menu.jpg
 
Gigolo Macho Layani Gay juga Tante Kesepian

Bisnis prostitusi gigolo khusus kaum homo atau gay milik Sugito, yang dibongkar Polrestabes Surabaya, ternyata memiliki ratusan anak buah. Mereka tersebar di Surabaya dan sekitarnya. Lalu, apa kelebihan para ‘Kucing’ --sebutan gigolo gay— dibanding pekerja seks komersial lainnya? Berikut ini laporan wartawan Surabaya Pagi.

Meski memiliki ratusan anak buah, tapi tidak semua gigolo itu ikut pria asal Nganjuk yang tinggal di Jalan Kupang Krajan gang Masjid, Surabaya, itu. Sebagian dari mereka bekerja secara berkelompok, ada juga yang mandiri (tanpa mucikari). Sugito mengaku sudah tak bisa menghitung berapa gigolo gay yang pernah bekerja dengannya. Gigolo-gigolo yang dibina sejak tahun 2004 itu menjadi gigolo profesional.

“Anak buah saya datang dan pergi. Ada yang pergi, ndak lama ada yang datang. Yang jelas, anak buahnya saya sekarang tidak lebih dari enam atau tujuh orang,” ujar Sugito di Mapolrestabes Surabaya, kemarin.

Pria yang akrab disapa Mas Totok ini berujar, rata-rata anak buahnya bertahan beberapa bulan saja. Ada pula satu anak buahnya yang ikut diamankan kemarin yang sudah menggunakan jasanya sampai dua tahun, yakni Doni alias Akhmad Setiawan. “Dia yang paling lama, ikut saya dua tahun,” cetus duda tanpa anak ini.

Sedangkan lima anak buahnya yang lain, baru bekerja dalam hitungan hari sampai minggu saja. Sugito menduga mantan anak buahnya itu memilih lepas darinya karena bisa mendapatkan pelanggan sendiri. “Kalau ikut aku kan keuntungannya harus dibagi. Tapi kalau mereka bekerja sendiri, ya hasilnya untuk mereka sendiri. Tapi segala risikonya ya harus mereka tanggung sendiri juga,” ungkapnya.

Agar pelanggannya betah dan menjadi langganan, ada syarat khusus bagi Sugito dalam memilih anak buah. Gigolo yang ingin menjadi anak buahnya haruslah berparas ganteng dan cakap. Badannya pun harus tegap. "Pokoknya tidak jelek," tandas Sugito.

Karena itu tidaklah heran bila dalam sehari Sugito bisa mendapat 4-5 orderan. Bahkan bisa dibilang orang yang mengorder anak buahnya adalah langganan tetap. Tetapi paras tampan dan tubuh tegap tidaklah berarti jika yang bersangkutan tidak mempunyai KTP. Setampan dan setegap apapun orangnya, kalau tidak punya KTP Sugito tidak akan menerimanya. "Kalau ada apa-apa gimana," tukas Sugito.

Dalam melayani tamunya, Sugito mewajibkan anak buahnya menggunakan kondom. Karena itu polisi menemukan banyak kemasan kondom saat menggerebek tempat praktik Sugito. Dia juga menyediakan hand body sebagai pelumas saat berhubungan.

Sugito memang dikenal sebagai penyedia gigolo sukses. Dalam satu bulan, Sugito bisa meraup untung bersih sampai Rp 7,5 juta. Di mata anak buahnya, Sugito memang dikenal baik dan keibuan karena mau ngemong mereka hidup di Surabaya.

Diberitakan sebelumnya, anggota Unit PPA Sat Reskrim Polrestabes Surabaya menggerebek tiga kamar di Hotel Hasma Jaya I, Jl Pasar Kembang, Surabaya. Hotel kelas melati ini ternyata dijadikan markas penampungan gigolo gay berkedok pijat. Polisi menetapkan Sugito alias Mas Totok (36) sebagai tersangka.

Sedangkan enam lelaki muda yang menjadi anak buahnya diperiksa sebagai saksi. Mereka adalah Akhmad Setiawan (28) warga Sunter, Jakarta Utara; Sutirja (21) warga Tugu Jaya Cigombong; Octavianus Pinontoan (27), warga Cilincing Jakarta Utara; Suritno (22), warga Tanjung Harja Tegal; Tri Yoyong Apriliyanto (19), warga Gumelar Banyumas, Jawa Tengah; dan M. Khoirul Anwar (18), warga Pasuruan.

Tak Semua Gay
Dalam penelusuran Surabaya Pagi, gigolo di Surabaya tak semuanya gay. Para lelaki yang kelihatan macho itu tetap melayani orderan tante-tante, yang nota bene wanita bersuami. Gigolo yang menarik perhatian usianya berkisar 20-25 tahun. Mereka terbagi dalam dua kelompok. Ada yang terorganisir dan freelance.

Mereka yang terorganisir, gerakannya diatur germo atau biasa disebut GM. Germo inilah yang mencari target atau order. Gigolo yang terorganisir lebih rapi dan tertutup, lantaran kliennya pengusaha wanita terpandang. Sementara kelompok gigolo yang freelance, biasanya menawarkan diri secara terbuka lewat iklan-iklan di surat kabar. Belakangan, marak juga di group-group situs jejaring sosial seperti facebook.

“Gigolo yang menawarkan diri lewat iklan atau facebook, bisa ditebak konsumennya wanita-wanita kelas ekonomi menengah atas,” cetus Andi, mantan gigolo yang kini menggeluti dunia entertainment di Surabaya.

Meski jaringan gigolo sangat tertutup, tidak jarang mereka nongkrong di satu tempat untuk ‘tebar pesona’. Para gigolo biasanya memanfaatkan pusat-pusat keramaian, seperti resto cepat saji di plasa-plasa di pusat kota. Kalau di Surabaya, salah satu tempat tongkrongan gigolo ini di restoran cepat saji di jalan Basuki Rahmat dan kafe-kafe di mall jalan Adityawarman.

“Tak jarang dari sekadar makan sambil ngobrol berjam-jam di tempat itu, kami dapat target, lalu berlanjut check in,” ungkapnya. n bi

Berita lainnya
Petani Keberatan BBM Naik
Ancam Bunuh Istri, Tewas Dikeroyok...
Mediasi Buntu, Bos Baleman dan BNI...
10 Tahun Selingkuh, Hakim Tipikor ...
Bedil Polisi Meletus, PN Surabaya ...
Curi Minyak Telon, SPG Dibui 127 H...
Orok Membusuk Di Halte Bus
Pembobol Kantor Pos Digulung
Jembatan Runtuh Timpa 5 Pekerja
Kecanduan Sabu, Ibu RT Dibui
Awas, Rampok Nyamar Pembantu
Perampok Kakap Masih Berkeliaran
KPKNL Salahkan BNI dan PT Baleman
Nyamar Wanita, Unggah Ribuan Foto ...
Ditinggal Nyuci, Balita Tewas di B...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  155