Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum., (dua dari kiri) saat menyampaikan gagasan mengenai pengembangan wilayah kota tua Surabaya. (Dok. Unair)

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Wilayah Surabaya bagian utara memang berpotensi untuk dijadikan wisata sejarah. Pasalnya, selain menyimpan berbagai catatan sejarah masa lampau, di Kota Surabaya bagian utara, masih berdiri dengan kukuh gedung-gedung yang memiliki nilai sejarah. Mulai gedung yang menjadi tempat tinggal etnis Arab dan Cina hingga gedung peninggalan pemerintah Hindia Belanda.

Untuk mengembangkan wilayah tersebut, salah satu pakar sejarah kota dari Universitas Airlangga Dr. Purnawan Basundoro memberikan masukan dan gagasan. Hal itu bertujuan untuk mengembangkan kawasan bersejarah tersebut menjadi wahana wisata baru di Kota Surabaya.

Pada kesempatan tersebut, anggota tim ahli cagar budaya Pemerintah Kota Surabaya itu menuturkan bahwa Surabaya merupakan kota yang sangat tua. Dalam perjalanannya, banyak peninggalan di Surabaya yang sebagian hilang dan masih bisa disaksikan hingga hari ini.

“Nah, yang masih lestari ini yang kita gali. Jakarta dan Bandung sudah sukses dalam melakukan pengembangan kota lama. Bagaimana dengan Surabaya? Kalau kita kembangkan, uniknya, peninggalan di Surabaya itu bisa kita rutekan,” jelas Purnawan.

Selain itu, dosen Ilmu Sejarah Unair tersebut menegaskan bahwa guna melakukan pengembangan wisata kota tua, diperlukan pemetaan zona wisata. Ia mencontohkan, untuk  pemetaan zona, wilayah zona transportasi lama bisa dikembangkan di Pelabuhan Kali Mas. Untuk  zona transportasi modern, itu bisa dikembangkan di daerah Stasiun Semut.

“Dan, masih banyak zona yang lain. Zona etnis, misalnya. Di Surabaya ini, zona etnis sering menyatu dengan kawasan religi,” paparnya.

Purnawan, pada kesempatan yang sama juga mengungkapkan bahwa mengembangkan wisata kota tua memang harus melibatkan banyak unsur. Mulai pemerintah, komunitas, warga kampung, hingga akademisi. Dengan melibatkan banyak unsur itu, ke depan pengembangan wisata kota tua dapat dipastikan akan benar-benar menjadi nyata.

“Dukungan akademisi juga sangat diperlukan. Karena apa? Orang akan tahu kalau tempat itu memiliki nilai sejarah yang kuat, kan bisa dilihat dari literatur yang dibaca,” pungkasnya.ifw