menu.jpg
 
Polrestabes Diam!

SURABAYA- Warga sekitar hotel short time ternyata risih dengan keberadaan penginapan tersebut. Selain tak memberi dampak ekonomi, pasangan mesum yang keluar masuk hotel itu berpengaruh buruk terhadap anak-anak mereka. Sayangnya, Polrestabes Surabaya belum bertindak tegas merazia rutin hotel tersebut yang nyata-nyata kerap dijadikan tempat perbuatan asusila maupun kriminalitas lainnya.

Umat Budha juga pernah memprotes Soetiaji Yudho, bos PT Granting Jaya, pengelola Pantai Ria Kenjeran (PRK). Pasalnya, di lokasi PRK terdapat hotel short time yang berdekatan dengan Kelenteng Kwan Kong Bio. Pantauan di lokasi, untuk menuju hotel mesum itu, salah satu jalan utama harus melewati Klenteng. Jarak antara hotel dengan Klenteng ini sekitar 300 meter.

’’Saya tidak setuju kalau tempatnya dekat dengan hotel. Apalagi Kelenteng Kwan Kiong Bio di lokasi Kenjeran konotasinya tempat hiburan hotel mesum. Kelenteng itu merupakan lambang kesucian atau tempat ibadah bagi umat Budha,’’ ungkap Pendeta M Widya Kusuma, Ketua Dayaka Sabha dari Yayasan dan Vihara Dhamma Jaya.

Sejumlah pedagang di PRK juga mengaku tidak suka dengan keberadaan hotel short time di area PRK. “Saya kurang suka dengan adanya pasangan mesum yang menginap di hotel mini. Jijik melihat mereka. Tapi, apa daya kami. Lokasi ini bukan wilayah warga, tapi milik Soetiadji Yudho,” tutur wanita berusia 40-an tahun ini saat ditemui Surabaya Pagi, kemarin.

Warga di sekitar hotel Puspa Asri Jl Kenjeran juga prihatin, mengapa hotel mesum itu tidak ditutup saja. “Toh keberadaannya tidak memberi tambahan pendapatan warga sekitar,” cetus pria yang mengaku bernama Ahmad, warga setempat.

Dia berani memastika jika pasangan yang keluar masuk di hotel tersebut adalah pasangan tak resmi. Bisa jadi pasangan selingkuh atau pasangan yang belum menikah. “Kalau dibiarkan, anak-anak kami bisa meniru mereka,” ungkapnya.

Sayangnya, protes warga itu tak digubris Soetiaji Yudho. Pengusaha keturunan China yang menjadi pelopor hotel short time ini tetap bungkam. Saat dikonfirmasi melalui ponselnya, kemarin, tak diangkat, meski terdengar nada sambung. Begitu juga ketika di-SMS, hingga berita ini ditulis tak ada jawaban.

Dampak Negatif

Warga Kupang Krajan juga resah, mengingat di sepanjang Jalan Pasar Kembang berderet hotel mesum, seperti LA Hotel dan Hasma Jaya I dan II. SY, pria yang hanya mau menyebut nama inisialnya saja ini mengaku resah dengan kehidupan kota besar yang membiarkan praktik mesum di hotel short time.

“Kalau ngomong resah, ya kita resah. Menjamurnya area mesum yang banyak dikoordinir hotel-hotel dan tempat hiburan jelas memberi pengaruh buruk bagi anak-anak muda,” keluh pria ini.

Menurut dia, informasi soal dunia esek-esek jelas yang masuk secara langsung di telinga anak-anak akan terekam dalam otak mereka. Lebih-lebih bagi mereka (anak-anak) yang tumbuh di sekitar lokalisasi. “Bayangkan saja, kalau berangkat sekolah, anak-anak yang tinggal di sini, mulai Kupang Krajan, Banyu Urip Kidul dan Putat Jaya, melintasi rumah-rumah bordil, hotel-hotel mesum, jelas itu mempengaruhi anak-anak,” protes SY.

Namun, dia juga mengaku tak mampu berbuat banyak. Jangankan masyarakat, pemerintah saja tak mampu “membumi hanguskan” Lokalisasi Dolly.

Polisi Masih Diam

Meski warga resah, tetapi Polrestabes Surabaya belum mengambil tindakan. Padahal, menurut pakar kriminolog Untag Surabaya Krist Lieden, dengan berbagai kejadian asusila dan kriminalitas lainnya, sudah saatnya polisi bertindak. Misalnya, melakukan razia rutin. “Kalau saat razia menemukan tamu yang check in berbeda KTP, itu sudah layak untuk diperiksa,” cetusnya.

Sayangnya, sejumlah perwira Polrestabes Surabaya enggan menanggapi keluhan warga tersebut. Kasat Reskrim Polrestabes AKBP Anom Wibowo berkilah bukan kapasitasnya memberikan jawaban mengenai masalah hotel mesum. “Langsung saja ke Kapolrestabes mas, bukan kapasitas saya,” kilah dia.

Kapolrestabes Kombespol Coki Manurung tidak bisa dikonfirmasi. Ketika dihubungi ponselnya terdengar nada sambung, tapi tidak diangkat. Wakapolrestabes AKBP M. Iqbal juga mengaku bukan kapasitasnya untuk menanggapi persoalan tersebut.

Namun, Kanit Reskrim Polsek Tegalsari Iptu Hengky Kristanto membantah jika polisi diam atas kejahatan yang terjadi di hotel short time. “Kami juga memperhatian masalah tersebut. Salah satu bentuk kepedulian polisi adalah menggelar razia di wilayah-wilayah tersebut,” katanya.

Kata Hengky, ini bukan sekali kami lakukan. Salah satu pengungkapan kasus penjualan ABG yang digelar beberapa hari lalu juga bagian dari operasi rutin di hotel-hotel yang ada di wilayah Tegalsari. “Untuk operasi rutin, kami tidak hanya melakukan razia terbuka, kami juga melakukan razia secara tertutup yang melibatkan reskrim dan
intel. Hanya saja, di polsek ini kan jumlah personelnya terbatas, tentu harus ada keterlibatan Unit Sabhara, Binmas dan beberapa personel lain dari Polrestabes Surabaya, yang berfungsi untuk memback-up minimnya personel di polsek,” papar dia. n ma/dy/ov

Berita lainnya
Pemudik Padati Tanjung Perak
Mantan Pangdam Brawijaya, Kasad
Terminal Purabaya Mulai Dipadati P...
KASAD Dicopot Mendadak
Foto Mesra Briptu Eka Beredar, Bik...
Arek Surabaya Jadi Korban MH17
Risma Ancam Alim Markus
Alim Markus Ingkari Perjanjian
Kecam Israel, HMI Jatim Luruk KFC ...
Waspadai Jalur 'Black Spot'
Mau Kaya, Jangan Jadi Dokter
Dibuka Sore Ini, Kampoeng Sholawat...
Pocong, Genderuwo , Wewe Gombel Un...
Pemerintah Siap Hadapi Gugatan New...
TUTUP! Hotel Milik Setiaji Yudho
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  111