menu.jpg
 
Hotel Pasar Besar Bertarip Rp 65 Ribu Short Time

Siapa yang tidak mengenal Hotel Pasar Besar Surabaya. Hotel ini dikenal sebagai hotel mesum paling tua di Surabaya. Setiap kali mencuat berita penggerebekan pasangan mesum, hotel ini menjadi langganan. Apalagi jika di bulan Ramadhan, hotel milik Setiadji Yudho ini selalu rutin ”disambangi” aparat Satpol PP dan polisi.

Tim SP, SURABAYA

Para petugas kepolisian maupun tim gabungan Pemkot Surabaya yang selalu menggelar razia di bulan suci lalu tak pernah melewatkan operasinya di hotel yang terletak di kawasan Surabaya Utara ini. Seperti kejadian tahun-tahun sebelumnya, selalu saja didapati pasangan mesum di hotel ini.

Rata-rata, pasangan yang tertangkap basah melakukan tindakan asusila di hotel ini berasal dari kalangan kelas menengah ke bawah. Ini bisa dimaklumi karena kelas hotel ini memang diperuntukkan bagi pelanggan kelas ini. Simak saja tarif kamar yang dipatok.

Meski lebih mahal dari hotel mini Kenjeran, tarif hotel Pasar Besar masih terjangkau kalangan pelajar hingga buruh pabrik. Di sini, tarif paling murah hanya Rp 65.000. Dengan nominal sebesar itu, para pecandu mesum bisa berindehoi ria secara short time atau layanan singkat per enam jam.

Murahnya tarif yang dipatok dengan fasilitas kamar yang lumayan untuk harga super murah tersebut tentu saja menarik minat para pemuas nafsu untuk memuaskan hasrat birahi mereka di hotel ini. Dari penelusuran Surabaya Pagi, harga Rp 65.000 tersebut sebenarnya masih bisa ditawar lebih murah lagi.

Sebab, petugas resepsionis yang menjaga tidak selalu mematok tarif sama di waktu yang sama. ‘’Kalau bisa nawar, kenanya bisa lebih murah lagi. Nggak sampai Rp 65.000 untuk short time,” tegas Hadi, seorang karyawan swasta yang mengaku langganan menginap di hotel Pasar Besar.

Namun, menurut Hadi, jika untuk menginap semalam penuh, memang harga paling murah Rp 65.000 itu. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. “Yang bisa ditawar hanya untuk layanan yang short time. Kalau menginap semalam, ya gak boleh (ditawar, red),” tutur Hadi.

Hadi sendiri mengatakan kalau ia kerap menginap di hotel dekat Tugu Pahlawan ini bersama selingkuhannya yang kebetulan satu kantor. Menurutnya, meski sering hotel ini terkenal sering digerebek petugas, namun selama ia menginap, ia tak pernah ikut-ikutan diangkut petugas. Menurutnya, ia sering mendapat bocoran dari karyawan hotel akan ada penggerebekan atau tidak.

“Kalau mereka (para karyawan) bilang aman, ya aku percaya pasti aman,” tambahnya. Lagipula, kata pria berkumis tipis itu, penggerebekan biasanya terjadi di bulan Ramadhan. “Kalau hari biasa, aman kok. Sangat jarang terjadi. Kalaupun iya, pasti bisa dirembuk (disuap,red) dengan petugasnya,” tukas Hadi. n

Berita lainnya
Mikir Parkir Pesawat, Luhut Pusing...
Kapolri Haiti, Pernah Jadi Kapolda...
Usul Galang Koin Untuk Muktamar
TKI Dipancung, DPRD Jatim Kecam Pe...
Pedagang Pasar Turi: Putus Kontrak...
Mantan Pecandu Narkoba Ikuti Homel...
Eksekusi Waduk Lidah Kulon, 8 Warg...
Ruislag di Era Bambang DH, Eksekus...
Dituding Otaki Gulingkan Jokowi, P...
Suap dan Judi Bola Sudah Jadi Laha...
Tak Dimanusiakan, Karyawan Indosat...
Ada RPH Modern di Puspa Agro
Tak Mudah Jadi Pengusaha Konstruksi
Sempat Diajak Naik Taksi, Cucu Nen...
Penumpang Lion Air Telantar di Ju...
  Komentar Anda :
  Nama * :   Email * :
  Komentar * :
  » :: Disclaimer
   
Auto Loading Records
×
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  67