•   Rabu, 22 Januari 2020
Traveling

Tidak Seseram yang Dibayangkan

( words)

Mendengar kata peti mati mungkin agak seram juga ya! Namun anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, masih ada jasa penjualan peti mati yang dapat ‘menghibur’ orang yang sedang berduka. Menghibur dalam hal ini berarti membantu mereka yang berduka dalam proses sebelum jenazah dimakamkan. Wartawan SurabayaPagi, Byta & Indra Ibarat kata, layanan atau jasa ini menjadi salah satu bisnis yang dapat membantu mereka yang sedang berduka. Beberapa perusahaan penyedia jasa peti mati masih bertahan hingga sekarang, di antaranya yang ada di jalan Dinoyo 94-96 Surabaya ini. Baca juga :Taman Nasional Langit Gelap Pertama Di Indonesia Akan Lahir Di Kupang Aryo Karjanto, pemilik dari Ario mengatakan bisnis peti mati itu tidak seseram yang dibayangkan oleh orang-orang. "Orang-orang yang keluarganya meninggal pasti merasa sedih. Nah, kami yang di Ario ini memiliki tugas menghibur keluarga-keluarga yang berduka cita dengan cara memberi servis sedemikian rupa," kata Aryo. Ario peti mati ini memiliki sekitar 20 orang karyawan dan melayani selama 24 jam penuh. Hal tersebut untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu ada pesanan peti untuk orang meninggal. Melani, yang telah bekerja selama 21 tahun sebagai karyawan di Ario mengatakan, selain menyediakan peti mati, disana juga memberikan jasa mengantarkan jenasah sampai ke makam hingga menurunkan peti mati ke dalam liang kubur. "Kalau untuk memakamkan jenasah, itu sudah ada petugasnya sendiri. Kita hanya bantu sampai menurunkan peti aja, kan tugasnya sudah beda-beda," jawab Melani. Ia menambahkan, untuk produksi peti mati ini, biasanya pihak Ario memesan dari pihak lain. Dengan dua tipe yaitu peti mati setengah jadi dan peti mati yang sudah benar-benar jadi. Meskipun ada pula yang sebagian dibuat sendiri ditempat tersebut. Untuk ukuran peti mati yakni mulai dari kecil, standart dan ukuran besar.

Namun kebanyakan yang digunakan adalah ukuran standart karena sesuai dengan postur orang Indonesia umumnya. Sementara untuk jenasah yang memiliki postur besar atau anak-anak, ukuran petinya menyesuaikan. Melani mengatakan sejauh ini pesanan justru datang dari Jepara, Pandaan dan Bojonegoro. Untuk Surabaya sendiri hampir tidak ada. Dan kebanyakan mereka yang mempunyai keturunan Tionghoa atau yang beragama Kristen. "Ya mungkin terkendala lahan kali ya, kan di Surabaya sudah jarang pemakaman yang lahannya luas," ujar perempuan 71 tahun ini. Soal harga ia mengatakan tiap peti berbeda-beda tergantung pesanan. Bahkan ada peti yang diberikan secara gratis, tentunya hanya untuk keluarga jenasah yang benar-benar tidak mampu. Seperti diketahui, peti mati ini merupakan peralatan untuk orang meninggal. Sering kali masyarakat Tionghoa yang beragama non muslim, menggunakannya untuk menyimpan jasad sebelum dimakamkan. Pemakaiannya kadang agak lama atau hanya hitungan jam sudah dimakamkan. Untuk ketahanan, peti ini sendiri terbilang cukup lama bergantung bahan yang digunakan. Sehingga tidak akan karatan, atau dimakan rayap. Inilah bisnis kemanusiaan yang dilakukan segelintir pengusaha Tionghoa yang tinggal di Indonesia. Memang, tidak hanya melayani masyarakat Tionghoa saja, masyarakat pribumi juga yang membutuhkan peti untuk keluarga atau kerabatnya yang meninggal. Selain dimakamkan menggunakan peti mati, adajuga yang memilih ingin dimakamkan dengan cara dikremasi. Tentu saja ini tergantung permintaan keluarga. Pilih dimakamkan atau dikremasi? Bila menggunakan peti maka akan dimakamkan di pemakaman, namun bila dikremasi, jasad akan dibakar hingga habis menjadi abu.

Sisa kremasi dapat disimpan kembali oleh pihak keluarga, maupun di larungkan ke laut. Upacara pemakaman juga disesuaikan dengan kesanggupan dari masing-masing keluarga. Tidak sedikit yang membawa ke rumah duka sebelum dimakamkan, namun juga tidak sedikit yang langsung dimakamkan. Bagi beberapa keturunan Tionghoa yang memeluk agama Konghucu, mereka harus menunggu hari/tanggal baik sebelum keluarga mereka dimakamkan maupun dikremasi. Mereka percaya bahwa hal ini merupakan kesempatan untuk menuju jalan baik ke surga. Tepat pada hari ke 49 pun biasanya mereka akan datang kepemakaman untuk menabur bunga dan berdoa. Mereka biasanya hadir dengan menggunakan baju putih atau warna lain selain warna merah. Selain Ario, ada pula jasa pemakaman berlabel Rahmat Sejahtera. Penyedia jasa peti mati ini sudah berdiri lebih dari 30 tahun. Lisa selaku salah satu pegawai menjelaskan, banyak yang memesan peti mati. “Jadi tidak orang Tionghoa saja tapi kepercayaan lain juga ada, ya seperti Konghucu, Kristen dan Khatolik itu wajar. Ada juga yang Hind dan bahkan Islam. Semua ada," tuturnya. Penyedia jasa ini tidak hanya menyediakan peti mati saja, namun juga jasa pengantaran hingga pemakaman jenazah, pemandian jenazah, serta merias jenazah. "Semuanya lengkap, biasanya sesuai permintaan keluarga. Dimandikan, dirias, itu sudah menjadi bagian dari pelayanan kami. Iya hanya begitu, mungkin bedanya kalau Konghucu sebelum dimakamkan harus mencari hari atau tanggal baik untuk dimakamkan. Jadi kami juga ikut menunggu sesuai hitungan tanggalnya saja" tambah Lisa.

Baca juga :FOTO: Kemeriahan Parade Juang 2019.

Berita Populer