Dari Hobi Coret-coret, Naufal Abshar Berhasil Menjadi Seniman

 

Masih banyak orang merasa takut untuk mewujudkan mimpi besarnya di zaman modern ini. Padahal semua mimpi besar bisa tercapai bila digeluti dengan sungguh-sungguh. Apa pun mimpi Anda, berjuanglah untuk menggapainya.

Perjuangan keras itu pun dibuktikan oleh Naufal Abshar dalam menggapai mimpinya yang berawal dari hobi untuk menjadi seorang seniman. Sejak kecil, pemuda kelahiran Bandung 13 Juli 1993 ini memiliki hobi mencoret-coret kertas. Bahkan gambar hasil coret-coretan Naufal masih tersimpan dengan baik.

"Aku suka gambar sejak TK. Terus ibu simpan hasil karya aku, dilaminating buat dijadiin taplak meja makan," ujar Naufal.

Dari Hobi Coret-coret, Naufal Abshar Berhasil Menjadi Seniman
Naufal dan karya seninya (Foto: Singapore Tourism Board)

Hobi menggambar yang sangat sederhana itu sempat diremehkan oleh keluarga Naufal ketika ia duduk di bangku sekolah dasar. "Aku memang sudah hobi menggambar dari SD. Setiap aku ada di kelas, aku nggak perhatikan gurunya. Aku sibuk menggambar di buku, di meja, di kertas dan di kertas ujian. Banyak guru nggak suka. Yah, namanya juga anak-anak," cerita Naufal.

Situasi semakin buruk saat gambar-gambar menakjubkan Naufal tidak pernah mendapat juara di berbagai perlombaan. "Waktu itu, aku nggak pernah juara karena ya semua kejuaraan itu sama, gambar harus gradasi warna dan gambarku itu random (tidak beraturan)," jelasnya.

"Aku nggak dapat award karena gambarku melanggar aturan. Aku cuma mengekspresikan diri sendiri aja," sambungnya.

Meski dihadapkan dengan kondisi seperti itu, passion gambar yang dimiliki Naufal rupanya membawa dia menuju jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya yakni melanjutkan pendidikan jurusan fine arts.

Selepas SMA, Naufal mendaftar dan diterima di LASALLE College of the Arts, Singapura. Kehidupannya berubah 180 derajat ketika dia harus keluar dari rumah yang semuanya tersedia dan tinggal di asrama dengan uang saku terbatas.

Dari Hobi Coret-coret, Naufal Abshar Berhasil Menjadi Seniman
Naufal berfoto dengan mural art di Haji Lane (Foto: Singapore Tourism Board)

"Tapi aku percaya kalo kenyamanan bisa membunuh kita. Aku mau sukses jadi aku harus keluar dari zona nyaman. Aku berpikir kalo aku nggak bisa tungguin uang dari orangtua aku terus-terusan. Aku berubah dan menyadari bahwa aku harus menghasilkan uang sendiri," pungkas Naufal.

Orangtua Naufal bahkan sempat khawatir atas pilihan anaknya. Sebab, masih banyak orangtua yang menganggap seniman atau pelukis, khususnya di Indonesia tidak terlalu menjanjikan bila dijadikan sebagai profesi.

"Biasanya seniman itu rambutnya gondrong, aneh dan ada banyak stereotypes lainnya. Jadi mereka takut, tapi ini sesuatu yang aku ingin lakukan dari hati aku sendiri," kenangNaufal.

 

Di sela-sela waktu kuliahnya, Naufal pun mencari kerja sambilan dari satu galeri ke galeri lain. Akhirnya Naufal mendapatkan pekerjaan sebagai seorang penjaga galeri alias hanya nungguin lukisan.

Dari pengalaman itu Naufal belajar bahwa menjadi seorang seniman bukan hanya menghasikan karya tetapi juga memasarkan dan menjual karyanya.

"Dari situ aku dapat banyak kontak sekaligus belajar bahwa bisnis seni rupa tuh begini lho. Ada pembelinya, ada kolektornya, jadi aku dapat menimba ilmunya, belajar sambil dapat uang. Aku diajarin cara bagaimana agar karyaku bisa menghidupi aku dan bukan aku yang menghidupi karyaku," bebernya.

Pada Februari 2017, Naufal mengadakan solo exhibition bertema "Is This Fate?' di Art Porters, galeri seni di Singapura. Untuk menggelar pamerannya, Naufal bekerja sama dengan seorang kurator dari Israel. Gambarnya merupakan refleksi kehidupan sehari-hari menarik perhatian sang kurator, seorang psikiater yang memahami arti di balik lukisan Naufal.

"Inspirasi aku kebanyakan dari aktivitas sehari-hari, termasuk berkumpul dengan teman-teman dan pergi ke pesta. Ya, sosialisasi lah. Ini hal yang remeh temeh, tapi dari situ terdapat makna yang berarti. Hidup hanya sekali, jadi kita semua perlu bersenang-senang dan tertawa. Tertawa itupowerful," jelas Naufal.

Tak berhenti di sana, sekembalinya ke Tanah Air, Naufal terus melaju dengan menyuguhkan karya-karya kontemporernya. Dalam memasarkan lukisan-lukisannya.

Naufal juga bekerja sama dengan sebuah konsultan seni untuk mengadakan pameran-pameran. Pada Oktober lalu, karya-karya Naufal juga hadir di World Trade Centre Jakarta dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Singapura.

Salah satu karya Naufal yang menarik perhatian yakni 'Merlion'. Naufal mengekspresikan pengalamannya selama tinggal di negara tetangga lewat sebuah karya kontemporer yang unik.

Karya itu menggambarkan sosok singa yang merupakan simbol Singapura. Keunikannya juga tergambar dalam proses pembuatan lukisannya yang spontan.

"Aku membuat sketsa hanya untuk puzzle painting karena harus menghitung proporsinya. Tapi kalau satu kanvas, aku biasanya lihat objek atau gambar lalu langsung gambar. Karena buat aku, seni itu ketika kita menggambar lalu berbuat kesalahan tapi kita tetap melanjutkannya. Seni itu nggak sempurna dan nggak ada yang sempurna dalam seni," tutup Naufal.

Dari Hobi Coret-coret, Naufal Abshar Berhasil Menjadi Seniman
Naufal bersama President University LASALLE (Foto: Singapore Tourism Board)

Bagi Anda pecinta seni seperti Naufal, jangan lewatkan Singapore Art Week 2018 yang akan diselenggarakan mulai 17-28 Januari 2018. Di sana, Anda bisa merasakan sensasi berada di tengah banyak karya seni hampir di seluruh penjuru Singapura, mulai dari galeri, museum, distrik seni, dan lembaga-lembaga nonprofit.

Singapore Art Week 2018 diinisiasi oleh National Arts Council (NAC), Singapura Tourism Board (STB) dan Singapore Economic Development Board (EDB). Terinspirasi dari karya seni rumahan, regional, dan internasional, Singapore Art Week 2018 akan menyajikan ART STAGE Singapore, pameran seni lokal dan internasional milik kolektor seni ternama di Singapura, permainan interaktif block-stacking, hingga dialog bersama para seniman.

Selama 12 hari digelar, jangan sampai ketinggalan untuk menyaksikan Festival Light to Night yang salah satunya akan menampilkan transformasi seni pada bangunan dengan memadukan warna dan cahaya. Jangan lewatkan juga ARTWALK Little India yang akan menampilkan warisan kebudayaan Little India (daerah bersejarah di Singapura).

Tidak salah, Singapura memang destinasi yang tepat untuk mewujudkan impian. Jangan hanya datang ke sebuah pameran seni budaya, jadilah para pembentuk kebudayaan.



Komentar Anda