menu.jpg
 
Esek-eseknya Murah, Dan Lain-lainnya Bikin Kantong Jebol

Di antaranya; PSK yang praktek di lokalisasi Jarak umumnya sudah "STW". Dalam menjaring tamu, para PSK di Jarak juga cukup menampakkan dan menjajakan dirinya di depan wisma-wisma tinggalnya. Tak ada teriakan makelar menawarkan ‘barang’ sehingga lelaki hidung belang bisa lebih bebas memilih pasangan kencan.

Satu hal lagi yang membedakan kedua tempat pelacuran ini adalah tarif. Di Dolly berlaku harga pas, kalau pun bisa ditawar paling hanya bergeser sedikit saja dari harga semula. Sedangkan di Jarak dibutuhkan kemampuan tawar menawar. Rata-rata tarif sekali kencan dengan wanita di Jarak berkisar antara Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per jam.

Persamaan antara Dolly dengan Jarak adalah keduanya tidak berlaku short time maupun long time. Sebab, pembayaran dilakukan berdasarkan durasi. “Nggak masalah mau main berapa kali. Yang penting bookingnya per jam,” katanya.

Lokalisasi seluas 3 hektare ini, selain menyediakan kamar-kamar untuk check-in berukuran 1 x 2 meter, juga terdapat ruang karaoke. Di sini pelanggan bebas memilih lagu-lagu yang disukainya sambil ditemani menyanyi wanita-wanita itu.

Menurut data dari Yayasan Abdi Asih, sebuah lembaga sosial yang dikenal memiliki kepedulian melakukan pendampingan terhadap PSK, jumlah PSK di Jarak sebanyak 2.060 orang dan menempati 385 wisma. Angka ini, menurut Vera—Koordinator Abdi Asih--, kemungkinan besar terus bertambah sebab itu merupakan data tahun 2007.

“Faktor kemiskinan merupakan pemicu utama. Dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat. Ini sebuah angka yang fenomenal. Bayangkan, ada ribuan PSK di satu kelurahan yang sama,” tuturnya.
Lokasi yang strategis, tarif yang relatif terjangkau, dan banyaknya pilihan ‘barang’ menjadi magnet lokalisasi ini.

Salah satu pelanggan tetapnya adalah Winarso (40). Supir angkot yang ditemui Surabaya Pagi di sebuah warung kopi di kawasan Jarak ini mengaku jajan ke Jarak menjadi rutinitasnya sejak remaja. “Sudah kadung kepincut dengan suasananya. Saya kalau main ya di sini ini (Jarak, red). Pertama karaoke sambil minum bir, lalu nyarung,” katanya tanpa malu-malu. Nyarung merupakan istilah lazim bagi lelaki yang main dengan PSK di sini. Setiap kali berkunjung, ia harus merogoh kocek dalam-dalam. Sejak menginjakkan kaki hingga pulang, pengunjung lokalisasi memang harus mengeluarkan uang. “Mulai parkir, karaokenya, mbayar PSK untuk nemani karaoke, bir, nyarung, dan ke ponten. Nggak ada yang gratis mas di sini,” katanya seraya tertawa lepas. Paling tidak, setiap kali berangkat ia membawa sangu Rp 500 ribu. Dan itu, biasanya habis dalam semalam. Padahal, dalam sebulan ia biasanya datang ke Jarak bisa sampai 3 kali. “PSKnya memang murah. Dan lain-lainnya itu lho sing nggarai kantong jebol,’’ katanya.

Cerita Winarso dapat dijadikan gambaran betapa besarnya perputaran uang di lokalisasi ini. Jika satu PSK di Jarak melayani 3 tamu semalam dengan tarif rata-rata Rp 50 ribu, uang yang beredar Rp 309 juta. Jika dikalikan lagi dalam sebulan maka ketemu angka Rp 9, 27 miliar. Itu hanya perputaran uang jasa pelayanan seks oleh PSK, belum mencakup penjualan minuman, makanan, dan lain-lain.

Taruhlah jika satu wisma menjual satu krat bir seharga sekitar Rp 250.000 per krat, maka total transaksi penjualan bir dari 385 wisma di Jarak mencapai Rp Rp 9.625.000 dalam semalam. Dan dalam sebulan ketemu angka Rp 2,8 miliar untuk penjualan minuman saja.

Tak hanya malam hari, perputaran ekonomi juga menggeliat pada pagi dan siang hari, ketika para PSK sedang beristirahat. Saat itu, banyak ibu rumah tangga mencucikan baju para PSK, pedagang pakaian menawarkan pembelian kredit, dan para pedagang minuman memasok bir atau bermacam minuman keras lain.

”Cuci satu baju Rp 1.000, celana panjang Rp 1.500, satu singlet Rp 500. Satu hari, saya bisa dapat Rp 30.000,” kata Narti (37), warga Putat Jaya yang
menekuni jasa cuci baju sejak lima tahun terakhir.n arz

Berita lainnya
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  30