menu.jpg
 
Zaken Kabinet, Kabinet Profesional

Pertanyaan:
Perombakan (“reshuffle”) Kabinet Indonesia Bersatu II, tinggal menghitung hari. Perombakan kabinet akan dilaksanakan, karena disinyalir kurang efektifnya kinerja menteri yang tidak sebanding dengan besarnya tanggung jawab Presiden. Pada saat yang sama, muncul istilah Zaken Kabinet. Menurut para pakar, hal ini dikarenakan kemenangan SBY-Budiono pada saat Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden mencapai suara 60 prosen lebih.
Apakah yang dimaksud dengan Zaken Kabinet?

Bramanta, Jember

Jawaban:
Menjadi menteri adalah menjadi pembantu presiden, seperti diatur dalam ketentuan Pasal 17 Undang-Undang Dasar 1945 yo Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. Itulah pembantu yang superbody karena berwenang dan berkuasa mengambil kebijakan publik. Karena memiliki wewenang dan kekuasaan untuk mengambil kebijakan publik inilah, sebagai pembantu, ia harus menyandang etika dan tanggung jawab publik. Menjadi menteri jelaslah orang pilihan.
SBY memiliki kebebasan mutlak untuk memilih pembantu-pembantunya dari kalangan profesional guna membentuk zaken kabinet atau kabinet ahli pada pemerintahan periode keduanya seperti yang dikehendaki rakyat yang telah memilihnya. Di mana zaken kabinet itu adalah kabinet ahli dalam bidangnya masing-masing, terdiri atas kalangan profesional. Itulah Kabinet Profesional.

Kini adalah zaman profesional, zaman tanpa batas, dan zaman globalisasi. Abad ke 21 dicirikan oleh globalisasi yang serba kompetitif dengan perubahan yang terus tanpa henti. Maka dengan demikian, kata profesional adalah sebuah keniscayaan.

Jadi, tidak terbayangkan lagi kalau masih ada yang berkehendak hadirnya sebuah kabinet atau pemerintahan yang jauh dari nilai-nilai profesional. Di sini arti profesional bukan sekadar profesional biasa, tetapi profesional kelas tinggi, world-class professionalism. Justru, ketika kita tidak mempedulikan kata profesional tersebut, maka berarti kita bersiap-siap untuk ‘’kalah’’ dalam pertarungan. Karena itu, kabinet profesional adalah kabinet yang selalu menampilkan kinerja terbaiknya. Tidak akan pernah menampilkan the second best. Selalu mengusahakan berada di posisi paling terbaik.

Kabinet profesional selalu termotivasi untuk berbuat baik bagi kemaslahatan masyarakat. Mementingkan mutu kerja. Keprofesionalannya diabdikan demi kebaikan masyarakat yang didorong oleh kebaikan hati, bahkan dengan kesediaan berkorban. Ia mampu mengendalikan mental spiritualnya, sehingga melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai, prinsip hidup, ataupun agama dan kepercayaan yang dianut.

Kabinet profesional tidak bekerja untuk kepuasan diri sendiri, tetapi lebih untuk kepuasan masyarakat lewat interaksi kerja. Juga karena sangat memahami bahwa kabinet profesional itu lahir dari kebutuhan masyarakat. Jadi harus bisa melayani masyarakat sebaik-baiknya secara konsisten dengan segenap ketulusan dan kerendahan hati.

Kabinet profesional adalah kabinet yang terdiri menteri-menteri yang menguasai bidangnya dan yang telah teruji. Di mana kompetensinya yang tinggi itu dicapai dengan disiplin belajar yang tinggi dan berkesinambungan. Karena menyadari tuntutan masyarakat semakin lama semakin tinggi, iapun terus belajar dan belajar guna bisa memberikan pelayanan terbaiknya.

Kabinet profesional terdiri atas menteri-menteri yang penuh pengabdian. Mereka memiliki rasa keterpanggilan untuk mengabdi di bidang keahliannya. Semuanya itu dilakukan dengan penuh kecintaan kepada masyarakatnya.

Kabinet profesional adalah kabinet yang senantiasa dinamis dan selalu berani melakukan terobosan atau kreatifitas baru bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Kabinet profesional adalah kabinet yang terdiri dari menteri-menteri yang selalu menjaga etika dan moralitas profesinya. Tidak pernah terkontaminasi uang dan kekuasaan yang lebih besar. Tetap mereka membutuhkan uang dan kekuasaan, tetapi mereka menerimanya secara terukur dan sesuai, semuanya sebagai bentuk penghargaan dari masyarakat.

Kabinet profesional terdiri atas orang yang tekun, sabar, dan tahan godaan. Sebab, menjadi profesional memerlukan proses yang panjang. Profesional tidak bisa langsung diraih selama satu minggu pelatihan. Profesionalitas merupakan proses yang berkesinambungan.

Walhasil, meskipun dengan perolehan suara di atas 60 prosen, SBY tetap membentuk kabinet koalisi dengan memperhitungkan perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (560 anggota). Komposisi perolehan kursi di DPR, yakni Partai Demokrat 148 kursi, Partai Golkar 106 kursi, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 94 kursi, Partai Keadilan Sejahtera 57 kursi, Partai Amanat Nasional 46 kursi, Partai Persatuan Pembangunan 38 kursi, Partai Kebangkitan Bangsa 28 kursi, Partai Gerindra 26 kursi, dan Partai Hanura 17 kursi.
Dan, Kabinet Indonesia Bersatu II dibentuk oleh SBY, merupakan koalisi beberapa partai, antara lain Partai Demokrat 10 menteri, Partai Keadilan Sejahtera 5 menteri, Partai Golkar 3 menteri, Partai Amanat Nasional 3 menteri, Partai Kebangkitan Bangsa 2 menteri, dan Partai Persatuan Pembangunan 1 menteri.***

Berita lainnya
PDI Perjuangan Setelah Ditinggal T...
Kenaikan BBM Final, DPR Minta Parp...
MPR-TNI Sepakat Evaluasi Pelaksana...
Panglima TNI Tandatangani Naskah K...
Bupati Buka Sosialisasi Pembentuka...
Penanggung Jawab Tatanan Kawasan K...
Sutan Bathoegana Ajukan Komplain K...
Gaji PNS Tahun 2013
77 Prajurit TNI Konga XXIII-G Naik...
Peralatan Satgas Kizi TNI di Haiti...
RS Level II Naqoura Periksa Klinik...
Panglima TNI Pimpin Sertijab Aslog...
7 SKPD Bersamaan Ikuti Pembinaan M...
Upacara Bendera Di Mabes TNI
Satgas Indobatt Di Inspeksi 16 Per...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  110