Pria-pria Bersafari itu Mendadak Pukuli Pengunjuk Rasa
| Pemeriksaan Athiyah Laila, Istri Anas Urbaningrum, oleh KPK |
| Jumat, 27 April 2012 | 03:04 WIB |
|
|
|
Athiyah Laila, istri Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, akhirnya memenuhi panggilan pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi, Kamis (26/4). Berbeda dengan pemeriksaan yang dilakukan KPK sebelumnya, pemeriksaan terhadap istri orang nomor satu di Partai Demokrat ini justru diwarnai kericuhan. Ada apa? Berikut ini laporan wartawan Surabaya Pagi, Rama Setyawan.
Athiyah, mantan komisaris PT Dutasari Citralaras, akhirnya memenuhi panggilan KPK untuk dimintai keterangan terkait penyelidikan proyek pembangunan pusat pelatihan olahraga Hambalang, Jawa Barat. Athiyah tiba di gedung KPK Jakarta sekitar pukul 09.30 didampingi suaminya, Anas Urbaningrum. "Permintaan keterangan klarifikasi saja karena undangannya untuk PT Dutasari Citralaras tahun 2008 untuk kasus Hambalang 2010," ucap Athiyah.
Ia dan Anas tiba dengan Toyota Inova Hitam B 1716 SDC. Sedianya Athiyyah diperiksa pada Jumat (20/4) lalu. Namun, karena orang tuanya sakit, ia batal diperiksa. Namun yang menarik selama Athiyah dimintai keterangan, Anas setia menunggu di gedung KPK. Seorang petugas KPK yang enggan disebutkan namanya mengatakan, Anas menunggu istrinya di ruang tunggu tamu di lantai 7. "Ia (Anas) menunggu di ruang tunggu tamu," ujar petugas KPK yang enggan disebutkan namanya itu.
Anas yang sempat keluar untuk menemui sejumlah ibu-ibu pengajian rekan Athiyah yang ingin memberikan bunga sebagai dukungan untuk istrinya, mengaku tak mendampingi istrinya dalam pemeriksaan. "Dalam permintaan keterangan klarifikasi tentu saya tidak boleh mendampingi toh," tutur dia.
Terkait ibu-ibu pengajian, memang, selain Anas, ada sekelompok wanita berpakaian muslimah serba putih menyambangi gedung KPK. Masing-masing dari mereka menenteng setangkai mawar putih yang dibungkus plastik cantik. "Ini untuk Pak Anas," ujar salah satu wanita dalam kelompok itu yang direspon "terimakasih" oleh Anas.
Kedatangan puluhan wanita berpakaian putih itu rupanya untung mendukung istri Anas, Athiyah Laila menjalani pemeriksaan KPK. Athiyah diperiksa terkait penyelidikan pusat pembangunan olahraga Hambalang, Jawa Barat. "Kita ingin beri semangat untuk Ibu Athiyah," kata Titi (53). Ia mengaku datang sebagai kawan satu pengajian Athiyah. "Ada 30 an orang, dari pengajian di penggilingan, Cakung," ucap Titi.
Terlepas dari kesejukan yang diperlihatkan para ibu-ibu pengajian, di sisi lain, pemeriksaan terhadap Athiyah juga diwarnai kericuhan. Kericuhan berawal saat sekelompok orang yang menamakan diri mereka "Pemuda Cinta Tanah Air" menyambangi gedung KPK untuk menggelar aksi unjuk rasa. Mereka menuntut KPK menuntaskan kasus korupsi Wisma Atlet dan proyek Hambalang. Mereka membawa poster yang antara lain berbunyi "KPK, kumpulkan teman-teman Anas?".
Selain membawa poster, para pengunjuk rasa juga membawa anjing dan replika babi. Belum sempat para pengunjuk rasa menggelar orasi di luar gerbang KPK, sekelompok orang dari dalam pagar KPK menyeruak di antara kelompok itu dan memukul salah seorang pengunjuk rasa.
Belum diketahui dari mana asal kelompok itu. Namun kelompok pemukul pengunjuk rasa itu tiba tak lama setelah rombongan Anas Urbaningrum sampai di gedung KPK. Mereka bersafari hitam dan mengendarai mobil Alphard. Pihak kepolisian pun mengamankan bentrokan di pagar gedung KPK itu. Para pengunjuk rasa diamankan ke samping gedung KPK.
Namun, bentrokan rupanya berlanjut. Kelompok bersafari itu kembali baku hantam dengan pengunjuk rasa di samping gedung KPK. Sejumlah petugas kepolisian pun kembali mengerubungi pihak yang bertikai. Entah bagaimana ceritanya, gerombolan pihak yang bertikai itu sampai ke pagar gedung KPK dan masuk ke dalam gedung. Kericuhan semakin memanas saat ada pewarta foto yang berupaya mengabadikan momen itu terkena pukulan. Akibatnya, para pewarta yang lain ikut panas dan terlibat baku hantam dengan pria-pria bersafari itu.
Kericuhan menjalar hingga ke tangga dekat pintu gedung KPK. Lebih dari 50 petugas kepolisian mengamankan bentrok antara wartawan dan orang yang diduga pendukung Anas itu. Kericuhan pun berakhir setelah polisi mengusir pria-pria bersafari itu ke luar gedung KPK.
Anas sendiri mengelak jika pria-pria bersafari itu adalah pengawal-pengawalnya. "Saya hadir berdua dengan istri saya. Saya hadir pribadi, saya mengantar, jadi kalau ada yang mengaku pengawal, tidak ada. Saya menyesalkan kalau ada hal-hal yang kurang baik di dalam proses ini, tetapi saya jamin tidak ada pengawal-pengawal itu," kata Anas.
Hingga kini, lebih dari 50 orang telah diperiksa. Mereka di antaranya, Direktur Utama PT Duta Graha Indah (PT DGI), Dudung Purwadi, Manajer Pemasaran PT DGI, Mohamad El Idris, mantan Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, Wafid Muharam, Kepala Badan Pertahanan Nasional, Joyo Winoto, anggota Komisi II DPR asal Fraksi Partai Demokrat, Ignatius Mulyono, serta pejabat PT Adhi Karya, Mahfud Suroso.
PT Dutasari Citralaras merupakan salah satu perusahaan yang menjadi subkontraktor PT Adhi Karya dalam proyek Hambalang senilai Rp1,52 triliun tersebut. Perusahaan itu juga dipimpin Mahfud Suroso, yang kerap disebut sebagai orang dekat Anas. Penyelidikan kasus pembangunan pusat olahraga Hambalang ini berawal dari temuan KPK saat melakukan penggeledahan di kantor Grup Permai (perusahaan Muhammad Nazaruddin), beberapa waktu lalu terkait penyidikan kasus dugaan suap wisma atlet SEA Games.
Nazaruddin menyebut keterlibatan Anas dalam kasus Hambalang. Nazaruddin menyebut uang suap dialirkan untuk pemenangan Anas menjadi ketua umum dalam Kongres II Partai Demokrat di Bandung pada Mei 2010.
Dalam berita acara pemeriksaan Nazaruddin, Anas disebut sebagai pihak yang mengatur proyek pembangunan Hambalang. Tudingan Nazaruddin itu dibantah Anas.
Belakangan, KPK intensif melakukan pemeriksaan sejumlah pihak terkait penyelidikan proyek Hambalang. KPK mengusut indikasi dugaan korupsi terkait sengketa lahan Hambalang maupun terkait pembangunan proyek.
Pemeriksaan Angie
Sementara itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan pada Jumat (27/4) ini memanggil Angelina Sondakh. Pemanggilan terkait lanjutan pemeriksaan kasus dugaan penerimaan suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games. "Angie akan dipanggil besok untuk diperiksa penyidik KPK terkait kasus dugaan penerimaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games," tegas Juru Bicara KPK Johan Budi kepada wartawan usai acara diskusi tentang Keterbukaan Informasi di Garden Palace Hotel Surabaya, Kamis (26/4).
Menurut dia, meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, terkait kasus dugaan penerimaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games namun anggota Komisi X DPR RI belum dipastikan akan ditahan. "Belum ada keputusan apakah dia (Angie, red) langsung ditahan atau tidak setelah diperiksa besok. Yang jelas besok Angie diperiksa penyidik KPK," tukasnya.
Johan mengatakan, keputusan penahanan itu sepenuhnya menjadi wewenang penyidik. Sebab, seseorag ditahan atau tidak tergantung berbagai pertimbangan oleh penyidik KPK. "Ada pertimbangan subyektif atau obyektif semua tergantung penyidik nanti," katanya.
Dia mengakui, memang untuk melakukan pemeriksaan terhadap Angie ini membutuhkan waktu yang lama. Pasalnya, politisi dari Partai Demokrat ini dibutuhkan untuk bersaksi dalam kasusnya M Nazaruddin. "Setelah tidak dibutuhkan lagi dari situ baru KPK melakukan pemeriksaan," imbuhnya. n
|
|