dengan sistem transaksi yang baru. Sistem DO tidak lagi digunakan, dialihkan menggunakan LO,” tutur Usman. arw