menu.jpg
 
Pungli di Jembatan Timbang Dishub Jatim Kian Merajalela

SURABAYA- Dalam seminggu ini Surabaya Pagi menerima keluhan sejumlah sopir truk yang mengaku resah, karena praktik pungutan liar (pungli) di Jembatan Timbang (JT) kian menjadi-jadi. Saat diinvestigasi ke sejumlah Jembatan Timbang di Jawa Timur, pungli itu benar adanya. Ini membuktikan Pemprov Jatim belum mampu memutus mata rantai pungli di lingkungan Dinas Perhubungan Lalu Lintas Angkutan Jalan (Dishub DLLAJ) Jawa Timur. Padahal, sudah ada Perda Nomor 11 Tahun 2005 tentang Layanan Publik.

Berdasarkan pengamatan Surabaya Pagi, Selasa (19/4), banyak truk yang melintas di jalur pantura membawa muatan melebihi kapasitas. Asalkan membayar kepada petugas Jembatan Timbang, sopir yang mengangkut seberat apa pun tak ditilang dan diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Sementara besaran pungutan ini tiap daerah berbeda-beda, berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 60 ribu.

"Ya kalau ngasih duit ke petugas timbangan bukan rahasia lagi mas, sudah biasa terjadi. Kalau kebetulan kendaraan kita melebihi tonase ya kita setor minimal Rp 20-25 ribu," ujar Supimin, sopir truk PS 120 asal Kudus, Jawa Tengah, usai melintas di Jembatan Timbang Lamongan.

Kalau kebetulan kendaraan saya melebihi tonase, dan saya tidak sampai ngasih uang, pasti kita dikejar, malah bisa ditilang. Kalau sudah begitu malah panjang urusannya," timpal Parto sopir yang beralamat Sragen, Jawa Tengah.

Menariknya lagi, jika terpaksa ditilang, sopir tak harus menghadiri sidang tipiring di Pengadian Negeri setempat. Asal saja si sopir menyetor sejumlah uang ke petugas. “Istilahnya nitip siding, biayanya Rp 60 ribu,” beber dia.

Selama berada di jembatan timbang ini, kemarin, dari 50 truk hampir 70 persen melebihi tonase. Untuk menelisik terjadinya pungli di sini, Surabaya Pagi ikut menumpang mobil truk jenis Colt Diesel yang disopiri pria yang minta dipanggil Tris. Ternyata memang benar, Pak Tris ini harus membayar Rp 25 ribu kepada petugas Jembatan Timbang. Tarif segitu memang umum untuk truk diesel. Sedang truk lebih besar lagi pungutannya hingga Rp 50 ribu.

Selain di jalur Pantura, Surabaya Pagi juga mengamati Jembatan Timbang di jalur selatan. Salah satunya di Trowulan, Mojokerto. Seperti pengakuan Fadly, sopir truk asal Kedungmaling, Sooko. Sopir truk pengangkut pondasi yang kerap melakukan perjalanan Mojokerto-Ponorogo ini mengaku, pungutan yang diberikan kepada petugas jembatan timbang jumlahnya berkisar antara Rp 500 hingga Rp 10 ribu, per sekali lewat. ’’Sepertinya kalau bayar di jembatan cuma kira-kira. Jadi tidak pernah dihitung berapa muatan saya,’’ ungkapnya.

Jumlah tersebut, menurut Fadly, untuk angkutan dengan kapasitas yang wajar. Lebih dari kapasitas maksimal yang telah ditentukan, dirinya memberikan tambahan dalam jumlah lebih dan diberikan tersendiri secara sembunyi-sembunyi. Kendatipun petugas tidak menyebut jumlah nominalnya, namun di kalangan para sopir hal itu hal sudah kerap dilakukan.

’’Istilahnya dibawah meja. Kita biasa memberikan tambahan hingga Rp 20 ribu kalau kita merasa angkutan kita melebih kapasitas,’’ katanya.

Menurutnya, pembayaran tersebut tak hanya dilakukan saat hendak berangkat melewati jembatan timbang di wilayah Trowulan. Melainkan, hingga melewati beberapa tempat lainnya sampai memasuki wilayah Ponorogo. “Tak hanya di Trowulan, di beberapa tempat lainnya kita juga melewati jembatan timbang hingga masuk wilayah Ponorogo,” tandasnya.

Sepintas jumlah tersebut kecil, tetap jika dikalikan dengan jumlah truk yang melintas, tentu menjadi sangat besar. Apalagi di Jawa Timur terdapat 19 jembatan timbang milik Pemprov Jatim. Berdasarkan data yang dihimpun, jembatan timbang itu berada di Widodaren (Ngawi), Guyangan (Nganjuk), Pojok (Tulungagung), Talun (Blitar), Trowulan (Mojokerto) dan Mojoagung (Jombang).

Kemudian di Trosobo (Sidoarjo), Singosari (Malang), Rejoso (Pasuruan), Nguling (Pasuruan), Klaka (Lumajang), Besuki (Situbondo), Watudodol (Banyuwangi), Kali Barumanis (Banyuwangi), Rambigundam (Jember), Lamongan, Baureno (Bojonegoro), Widang (Tuban), dan Coka (Bangkalan).

Dihitung secara kasar saja, sebut saja di setiap jembatan timbang itu melintas 100 truk dalam sehari, dengan asumsi pungutan rata-rata Rp 25 ribu. Maka total pungutan di 19 jembatan timbang mencapai Rp 47,5 juta selama sehari. Jika per bulannya sekitarnya Rp 1,42 miliar, maka dalam setahun bisa mencapai Rp 17,1 miliar. Jumlah yang cukup besar.

Disetor ke Dishub Jatim
Menurut petugas Dishub di Jembatan Timbang Pasuruan, uang tersebut disetorkan ke Dinas Perhubungan Jawa Timur. “Yang makan itu lho pimpinan di Surabaya, mas. Kita kan cuma semut kecilnya,” cetus Wr saat bertemu di sudut ruas jalan keluar timbangan.

Sementara itu, M Rasjad, Kepala Jembatan Timbang Dinas Perhubungan di Lamongan, membantah kalau di lingkungan kerjanya terdapat praktek pungli. "Tidak ada pungli mas. Yang ada hanya membayar kompensasi atas kelebihan tonase kendaraan, itu pun harus diseusaikan dengan persentase jumlah berat yang diijinkan, dan perda No 7 tahun 2002," jelasnya.

Dalam perda tersebut menyebutkan, kalau kendaraan dengan berat 0-5000 Kg dan melebihi tonase 15 persen akan dikenakan biaya kompensasi Rp 2.500. Melebihi 30 persen dikenakan Rp 3.500. Sedangkan kendaraan berat 3500-18000 Kg melebihi tonase 15 persen dikenakan Rp 6.500, sedangkan yang melebihi 30 persen dikenakan Rp 9.000. Adapun yang kendaraan berat 18000 ke atas yang melebihi tonase 15 persen dikenakan Rp 15 ribu. Sementara yang melebihi 30 persen dikenakan Rp 20 ribu.

Rasjad menegaskan uang hasil dari kompensasi disetor semuanya ke Dinas Pendapatan Jawa Timur, melalui Bank Jatim setiap harinya. Jembatan timbang di Lamongan sendiri setiap harinya ditarget oleh Dinas Perbubungan Jatim mendapatkan dana kompensasi dari kelebihan tonase rata-rata Rp 5,7 juta, sehingga dalam satu tahun mencapai Rp 1,5 miliar. n jr/dr/fn

Berita lainnya
Polda kok Cuma Gerebek Prostitusi ...
Perawani Siswi SMP, Pria Malaysia ...
Semalam, Arek Mojokerto Bunuh Ayah...
Kajari Bojonegoro Dipolisikan
Edarkan Upal, Ibu dan Anak Dituntu...
Karyawan Diskotek 777 Terancam LDH
7 Bulan Ngendon Kasus Penganiayaan...
Lima Pelaku Curat Dibekuk
4 Pemuda Gilir Siswi SMP di Sawah
Lempari Bus, 4 Bonekmania Diamankan
Ingin Punya Motor, ABG Nyolong
Dicurigai Nyolong Sapi, Kadus Nyar...
Curi Pompa Air, Pengantin Baru Dir...
6 Perusak Pesantren YAPI Divonis 3...
Edarkan Pil, Pemuda Mojosari Dicid...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  55