Dalam Pengolaan Dana BOS, Sunah Selalu Abaikan Pimpinannya

 

Kantor Cabang Dindik Provinsi Jawa Timur di Lamongan terlihat lebih sepi dari biasanya, menyusul Sun'ah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan.


SURABAYA PAGI, Lamongan - Dalam hal pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di lingkungan Pendidikan Lamongan saat itu, teryata tersangka Sun'ah sering sekali mengabaikan atasanya dalam setiap kebijakan meski langkah yang dilakukan itu terkadang salah.


Dari penelusuran Surabaya Pagi saat menemui beberapa sumber pasca penetapan Sun'ah sebagai tersangka, disebutkan,  kalau pria yang kini menjabat sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur di Lamongan ini, orangnya terlalu pede, terkadang arogan, regulasipun banyak yang ditabrak, dan selalu mengganggap dirinya paling bisa. Sehingga jarang bahkan tidak pernah koordinasi dan meminta petunjuk dari atasanya, meski kebijakan itu sangat berresiko. 


Sementara itu, Agus Suyanto mantan Kepala Dinas Pendidikan Lamongan diera Sun'ah, saat dikonfirmasi Jum'at (11/8/2017) mengaku banyak tidak tahu dengan prilaku mantan bawahanya dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai manajer BOS dan Kabid PEP Dinas Pendidikan Lamongan.


Karena menurutnya, saat dirinya menjabat sebagai Kadindik Lamongan, tidak ada sesuatu yang mencuat seperti dalam kasus yang dihadapinya seperti sekarang ini."Waktu diera saya, setahu saya tidak menjumpai dia sampai keluar dari ketentuan,  tidak tahu kalau sampai dia melakukan sesuatu tapi dibelakang saya,"terangnya.


Hanya saja kata Agus, imige kalau Sun'ah selalu berjalan sendiri dan tanpa koordinasi dengan atasnya dibenarkan oleh Agus."Memang orangnya selalu punya cara sendiri dalam menjalankan tugasnya padahal keliru, ketimbang harus minta petunjuk atau koordinasi atasanya,"terangnya.


"Yang saya tahu dan yang saya dengar ya hanya itu saja, selebihnya saya tidak tahu, apalagi kasus ini mencuat pada tahun 2014, ketika saya sudah tidak menjabat sebagai kepala dinas pendidikan,"kata Agus yang kini sebagai Inspektur pada Inspektorat Lamongan.


Saat periode kepemimpinan Bambang Kustiono tambah Agus, dirinya malah sering dapat kabar kalau Sun'ah justru terkadang berprilaku yang kurang baik dalam dalam menjalankan tupoksi."Kepala Dinas tidak pernah diajak koordinasi, dan tidak tahu pengolaan BOS, karena semuanya sudah ditangani pak Sun'ah tapi banyak orang menyebutkan keputusanya tidak selalu seirama dengan pimpinan,"terangya.


Hal serupa juga disampaikan oleh Bambang Kustiono mantan kepala Dinas Pendidikan mulai bulan Mei Tahun 2014 hingga akhir 2016. Kalau Sun'ah dalam pengelolaan dana BOS selalu keluar dari ketentuan yang ada.


Ia lalu mencontohkan dalam setiap kali pencairan dana BOS, harus meminta rekomendasi dari Sun'ah berupa kitir, tapi itu teryata modus dan diuangkan oleh Sun'ah. Terhadap cara seperti itu, pihaknya langsung melarangnya."Saya larang pratek seperti itu, memang nyatanya tidak ada ketentuannya dalam juklak dan juknis pencairan BOS, tapi ini tetap dia jalankan, ya kalau ada apa-apa yang harus ditanggung sendiri,"ungkapnya.


Tidak hanya soal itu saja, sumber terpercaya dari Dinas Pendidikan Lamongan menyebutkan, kalau Sun'ah cenderung arogan dan keluar dari ketentuan. Ia lalu mencontohkan dalam pengelolaannya BOS untuk lembaga pendidikan tingkat SMP, SMA dan SMK teryata juga diminta dikelola oleh Sun'ah, padahal seharusnya pengelolaanya menjadi tanggung jawab Dikmenumjur."Dari itu saja sudah kelihatan kalau pak Sun'ah menabrak aturan,"ujar sumber ini yang minta namanya untuk tidak dipublikasikan.


Sekedat diketahui, penetapan tersangka oleh Kejaksaan Negeri Lamongan terasa senyap. Kabar kalau Sun'ah sudah ditetapkan tersangka, setelah yang bersangkutan telah dipanggil penyidik untuk diperiksa sebagai tersangka pada Selasa (8/8/2017).


Sun'ah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan korupsi dana BOS Sekolah Dasar tahun 2012-2016, saat yang bersangkutan kala itu menjabat sebagai manajer BOS dan Kabid PEP Dinas Pendidikan Lamongan, dengan total kerugian dibawa Rp 1 Miliar.jir



Komentar Anda