Nasionalis - NU Bisa Menangkan Poros Emas

 

Edy Marzuky


SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Beberapa hari terakhir, ramai dibincangkan mengenai tantangan dan peluang generasi milenial sebagai penentu dalam pemilihan kepala daerah, khususnya di Jawa Timur. Beberapa lembaga survey berbasis lokal bahkan sudah merilis hasil survey mereka tentang peluang generasi milenial untuk menjadi penentu kemenangan calon kepala daerah di Jawa Timur. 

 

Surabaya Survey Center (SSC) misalnya, merilis bahwa media sosial akan menjadi penentu pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Dari catatan yang ada, pada pilgub Jawa Timur nanti akan ada 62 persen pemilih yang lahir di tahun 1977-1995 atau biasa disebut generasi milenial Y dan generasi paska milenial atau generasi Z lahir 1996-2010. Generasi Y dan Z inilah pemain utama di media sosial, kandidat yang unggul di media sosial, dialah pemenangnya. 

 

Di sisi lain, kondisi pemilih di Jawa Timur juga sudah dipandang jenuh dan membutuhkan sosok serta pola politik yang baru. Dengan kondisi demikian, bagaimana peluang Emil Dardak yang disebut bakal menjadi jago dari Poros Emas pada Pilgub Jatim 2018? 

 

Menurut pakar Komunikasi Politik Unitomo Redi Panuju, dalam kurun waktu yang tersisa, komunikasi politik lewat media masa masih bisa dimaksimalkan. Salah satu buktinya adalah munculnua nama-nama baru seperti Bupati Trenggalek Emil Dardak dan Bupati Bojonegoro Suyoto.

 

"Sedangkan dua pasangan sebelumnya yang sudah diluncurkan (Gus Ipul dan Khofifah), itu sama-sama mengandalkan basic primordial, basic kultural sehingga sangat mengandalkan pemilih loyal yang tradisional. Sementara yang belum tertampung adalah pemilih kelas menengah yang rasional. Partai-partai yang belum punya jago diluar yang dua (Gus Ipul dan Khofifah) ini harus segera melakukan peminangan," papar Redi, Senin(13/11).

 

Menurut Redi, apabila benar bakal menjagokan Emil, maka pasangan yang cocok bagi dirinya adalah sosok religius. "Emil yang lebih ke nasionalis ini akan cocok disandingkan dengan Mahfud MD yang religious nasionalis kalau hemat saya. Kalangan tua masih dominan struktur demografisnya. Mahfud MD lebih kuat di media arus utama / mainstream. Sedangkan Emil bisa mewakili anak-anak muda di medsos, artinya Emil bisa mewakili kalangan anak muda,” tegasnya.

 

Sementara itu, terkait viralnya gambar paslon Emil-Sadad untuk Jatim Emas, pengamat politik asal Universitas Yudharta Pasuruan Edy Marzuki mengatakan bahwa paslon tersebut bisa merepresentasikan generasi millennial. Sehingga diharapkan mampu meraup maksimal suara pemilih millenneal yang jumlahnya di jatim lebih dr 14 jt. 

 

"Paslon ini mewakili perpaduan generasi y dan x. Sekaligus juga saling melengkapi dgn perpaduan nasionalis-NU, mataraman-tapal kuda madura, selatan-utara, eksekutif-lwhislatif, intelektual-kultural dan perpaduan lainnya," jelas Edy.

 

Simpul NU, menurut Edy merupakan penyumbang suara terbesar di Jatim yang bisa menjadi modal kuat. "Begitu juga Tapal Kuda dan Madura yang merupakan wilayah padat penduduk. Ini terbukti pada dua gelaran pilgub sebelumnya menjadi penentu kemenangan KARSA," pungkasnya.

 

Dikonfirmasi, Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad mengaku bahwa komunikasi antara partai bakal Poros Emas dengan Emil Dardak terus berlanjut. Diharapkan, komunikasi tersebut bakal segera menghasilkan keputusan final dalam waktu dekat.

 

"Belum memberikan jawaban, tapi komunikasi dan diskusi kita dengan Mas Emil sudah intensif. Langkahnya menjajaki kemungkinan untuk bersaing dengan Gus Ipul dan Khofifah cukup aktif. Sudah ketemu Ketum PAN Pak Zulkifli Hasan. Dengan Gerindra sudah jalin komunikasi dengan DPD, Pak Prabowo belum sempat ketemu," kata Sadad. sd



Komentar Anda