Takut Digerebek, Komunitas Gay Eksis di Medsos, tapi Tertutup

Menelusuri Kelompok Penyuka Sesama Jenis di Surabaya

 

Sejumlah akun grup facebook para gay di Surabaya dan akun-akun bernama gay di Twitter.


Akhir-akhir ini kelompok laki-laki pencinta sejenis alias gay kembali ramai dibicarakan. Ini menyusul laporan yang diterima Polri mengenai keberadaan akun grup Facebook yang diduga berisi komunitas gay di Depok. Bahkan, mereka disebut-sebut menyediakan jasa prostitusi sesama jenis. Lalu, bagaimana di Surabaya dan sekitarnya? Penelusuran wartawan Surabaya Pagi, komunitas gay di Surabaya masih eksis, meski sempat digerebek saat menggelar pesta di Hotel Oval, Jalan Diponegoro Surabaya, 29 April 2017. Sama seperti di daerah lain, penyuka sesama jenis ini banyak menggunakan media sosial (medsos) sebagai sarana komunikasi mereka. Hanya saja, mereka kini lebih hati-hati. Lantas, seperti apa pola mereka?
----------------
Laporan : Narendra Bakrie, Editor : Ali Mahfud


Pasca pesta gay di Hotel Oval oleh Polrestabes Surabaya, komunitas pria penyuka sesama jenis ini bisa dibilang tiarap. Jika sebelum adanya penggerebekan, para gay secara terbuka menggelar acara dengan diumumkan di media sosial (medsos), kini, para gay lebih berhati-hati dalam ber-medsos.

Fakta kehati-hatian para gay dalam berkomunikasi di medsos itu, dikatakan Kanit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni. Sebab pasca Unit PPA menangani terbongkarnya pesta gay tersebut, mereka terus memantau aktivitas para gay di media sosial. Baik melalui facebook, twitter maupun instagram. Dan sampai saat ini, mereka belum mendapati aktivitas medsos para gay yang mengarah ke prostitusi.

"Kami memantau mereka (para gay, red) setiap saat melalui cyber patrol. Sampai saat ini, mereka sudah tidak seterbuka dulu. Mereka lebih berhati-hati," kata AKP Ruth Yeni kepada Surabaya Pagi, Selasa (9/1/2018) petang.

Kendati belum mencium adanya praktik prostitusi yang dilakukan para gay di medsos masing-masing, AKP Ruth Yeni memastikan, Cyber Patrol terus akan dilakukan. Selain itu, pihaknya juga terus menggali informasi dari masyarakat untuk mendeteksi praktik trafficking yang mungkin terjadi diantara para gay. "Kalau kami menemukan praktik (prostitusi) itu, tentu akan kami tindak lanjuti," tegas AKP Ruth Yeni.

Sementara itu, semalam Surabaya Pagi memantau akun-akun para gay di media sosial. Ketika Surabaya Pagi mengetik 'gay Surabaya' di Twitter, sejumlah akun muncul. Dari beberapa akun gay yang dibuka, terpantau komunikasi mereka memang hanya berlangsung person to person. Surabaya Pagi belum menemukan adanya update status para gay yang mengarah pada event pesta maupun trafficking.

Begitu pula saat Surabaya Pagi menelusuri media sosial facebook. Saat mengetik 'gay Surabaya' pada kanal searching facebook, muncul sejumlah akun grup gay. Surabaya Pagi menghitung jumlah grup gay dalam facebook, dan hasilnya lebih dari 40 lebih akun grup gay yang terdaftar di facebook. Namun, 90 persen dari akun grup itu, tertutup.

Dari akun-akun gay yang ada di twitter maupun facebook, Surabaya Pagi hanya mendapati anggota komunitas gay itu berkomunikasi dengan cara bertukar nomor telepon (WA) dan PIN BBM (blackberry massanger). Dan terpantau, pemilik akun lebih sering meng-explore kegiatan seksual mereka atau situs-situs porno yang diduga berkonten film homoseksual (gay).

Antara Kepuasan dan Gaya Hidup
Dari ulasan Surabaya Pagi pasca para gay diamankan dan diperiksa di Polrestabes Surabaya, tidak ada yang janggal dari postur tubuh para gay tersebut. Secara kasat mata, bahkan mereka tumbuh dengan fisik lelaki tulen. Namun, jika dilihat dari pesta yang mereka gelar, keperkasaan mereka tentu perlu dipertanyakan. Betapa tidak, pesta yang mereka gelar adalah pesta kaum homo (party gay). Lazimnya, homo memiliki perilaku seks menyimpang, yaitu pria yang mencintai sesama jenis, yang rata rata berujung pada persenggamaan.

Fenomena digerebeknya party gay di Hotel Oval, Jalan Diponegoro Surabaya oleh Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polrestabes Surabaya, semakin menasbihkan suburnya keberadaan kaum minoritas tersebut. Sebab, kendati hanya 14 yang berhasil diamankan saat itu, diduga kuat, komunitas serupa juga masih berkeliaran.

Terlepas dari kasus yang menjerat mereka. Surabaya Pagi menemukan hal yang menarik dari latar belakang pekerjaan maupun profesi ke 14 gay tersebut. Data yang diperoleh dari Polrestabes Surabaya saat itu menyebut, mereka berprofesi biasa hingga luar biasa. Kondisi ekonomi mereka pun beragam. Mulai middle end (menengah ke bawah) hingga Middle Up (menengah keatas). Bahkan hanya untuk memenuhi sensasi kebutuhan seksual mereka, mereka tidak mengenal jarak dan waktu.

Dari keterangan dan kesaksian mereka pun terkuak, jika kaum gay sama sekali tidak memedulikan pekerjaan, taraf ekonomi dan pendidikan pasangan 'tidurnya'. Asal puas dan hasrat terpenuhi, mereka bisa melakukan hubungan badan dengan siapa saja, meski baru saja mengenal. Sebab tujuan mereka sama, yaitu meluapkan hasrat seksual mereka yang selama ini tidak terlampiaskan.

Lantas apa yang menjadi fakta bahwa mereka tidak memedulikan profesi, ekonomi maupun latar belakang pasangan? Dari fakta yang didapat polisi, contohnya Is (40). Warga asal Sleman Jogjakarta yang setiap hari menjadi pedagang kelontong itu, kedapatan berhubungan intim dengan AS (35) warga Ngingas Sidoarjo yang sehari hari menjadi SPB sandal.

Begitu pula dengan AT (25) warga Tandes Surabaya. Pemuda yang bekerja menjadi staf IT itu, tanpa segan berhubungan badan dengan SD (44) warga Kedamean Gresik yang keseharian menjadi perias pengantin. Bahkan, Ahmad Salamun yang sebelumnya berhubungan intim dengan Is, setelah selesai langsung bersenggama dengan KH (23) warga Waru Sidoarjo yang berprofesi sebagai sales AMDK (Air Minum Dalam Kemasan).

Berbeda lagi dengan Fn (25), warga NTT yang indekos di YKP Pandugo, Surabaya. Mahasiswa S2 Ubaya itu lebih puas dengan hanya menerima rangsangan para gay lainnya dalam posisi telanjang. Sedangkan gay lainnya, puas dengan hanya menonton adegan persenggamaan para gay lainnya.

Muncul Prostitusi Gay
Jika komunitas gay di Surabaya berhat-hati dalam komunikasi di Medsos, tidak demikian dengan kelompok serupa di Depok, Jabar. Laporan yang diterima polisi, ada akun grup Facebook yang diduga berisi kelompok gay yang menyediakan jasa prostitusi sesama jenis. Pengikut grup ini pun mencapai ribuan.

Berdasarkan penelusuran, ditemukan lebih tiga grup gay di Facebook yang mengaku berbasis di Depok, di antaranya kawasan Sawangan, Meruyung, Parung, dan lain-lain. Dalam beberapa unggahan pada akun-akun itu, tak sedikit dari mereka (pecinta sesama pria) yang sengaja menawarkan diri untuk berbuat mesum dengan sasaran remaja atau yang biasa disebut berondong.

Polisi belum memastikan akun-akun itu benar menghimpun para anggota pria homoseksual atau sekadar akun palsu. Tetapi aparat sedang menelusuri eksistensi grup itu, termasuk memastikan unsur pidananya. “Tentu akan kami usut, kami cari tahu apakah benar ada grup homoseksual yang di dalamnya juga terdapat jasa prostitusi atau tidak. Kita akan cari tahu apakah ada unsur pidananya atau tidak,” kata Kanis Reskrim Polresta Depok, AKP Firdaus, kemarin. n



Komentar Anda