Kaos Penanda Perang atas Kejahatan Jalanan di Kota Pahlawan

CATATAN HUKRIM Oleh: Narendra Bakrie

 

Tulisan ’Surabaya Crime Hunter’ kombinasi putih kuning, nampak menyala di dada sebelah kanan para penumpas kejahatan Kota Pahlawan malam itu. Deretan manusia berkaos hitam pun terlihat rapi berjajar ditengah hiruk pikuk Sabtu malam, Surabaya. Tepat dibawah patung Gubernur Soeryo, Taman Apsari, barisan para punggawa Crime Hunter seluruh jajaran di Polrestabes Surabaya seolah memberi tanda bahwa mereka masih ada dan terus bekerja. ’Police’ (polisi, red), begitulah tulisan pada bagian pundak para pemburu pelaku kriminal itu.

Saya yakin, kaos baru Satreskrim Polrestabes Surabaya itu bukan hanya sekedar simbol gagah-gagahan saja. Melainkan jauh dari kata itu. Sebab, tidak semua anggota Reskrim mendapatkan kaos berkerah itu. Melainkan anggota opsnal (operasional) saja yang mendapat bagian. Kaos berlogo Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) pada lengan sebelah kiri itu, memang bukan untuk dibangga-banggakan. Melainkan simbol dimulainya ’peperangan’ terhadap kejahatan jalanan yang (tidak bisa dipungkiri) sudah semakin menggila dan menjalar keseluruh urat nadi Kota Surabaya.

Kepada saya, AKBP Takdir Mattanete, Kasatreskrim Polrestabes Surabaya menyebut, kaos seragam tersebut bakal menjadi ciri khas tersendiri untuk anggota reskrim, terutama operasional siang malam bekerja untuk mengungkap semua kasus yang terjadi di Surabaya. Takdir tidak memungkiri jika kejahatan jalanan 3C (curat, curas, curanmor) masih menjadi kejahatan prioritas yang wajib diberangus seluruh anggota opsnal-nya.

Bahkan, Kasat yang berambut gondrong ini membuat program reward kepada seluruh anggotanya, jika berhasil mengungkap kasus 3C. Tentunya, reward itu akan diberikan kepada unit-unit yang berhasil dalam hal kualitas maupun kuantitas ungkapnya. Entah reward apa yang dijanjikan sang Kasat terhadap anggotanya tersebut. Janji reward Takdir itu pun, diberikan kepada anggotanya bagi yang bisa melumpuhkan penjahat jalanan dengan 1 (satu) peluru
Lantas, apa hanya karena kaos penanda ’perang’ atas kejahatan jalanan di Kota Pahlawan ini diberikan, terus anggota opsnal rajin bekerja? Ataukah hanya karena iming-iming reward dari sang kasat, kemudian anggota opsnal baru tergugah? Saya rasa tidak. Sebab, sebelum kaos baru ini dibagikan pun, para anggota opsnal sudah bekerja sesuai dengan jadwal (bahkan diluar jadwal) mereka, hanya untuk memberantas para penjahat jalanan.

Namun jangan salah, dengan adanya kaos pada fungsi reskrim ini, anggota opsnal justru diingatkan, agar tidak bosan, agar tidak ogah-ogahan dalam mengemban tugas, yang bisa saya sebut sangat berat. Sebab bisa jadi, jumlah anggota opsnal setiap unit, terutama Polsek, jauh lebih sedikit ketimbang jumlah penjahat yang beraksi di wilayah hukum mereka.

Selamat datang seragam (kaos) perang, selamat bekerja para anggota opsnal. Kenyamanan dan keamanan warga Kota Surabaya, ada pada semua tulisan yang menempel garang pada kaos anda semua. narendrabakrie@gmail.com



Komentar Anda