Mahalnya Harga Semen Instan

 

PT Cipta Mortar Utama membuka pabriknya yang ketiga di Indonesia di Kawasan Industri Medan 3 (KIM 3), Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.


SURABAYAPAGI.COM, Medan – Perusahaan multinasional Saint Gobain Group lewat PT Cipta Mortar Utama menjadi perusahaan pertama yang memproduksi mortar atau semen instan.

PT Cipta Mortar Utama konsisten menghadirkan produk-produk dan teknologi yang mengurangi jejak karbon pada lingkungan. Namun, karena itu pula harga semen instan jauh lebih tinggi ketimbang semen konvensional. 

Selisih harga bisa sampai 20 hingga 25 persen, ungkap General Delegate Chairman Saint-Gobain Asia-Pacific Javier Gimeno wartawan saat peresmian pabrik ketiga di Indonesia di Kawasan Industri Medan 3 (KIM 3), Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.

"Tapi semen mortar utama (MU) yang kami produksi lebih efesien dan ramah lingkungan. Penggunaannya tidak lagi menggunakan pasir sehingga menghemat waktu dan tenaga kerja," kata Javier, Selasa (31/10/2017).

Javier melanjutkan, pengguna semen instan di Indonesia masih tergolong rendah, berkisar 5 persen. Di Sumatera sekitar 1 sampai 2 persen, sedangkan di Jakarta sekitar 15 persen.

Namun sebagai perusahaan yang sudah berdiri sejak 1665 di Perancis, dia optimistis semen produksinya akan terus meningkat pasarnya di Indonesia.

Di Indonesia, PT Cipta Mortar Utama berdiri pada 1996, pada 2011 diakuisisi oleh Saint-Gobain. Kapasitas pabrik ketiga ini lebih kecil dibanding di Cibitung, produksinya mulai 360.000 ton per tahun. Di Gresik sekitar 200.000 ton.

Total pasar semen instan pada 2016 di Indonesia sebanyak 3.7 juta ton atau sekitar 50 persen. Peluang terbesar produksinya berada di segmen proyek.

PT Cipta Mortar Utama (MU-Weber) merupakan produsen mortar instan terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 600.000 ton per tahunnya dan menguasai pasar lebih dari 25 persen pada 2016.

"Proyeksi pertumbuhan industri konstruksi di Indonesia pada 2018 dibanding 2017 adalah 10 persen. Proyeksi pertumbuhan pembagunan perumahan rakyat di 2018 adalah 7 persen," ungkap Javier.

Baginya, Indonesia khususnya Sumatera Utara potensial untuk tempat berinvestasi karena memiliki sumber daya alam dan pasar.

Untuk itu, dia tak ragu menginvestasikan 9 juta uero di pabrik ketiganya tersebut. Dia berharap dapat menjadi simbiosis mutualisme antara Saint Gobain dengan masyarakat.

"Untuk di KIM 3, ada berkisar 100-an tenaga kerja yang kita terserap. Jumlahnya akan terus bertambah seiring beroperasinya pabrik," kata dia lagi.

Staf Khusus Menteri Perindustrian yang datang membacakan kata sambutan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Happy Bone Zulkarnaen mengatakan, mortar menggunakan bahan baku utama semen dan pasir yang berasal dari sumber daya alam lokal sehingga memiliki Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi.

Pabrik di KIM 3 telah menggunakan teknologi baru dalam proses produksinya. Hal ini bermanfaat bagi perusahaan dan lingkungan karena teknologi baru lebih hemat energi dan lebih efisien.

"Kita jadi menghemat sumber daya alam dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Ini sejalan dengan program pemerintah untuk industri hijau yang ramah lingkungan dan berkelanjutan," ucap Happy. lx/kmp

 



Komentar Anda



Berita Terkait