KERUDUNG MERAH KAJORAN

 

Mochtar W Oetomo Dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM)


 

Esai : Mochtar W Oetomo

 

April siang yang menegangkan di tahun 1677. Di belahan selatan perbatasan Klaten dan Gunung Kidul. Pesantren Kajoran pimpinan Panembahan Rama atau Sunan Kajoran tengah menyambut kedatangan tamu agung, yakni Pangeran Trunojoyo pimpinan pemberontakan terhadap Amangkurat I, penguasa Mataram. Bukan hiruk pikuk tuan rumah dalam mempersiapkan acara dan hidangan yang terlihat mencolok di Pesantren anak cucu keturunan Sunan Tembayat ini. Melainkan dominasi warna merah dari pakaian yang dikenakan oleh ribuan santri dan santriwati Pesantren Kajoran. Para santri semua mengenakan ikat kepala warna merah dan baju warna putih, demikian juga para santriwati dengan kerudung warna merah dan baju warna putih. Siap menyambut jago kesayangan mereka, Pangeran Trunojoyo dari tlatah Madura.

 

Ya ya ya. Sejak kekuasaan Amangkurat I (1646-1677) bekerjasama dengan VOC yang sebelumnya pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo adalah musuh utama Mataram, maka bumi Mataram dihinggapi lingkaran konflik yang tak berkesudahan. Kebijakan kontroversial Amangkurat I mendapat tentangan, tantangan dan bahkan pemberontakan dari berbagai pihak. Kesultanan Banten, Makasar, Tumenggung Wiruguno, Pangeran Mas Alit, Pangeran Trunojoyo dan bahkan anaknya sendiri Raden Mas Rahmat adalah beberapa pihak yang tercatat menentang berbagai kebijakan Amangkurat I yang kontroversial, turutama keputusannya untuk bekerjasama dengan VOC yang notabene adalah musuh Mataram dan musuh ayahnya sendiri.

 

Lingkaran konflik yang berkelindan dan bagai benang kusut antar berbagai pihak pada akhirnya harus menyeret para ulama dan pondok pesantren dalam pusaran kompetisi antar tokoh yang berkonflik. Bahkan sejarah mencatat dalam menumpas pemberontakan Pangeran Alit, Amangkurat I sampai harus mengeksekusi tidak kurang dari 5000 ulama dan Kyai yang dianggap mendukung pemberontakan. Sejak itulah intensitas para Kyai dan pesantren dalam konstalasi konfliktual di Mataram makin meningkat dan vulgar. Pesantren tidak lagi sekedar menjadi tempat para santri dan santriwati ngangsu kawruh tentang agama dan kehidupan. Kyai juga tidak lagi sekedar menjadi pendulum sosio-kultural-religi bagi para kawula. Arus besar konflik politik antar tokoh menyeret Pesantren menjadi pusat-pusat gerakan politik. Tempat konsolidasi, koordinasi dan mobilisasi politik sebagai bagian dan bentuk strategi pemenangan tokoh yang didukungnya. 

 





 

Sementara Kyai telah menjelma menjadi para panglima pemenangan, menjadi aktor propaganda dan juru kampanye yang sangat penting dan diperhitungkan. Lepas dari itu semua pada akhirnya Kyai dan Pesantren pun larut dalam faksionalitas politik yang membelah-belah mereka dalam kubu-kubu yang saling berseberangan dan bahkan berlawanan. Bergantung kepada tokoh siapa Kyai dan Pesantren itu berafiliasi dan memberikan dukungannya. Situasi runyam yang membuat peran sosio-kultural-religi Kyai dan Pesantren makin tergerus kewibawaannya di tengah masyarakat. Karena saat kawula datang ke Kyai atau Pesantren yang mereka dapatkan bukan lagi solusi sosio-kultural-religi sebagaimana persoalan sehari-hari yang mereka hadapi, sebaliknya justru segala macam bentuk wacana, propaganda dan bahkan agitasi politik untuk ikut berpihak pada salah satu tokoh.

 

Ya ya ya. Bahkan keterbelahan dunia Kyai dan Pesantren dalam dukungan politik pada masa itu telah terejawantah secara verbal hingga ke pakaian yang dikenakan para santri dan santriwatinya. Kyai dan Pesantren yang melawan Amangkurat I nampak jelas dari kostum ikat kepala dan kerudungnya yang berwarna merah. Simbol keberanian, kebenaran dan perlawanan. Sebaliknya Kyai dan Pesantren yang masih setia dengan tahta Mataram siapapun Sultan-nya berkostum ikat kepala dan kerudung putih. Ya ya ya. Ikat kepala dan kerudung merah versus ikat kepala dan kerudung putih. Karena begitu verbalnya maka ketika bertemu di jalan, konflik fisik horizontal tak lagi dapat dicegah. Maka, konflik vertikal dan struktural antar tokoh di masa Amangkurat I telah merebak menjadi konflik horizontal dan kultural yang menghancurkan holistisitas sosio-kultural-religi rakyat di bumi Mataram.

 

Ya ya ya. Panembahan Rama Sunan Kajoran beserta seluruh santri dan santriwatinya adalah salah satu faksi merah itu. Koalisi politik antara Pangeran Trunojoyo, Raden Mas Rahmat, Panembahan Rama dan Karaeng Galesong dari Makasar hari itu berkumpul di Pesantren Kajoran guna merencanakan serangan total ke istana Plered tempat Amangkurat I bertahta. Maka tak heran jika sejak pagi hari Pesantren Kajoran telah penuh sesak dengan warna merah ikat kepala dan kerudung para santri, santriwati dan simpatisan Pangeran Trunojoyo. Siap dengan segenap kekuatan lahir batin untuk menaklukkan istana Plered.

 

Ya ya ya. Sebagaimana Puti Guntur Soekarno, salah satu kandidat Wakil Gubernur, pasangan Gus Ipul, saat datang bersilaturahmi ke Pesantren Lirboyo dan Ploso Kediri beberapa waktu lalu (6/2/2018). Kedatangannya mendapatkan sambutan kemeriahan yang luar biasa dari para Kyai, santri dan santriwati dengan segenap dominasi warna merah yang dikenakan. Terutama sekali kerudung merah yang dikenakan oleh seluruh santriwati yang begitu gegap gembira menyambut kedatangan Puti melalui berbagai aksi selfie dan wefie. Sama seperti pertemuan Kajoran yang juga dihadiri Pangeran Trunojoyo, Karaeng Galesong dan tokoh lain, pertemuan di Lirboyo dan Ploso pun dihadiri tokoh-tokoh kenamaan seperti Mantan Gubernur Jatim Imam Utomo, Muhaimin Iskandar dan tokoh lain yang siap memenangkan Gus Ipul dan Puti digelaran Pilgub Jatim 2018.





Begitulah yang kita saksikan bersama. Suasana politik menjelang Pilgub Jatim 2018 ini berasa suasana politik pada masa pemerintahan Amangkurat I di Mataram. Dimana faksi konfliktual politik telah menyeret-nyeret Kyai dan Pesantren ke dalamnya. Hingga tanpa sadar para Kyai dan Pesantren terbelah dalam dua kutub faksi politik. Berhadap-hadapan dan bahkan berlawanan satu sama lain. Para Kyai menjadi panglima dan bahkan juru kampanye pemenangan bagi para jagonya. Sementara Pesantren menjelma menjadi ajang konsolidasi, koordinasi dan mobilisasi politik. Menjadi ajang kampanye politik. Peran sosio-kuktural-religi Kyai dan Pesantren pun semakin banyak dipertanyakan karena larut dalam geliat head to head pertempuran politik antara Gus Ipul - Puti versus Khofifah - Emil. 

 

Perbedaan warna kerudung yang dikenakan oleh Khofifah (putih) dan Puti (merah) pada akhirnya telah menjalar ke para santriwati di bumi Jatim : kerudung putih vs kerudung merah. Ya ya ya. Sebagaimana konflik vertikal dan struktural di Mataram yang mengejawantah menjadi konflik horizontal dan kultural, maka bukan hal yang tidak mungkin jika itu juga akan terjadi di Jatim seiring keterlibatan Kyai dan Pesantren dalam kontestasi Pilgub Jatim 2018 yang semakin hari semakin intens dan vulgar. Aduh, bagaimana mungkin pertarungan kepentingan politik antara dua kubu bisa menjadi pertarungan kerudung. Begitulah lihainya politik. 

 

Benar bahwa pertemuan Kajoran itu berhasil meneguhkan kemenangan yang diperoleh di pertempuran Gegodog, Oktober 1676. Benar pula pertemuan itu kelak menjadi titik pijak penting atas keberhasilan Pangeran Trunojoyo dan sekutu koalisi saat berhasil merebut istana Plered pada 28 Juni 1677, yang membuat Amangkurat I hidup dalam pelarian dan meninggal di Tegal Wangi tak lama kemudian. Tapi itu bukanlah kemenangan yang manis, karena kemenangan itu pada akhirnya menyisakan lingkaran konflik yang tak berkesudahan hingga masa pemerintahan Amangkurat II, Pakubuwono I dan puncaknya hingga lahirnya perjanjian Giyanti di tahun 1775 yang memecah belah bumi Jawa dalam kekuasaan penjajah VOC Kumpeni. 





Dimana dalam semua peristiwa konflik itu, Kyai dan Pesantren tak lagi bisa menghindar dan menjaga jarak. Terlibat baik aktif maupun pasif dalam lingkaran konflik baik vertikal struktural maupun horizontal kultural yang pada akhirnya hanya membuat rakyat hidup dalam gelimang perpecahan dan derita berkepanjangan. Dalam tubuh koalisi internal Pangeran Trunojoyo pun terjadi perpecahan yang mengerikan. Raden Mas Rahmat membelot dan kembali berpihak pada ayahnya. Memukul balik pasukan koalisi dari istana Plered dengan bantuan VOC Kumpeni. Panembahan Rama tewas dieksekusi di Mlambangan Gunung Kidul. Pesantren Kajoran dihancurkan. Para santri santriwati yang selamat tercerai berai. Dan bahkan Pangeran Trunojoyo pun akhirnya terbunuh. 

 

Ya ya ya. Apa yang tak kalah mengerikan sebenarnya adalah pasca kemenangan. Karena koalisi yang dibangun semata-mata karena kepentingan dan perasaan dendam pada akhirnya akan menjelma konflik yang berkepanjangan dan tak berkesudahan. Kyai dan Pesantren yang selama ini berperan sebagai pendulum sosio-kuktural-religi bisa jadi akan semakin kehilangan kewibawaan karena vulgaritas aksi politiknya. Dan ujung-ujungnya bukan sekedar kawula yang kehilangan tempat mengadu dan mencari solusi bagi problematika sosio-kultural-religinya. Lebih dari itu ikut terseret-seret dalam lingkaran konflik yang makin menenggelamkan dalam nestapa perpecahan dan ketidaksejahteraan. Apakah kerudung merah Puti akan menjadi simpul kemenangannya sebagaimana simpul kemenangan kerudung merah Kajoran? Atau sebaliknya justru akan melahirkan tragika sebagaimana tewasnya Pangeran Trunojoyo, Panembahan Rama dan buyarnya  Pesantren Kajoran? Jas Merah ! Jangan sekali-kali melupakan sejarah !! Waspadalaah...waspadalaah...!! Jreng jreng....!!

 

Mochtar W Oetomo

Dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM) 



Komentar Anda



Berita Terkait