Tersangka Korupsi Bank Jatim Belum Diadili

 

Dua tersangka korupsi Bank Jatim, Wonggo Prayitno dan Arya Lelana.


SURABAYAPAGI.com, Surabaya- Perkara dugaan korupsi kredit macet Bank Jatim ke PT Surya Graha Semesta (SGS) senilai Rp 155 miliar yang terjadi di era kepimpinan Hadi Sukrianto, ternyata belum juga dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya. Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya beralasan pihaknya masih menyempurnakan surat dakwaannya. Karena itu pula, dua tersangka yang sudah ditahan diperpanjang masa penahanannya 30 hari ke depan. Dua tersangka itu, mantan pimpinan Divisi Kredit KMK Bank Jatim Wonggo Prayitno dan mantan Pimsubdiv Kredit KMK Bank Jatim Arya Lelana.

"Surat dakwaannya masih perlu kami sempurnakan lagi," tutur Kasi Pidsus Kejari Surabaya, Heru Kamarullah SH didampingi Kasi Intel Kejari Surabaya, I Ketut Kasna Dedi, Kamis (2/11/2017).

Selain menyempurnakan dakwaan, Heru juga telah memperpanjang penahanan kedua tersangka selama 30 hari ke depan. "Penahanannya juga sudah kami perpanjang," lanjut dia. Untuk diketahui, kedua tersangka ini ditahan setelah Kejaksaan Negeri Surabaya menerima pelimpahan berkas perkara dan tersangka dari Kejaksaan Agung, 12 Oktober 2017 lalu. Mereka dianggap melakukan korupsi kredit macet PT Bank Jatim ke PT Surya Graha Semesta (SGS) senilai Rp 147 miliar.

Heru berjanji akan segera merampungkan surat dakwaan yang saat ini dalam tahap penyempurnaan. "Selanjutnya kami akan limpahkan berkas perkaranya ke Pengadilan Tipikor," ujar Heru.

Seperti terungkap sebelumnya, tersangka Wonggo Prayitno dan Arya Lelana dinilai berperan dalam pemberian kredit ke PT SGS yang telah melanggar SK Direksi Nomor 048/203/KEP/DIR/KRD tertanggal 31 Desember 2010. Pada proses pemberian penasabahan plafon kredit standby load kepada PT SGS dari nilai awal Rp 80 miliar menjadi Rp 125 miliar.

Pemberian kredit itu tidak sesuai dengan Debt Equity Ratio (DER) dan dokumen SPMK.
Selain itu berdasarkan fakta ternyata PT SGS tidak pernah mendapatkan proyek APBD, tapi telah diajukan dalam proses penambahan plafon kredit dan tidak sesuai dengan ketentuan buku Pedoman Perkreditan Kredit Menengah dan Korporasi SK Nomor 043/031/KEP/DIR/KRD tanggal 28 Februari 2005 yang kemudian dilakukan perubahan pada Buku Pedoman Pelaksanaan Kredit Menengah dan Korporasi SK Dir Nomor 047/001/DIR/KRD tanggal 30 Januari 2009.

Perbuatan para tersangka merugikan keuangan negara sebesar Rp 155.036.704.864,21 yang terdiri dari Rp 120.700.714.443, yang merupakan selisih antara nilai pencairan kredit delapan proyek yang terminnya dijadikan jaminan utama pada pemberian kredit PT. SGS dengan angsuran yang telah dibayarkan dan bunga yang macet sebesar Rp. 34.335.998.421,21.

Tersangka dijerat Pasal 2, pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Untuk diketahui, PT SGS pernah terlibat kasus hukum terkait dugaan korupsi sejumlah proyek fisik. Diantaranya pembangunan Jembatan Brawijaya di Kota Kediri, yang dana pembangunannya juga diperoleh dari kredit yang dikucurkan Bank Jatim, saat era Hadi Sukrianto sebagai Dirut Bank Jatim. n



Komentar Anda