Usai Rapat Istimewa, Gedung Baru DPRD Dilanjutkan

Polemik Pembongkaran Masjid Balai Pemuda

 

Masjid Assakinah di belakang gedung DPRD Surabaya yang dibongkar. FOTO SP/ROBERT


Pembangunan gedung baru DPRD Kota Surabaya sempat terhenti, lantaran adanya gejolak masyarakat akibat pembongkaran masjid Assakinah. Kini, pembangunan gedung yang didanai APBD hingga Rp 59 miliar ini segera dilanjutkan. Ada deal apa antara Pemkot dan anggota DPRD Surabaya?
-------
Laporan : Alqomar, Editor: Ali Mahfud
-------

Kepastian dilanjutnya proyek pembangunan itu setelah dinas terkait maupun kontraktor pelaksana menggelar rapat dengar pendapat (hearing) bersama Komisi C DPRD Surabaya. Hearing ini tergolong istimewa. Tak hanya dihadiri seluruh anggota Komisi C. Tapi, juga dihadiri 3 unsur pimpinan DPRD Surabaya, yakni Armuji (Ketua), Ratih Retnowati (Wakil) dan Masduki Toha (wakil).

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKPCKTR) Pemkot Surabaya, Ery Cahyadi mengaku lega, karena sudah bisa mendapatkan kepastian pelaksanaannya. "Pembangunan masjid akan mulai kita bangun besok (hari ini, red). Kemarin sempat terhenti karena ada protes dan spanduk-spanduk yang dipasang oleh organisasi masyarakat," cetus Ery.

Ia menyebutkan, masjid ini menjadi kesatuan dengan gedung DPRD. Namun untuk pembangunan masjid ini akan didahulukan dan menjadi prioritas. Ia memastikan bahwa Pemkot tidak meniadakan bangunan masjid Assakinah. Justru masjid akan dibangun lebih mewah dan megah. Nantinya, masjid dibangun dengan menambah lagi sebuah menara di depan masjid. Penambahan menara itu membuat masjid tersebut akan mempunyai 2 menara agar lebih indah.

Dengan luasan 13 meter kali 29 meter, masjid ini akan lebih luas dibandingkan dengan luas sebelumnya, yaitu 13 meter kali 13 meter. "Masjid yang baru ini tetap satu lantai tapi tingginya lima meter. Bisa menampung sebanyak 400 jamaah. Jika dulu jamaahnya hanya mampu menampung 150 jamaah saja," papar dia.

Ery meminta masyarakat untuk tidak berprasangka buruk. Pembongkaran masjid itu memang untuk membangun gedung DPRD yang baru. Namun selama pembangunan tersebut masjid direlokasi di gedung Merah Putih Balai Pemuda. "Masjidnya tetap ada di lantai paling bawah. Tidak eksklusif. Namun lahannya memang ada di gedung DPRD," terang dia.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Komisi C DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri mengatakan, lantaran pembangunan gedung DPRD Kota Surabaya, pihaknya ingin organisasi masyarakat yang memasang spanduk di masjid Assakinah yang lama untuk segera mencopot spanduk tersebut. "Kami juga meminta agar tidak dibahas terus. Pembongkaran masjid ini bukan untuk ditiadakan. Justru dibangun lebih luas. Bergaya Timur Tengah, dan bisa menampung dua kali lipat," katanya.

Lebih lanjut, pihaknya menyarankan untuk penambahan desain masjid Assakinah. Dewan ingin agar ada penambahan menara di bagian depan masjid. "Dalam desainnya hanya ada satu menara di bagian depan. Saya minta agar dibuatkan dua menara di depannya," kata pria yang akrab disapa Ipuk ini.

Riswanto, anggota Komisi C lainnya menyebutkan agar ada penambahan untuk selasar di depan yang lebih luas di depan masjid Assakinah. "Agar dari depan Balai Pemuda sudah bisa melihat kalau ada masjid di dasar gedung," tutur dia.

Sebelumnya, pembongkaran masjid DPRD ini menjadi sorotan, lantaran terkesan ‘mengorbankan’ masjid demi pembangunan gedung baru DPRD Surabaya setinggi 8 lantai. Apalagi, pembangunan gedung tersebut menelan dana APBD hingga Rp 59 miliar. n

 



Komentar Anda