menu.jpg
 
Biaya Renovasi Masjidil Haram Rp 91 Triliun

Menghabiskan anggaran 40 miliar Riyal Saudi atau sekitar Rp 91 triliun, proyek perluasan area Masjidil Haram bukanlah proyek asal-asalan. Dengan menambah area 400.000 meter persegi, daya tampung masjid bertambah menjadi 1,2 juta orang. Akan menjadi seperti apa Masjidil Haram ke depan dan bagaimana nasib calon jamaah haji dan jamaah umroh mendatang? Berikut ini laporannya.

Amrizal & Joshua, SURABAYA

Tak kurang dari 12 juta orang beribadah di Mekkah dan Madinah setiap tahun. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat hingga 17 juta jamaah jelang 2025. Khafilah haji/umrah Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Setiap bulan, tak kurang dari 2000 orang Indonesia pergi umroh. Sedangkan setiap tahun, sekitar 200 ribu orang Indonesia pergi haji.

Kabar terbaru, pengurangan kuota 20 persen haji dan umroh akibat proyek perluasan masjidil haram itu tidak hanya pada tahun ini. Tetapi akan terus belanjut sampai 2-3 tahun ke depan. Sedang dampak pengurangan kuota itu, untuk tahun ini saja, 43 ribu jamaah calon haji Indonesia gagal berangkat.

Ini diakui Menteri Agaman (Menag) Suryadarma Ali. Pihaknya sudah bertemu dengan penguasa urusan haji Arab Saudi, minta agar pengurangan kuota itu tidak diberlakukan bagi Indonesia. Pasalnya, jumlah jamaah calon haji yang masuk daftar tunggu lebih dari satu juta orang.

Setiap jamaah baru bisa berangkat paling cepat lima tahun setelah mendaftar, bahkan ada yang lebih lama. Namun permohonan Indonesia itu ditolak, dengan alasan demi keadilan. “Yang direnovasi ini rumah Allah untuk tamu Allah. Semua negara harus legowo,” cetus Suryadarma Ali, kemarin.

Kata Suryadarma Ali, Indonesia mengusulkan pemotongan kuota diganti pada musim haji berikutnya sebesar 60 persen. Tapi Pemerintah Arab Saudi belum memberi kepastian atas usulan Indonesia itu. “Kalau tahun ini dipotong 20 persen, maka pada tahun 2017 seharusnya kita mendapat penambahan 60 persen,” timpal anggota Komisi VIII DPR Hidayat Nur Wahid.

Paska Renovasi

Sebuah Master Plan telah dibuat untuk merubah kawasan di sebelah Masjidil Haram menjadi lebih luas sekitar 35%. Perluasan ini bertujuan untuk menampung pertambahan jumlah haji dan para jam’ah, khususnya sepanjang puncak musim ibadah haji dan umroh. Renovasi besar-besaran itu atas perintah Raja Abdullah, selaku Penjaga Dua Kota Suci (Khadimul Haramain). Raja Abdullah ingin menambah 35% kapasitas Masjidil Haram. Pada saat ini, masjid seluas 356.000 meter persegi itu mampu menampung hingga 2 juta jamaah di dalam dan di halaman.

Proyek pengembangan keempat itu bisa dibilang yang terbesar. Menurut data dari Kementerian Urusan Kota dan Desa, yang dipublikasikan kantor berita KPA, Pemerintah Arab Saudi akan memperluas halaman masjid, membangun tempat parkir, dan memperluas lokasi sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah menjadi tiga tingkat.

Pembangunan intensif juga terjadi di Mina, Musdalifah, dan Arafah, yang menjadi rangkaian tempat pelaksanaan ibadah haji. Tempat pelemparan jumrah ditata ulang demi keamanan jamaah. Jaringan transportasi subway juga akan dibangun mulai seputar Masjidil Haram hingga Arafah. Proyek yang diperkirakan baru tuntas tahun 2020. Gelontoran dana super banyak ini mencakup pembangunan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel-hotel baru di Mekkah.

Menurut Humas Kanwil Kementrian Agama (Kemenag) Jawa Timur, Dr Fatchul Arief Mpd, saat ini pengerjaan Masjidil Haram baru 50 persen. “Kalau Masjidil Haram sekarang hanya bisa menampung 22 ribu jamaah mas, dari yang seharusnya 48 ribu jamaah,” ujarnya ketika ditemui di kantornya jalan raya Juanda, kemarin (28/7).

Masjidil Haram sendiri, lanjut Arief, yang dirombak sekarang ini baru pada bagian sekeliling Ka’bah yang digunakan untuk Thawaf. “Jadi di tempat sekeliling Ka’bah yang digunakan untuk thawaf itu diberi semacam atap agar para jamaah yang melakukan ibadah thawaf tak merasa kepanasan,” tandas alumnus IAIN Sunan Ampel ini.

Arief mengakui terjadi penurunan jamaah umroh dan haji dari Jawa Timur sekitar 30 persen, karena adanya perbaikan Masjidil Haram tersebut. Hal yang sama juga dikatakan Jamil dari Alia Tours and Travel, menurut dia atap yang seperti cincin di sekeliling Ka’bah sudah terpasang. “Yang jelas, bangunan untuk thawaf di lantai 2 sudah terpasang, jadi melingkar seperti cincin,” ujar lelaki keturunan Arab ini.

Hal itu, menurut Jamil, dilakukan untuk mengantisipasi membludaknya jumlah orang yang thawaf. Sementara untuk jamaah disable atau jamaah yang berkebutuhan khusus disediakan di lantai 2. Untuk thawaf di lantai 2 diperkirakan saat musim haji nanti sudap dapat digunakan. “Thawaf di lantai 2 itu digunakan untuk jamaah yang memakai kursi roda,” paparnya.

Jamil mengungkapkan pemugaran di depan Multazam (pintu Ka’bah) tetap dilakukan bersamaan dengan pembangunan Masjidil Haram. Pembangunan tersebut menjadi rencana proyek besar yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi untuk memperluas area Masjidil Haram.

Berarti saat musim haji sudah normal kembali? ”Kalau normal 100 persen sih belum, masih ada pembangunan yang mega proyek itu,” jawabnya. Sementara itu menurut Abdul Rouf jamaah umroh yang baru saja sampai tanah air mengatakan kondisi di Masjidil Haram masih dibangun dan terus dikebut untuk mengejar musim haji yang tiba beberapa bulan lagi. “Jadi banyak debu-debu yang beterbangan gitu mas, solusinya ya pakai masker,” tukasnya. n habis

Berita lainnya
Perusahaan Dimerger, Karyawan Fina...
Jadi First Lady, Bagaimana Perasaa...
Kompol Simamora Berlebihan
KBS Tambah Bayi Anoa
Rekonstruksi Bethany Ricuh
Harta, Saiful Ilah - Sambari Berli...
Penataan Videotron Masih Rusak Lin...
Bapak Bethany Tersangka
Tokoh NU Juga Gundah Atasi FPI
Mau Lengser, SBY Unjuk Kekuatan
Buruh Minta Upah Naik 30%
Sukses Korban Lapindo Bisnis Pepay...
Pdt Aswin Dilawan
Gandeng Korsel, Produksi Pesawat T...
Pdt Aswin Mbalelo
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  126