menu.jpg
 
Cabut, Gelar Pendeta Alex

SURABAYA (SurabayaPagi) – Minggu kemarin (17/2), dua advokat yang menjadi kuasa pendiri Gereja Bethany Indonesia, menyusun bukti-bukti pendukung laporan penggelapan dan pencucian uang oleh Pdt. Abraham Alex Tanusaputra dan anaknya Pdt. David Aswin Tanusaputra. Bahkan Advokat George dan Ricard telah menyusun legal opinion tentang tindak pidana pencucian uang ayah dan anak yang kini tinggal di kerajaan Abraham Alex Tanusaputra, di perumahan belakang Gereja Bethany Indonesia, Jl. Nginden Intan Timur Surabaya.
“Modus Operandi Pencucian Uang Alex dan Aswin yang telah kami kumpulkan ada beberapa cara,’’ tegas George, usai berdiskusi dengan beberapa professor hukum dari Unair dan Jember. Modus pertama, menempatkan uang jemaat (placement) ke dalam sistem keuangan seperti deposito, mobil mewah, tanah, rumah dan barang antik. “Bisnis barang Antik dipusatkan di Bali dan dikelola oleh Aswin. Makanya setahun ini, Aswin lebih sering di Bali bersama seorang kepercayaannya,’’ ungkap George.
Pembelian mobil, jelasnya, Alex membeli dua mobil Roll Roice Phantom masing-masing seharga Rp 25 miliar. Rolls Roice Phantom yang dimilki Alex, di Indonesia hanya ada dua. Yang lain dimiliki oleh Hary Tanusidibyo, pemilik MNC TV. Disamping itu juga membeli mobil Rolls Roice tipe dibawahnya (Silver) dari Andry, AJBS sebesar Rp 5 miliar. Di kerajaannya, juga berjejer berjenis merek Harlay Dav idson dengan harga persatu minimal Rp 500 juta. Jumlahnya ada 50 buah. Mobil lain yang dikoleksi Pdt Abraham Alex ada merek Jaguar, Bentley, Land cruise, Ferrary, Lanborghini, Aston Martin, dan Mercedes tipe baru. “Semuanya ada nomor polisinya. Saya sampai binggung, kapan makainya. Apalagi Pdt Alex sudah tua.. apa ini bukan bagian dari pencurian uang,’’ kata seorang pengemar mobil mewah yang pernah melihat koleksi Pdt Alex di rumahnya.
Menurut George, dari beberapa pengurus Gereja yang dihubungi menginformasikan Pdt Alex juga melakukan lavering atau heavy soaping. Dalam modus ini, ada indikasi memindahkan uang dari satu bank ke bank lain di Indonesia dan luar negeri. Terhadap kasus ini, George, sudah mengirim surat ke PPATK. Karena kebetulan, ia memiliki kenalan yang bertugas di PPATK. Selain itu, Pdt Alex, juga memiliki beberapa perseroan terbatas yang memutarkan dana jemaat. Diantara PTnya bernama PT Helmon, yang pengurusnya hanya dua orang yaitu Pdt Abraham Alex Tanusaputra dan Pdt David Aswin Tanusaputra. PT. Helmon melakukan ikatan jual beli tanah seluas 6.000 m2 milik Pemkot yang digunakan Stikosa AWS seharga Rp 6 miliar lebih.
Dokumen lain yang dikantongi advokat George adalah dana jemaat digunakan untuk ivestasi real estate, barang mewah dan perusahaan-perusahaan. Diantaranya lahan di perumahan Citraland, Bali dan Malang. Diantara lahan itu ada yang dihibahkan dan dikuasakan Abraham Alex kepada Ptd Yusac.
George menyatakan bahwa ancaman terhadap pelaku tindak pidana pencucian uang maksimal 20 tahun dan denda Rp 10 miliar. Selain laporan pidana, ia juga membentuk komite penyelamat Gereja Bethany dan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Surabaya atas seorang notaris digunakan Pdt. Abraham Alex, untuk melakukan perubahan Akte Pendirian dengan melanggar hukum. ‘’Makanya Akte perubahan yang dibuat Akte, tidak diakui kementerian agama. Jadi sampai kini badan hukum yang sah menurut hukum diakui pemerintah adalah Akte Pendirian yang menyebut Pdt Leonard adalah pendiri bersama anak Pdt. Abraham Alex yang bernama Pdt. Hanna Asti Tanusaputra.
Tentang organisatoris Gereja Bethany, tambah Ricard, dengan tidak diakuinya Akte Perubahan oleh Kementerian Agama, maka badan-badan yang dibentuk Pdt. Abraham Alex, juga tidak sah. “Ada kecenderungan Pdt. Abraham Alex ingin dikultuskan. Masak pendeta menunjuk dirinya Dewan Rasul dan punya hak veto mutlak,’’ Richard, mempertanyakan.
Guru-guru atau Pendeta Palsu
Seorang jemaat Gereja Bethany Indonesia, Minggu pagi menelpon redaksi harian Surabaya Pagi. Sambil mengutip Firman Al-kitab : Yudas 11-16 yang mengatakan ‘’karena penyampaian surat Yugas merupakan peringatan yang berkobar-kobar kepada guru-guru (pendeta) palsu yang masih menyebut diri ‘’Kristen’’ namun mengajarkan ajaran sesat, sama seperti Sodom dan gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara sama melakukan pencabulan dan mengejar kepuasan yang tidak wajar, telah menanggung siksa api kekal sebagai peringatan kepada semua orang (Yugas 7).
Ditambahkannya, guru-guru atau pendeta palsu ini tidak mengerti asas-asas pokok iman al-kitab (1 timotius 1;4-6) menafis alkitab berdasarkan kehendak sendiri (2 Petrus 1; 21) dan menyampaikan firman Tuhan hanya untuk memuaskan keinginan telinga pendengar demi keuntungan duniawi bukan untuk menyatakan kebenaran (1 Tim; 4:3). “Kalau kelak tuduhan bahwa Pdt Abraham Alex dan Pdt David Aswin terbukti melakukan pencucian uang, maka gelar pendetanya harus dicabut. Pencabutannya karena perbuatannya telah menghujat Tuhan Allah,’’ jemaat Bethany ini menyatakan tidak iklas, dirinya memiliki pendeta yang menggunakan persepuluhan untuk menumpuk kekayaan dan hidup mewah. N 007

Berita lainnya
Selamatkam Uang Negara Rp 10 M
86 Persen Kepala Daerah Korupsi
ICW Tolak Remisi untuk Koruptor
Korupsi Haji, Wakil Ketua MPR Baka...
KPK Tak Takut Periksa Megawati
Markus Intervensi Korupsi BPR Prim...
Kasus Bupati Ade, KPK Periksa Dua ...
ICW Minta Jokowi Waspadai Koruptor...
Akui Korupsi Rp 8,7 M, Sekwan Dita...
Bidik Tersangka Baru Korupsi BPR T...
Kejari Tetapkan Tiga Tersangka Kor...
Korupsi Haji, Lima Adik Suryadharm...
KPK Buka Penyelidikan Baru Kasus C...
Korupsi Dana Bimtek, Kejari Tahan ...
Korupsi Haji, KPK Periksa Tiga Pas...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  86