FDS, Dosa yang Terampuni?

 

Suparto Wijoyo Sekretaris Badan Pertimbangan Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga


HARI-HARI ini dunia pendidikan terus menggeliat untuk menemukan titik koordinat edukasi yang tepat. Masalah kebijakan sekolah yang bersentuhan dengan “kuota hari” masuk mencuat kembali menuai kontroversi. Kapasitas intelektual anak didik dengan “jejalan mata pelajaran” meretas batas antara enam hari ataukah lima hari dalam sepekan. Kebijakan sekolah lima hari (KSLH) diintrodusir Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui regulasi yang multitafsir. Permendikbud No 23 Tahun 2017 yang bermuatan pengaturan KSLH memantik reaksi. NU melalui PBNU ataupun PWNU Jawa Timur merupakan institusi “sosial keagamaan” yang terang-terangan menampik KSLH dengan beragam argumentasinya.

 

Sinetron Pendidikan

Memang pada tataran publik, KSLH mengemuka pada saat orang tua sedang sibuk mengurusi pendaftaran anak-anak mereka dalam jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Lebih dari itu KSLH semakin mendera di kala  perbincangan seputar hasil ujian nasional belum reda dan  terus menggelora dengan ritual protokolernya. Urusan sisik-melik sekolahan diniscayakan sangat menyita banyak energi, dan tampak kian memuai dengan suguhan  KSLH. Ujaran ganti menteri ganti “memori” menyeruak dan menjadi kelaziman. Rakyat  dipersilahkan menonton ”sinetron pendidikan” dalam episode yang paling konvensional. Alur ceritanya tidak ada dalam skenario ”sutradara pendidikan” pada mulanya, waktu dilantik menjadi bagian Kabinet Kerja. Hiruk pikuk ini berkelindan dengan ramainya isu persekusi, kenaikan harga sembako dan TDL maupun transportasi serta “sirkus OTT” yang semakin menarik diikuti. Korupsi dana publik kian ramai tiada berperi. Ngeri. 

 KSLH yang  nyelonong ini tampak di luar jangkauan ”titik obit”   Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang tidak mengamanatkan secara terang KSLH dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Kini yang dibutuhkan bukan semata soal KSLH tetapi hadirnya generasi jujur dari ruang-ruang  sekolahan. Waktu ujian nasional   acapkali  sekolah  membentuk semacam ”Tim Sukses” agar  peserta ujian  lulus mulus. Para broker sibuk menjadi ”operator seluler” pembisik jawaban. Mereka ini pun  diterima sebagai pahlawan (tanpa tanda dusta).  Setiap sekolah berlomba menjadikan guru sekadar instrumen pengajaran: pokoke anak didik lulus.  Hadirnya “anak plagiaris” yang dijamu penuh kehormatan merupakan fenomena pengabaian kejujuran.  

 

Mendidik Generasi Jujur-Berkarakter

Generasi yang bermutu dan jujur adalah idaman Indonesia yang kini dirundung banyak problema.  Kosmologi cendekia memberikan pekabaran yang sangat terang atas gagasan Plato (427-347 SM) yang merekomendasikan agar   kekuasaan negara  dipegang  filosof.  Plato menambahkan  dalam buku dialogis klasiknya, Republik, bahwa kepemimpinan orang yang jujur jauh lebih menguntungkan. Dengan demikian, kejujuran  adalah watak dasar kaum terdidik. Mestinya mereka yang pernah singgah di bangku sekolah  tidak akan tergoda berlaku curang. Pendidikan ditakdir mengajarkan karakter yang kuat untuk menjadi orang bermartabat.

Tentu ada  yang salah dalam pendidikan apabila para alumnusnya bertindak culas. Pendidikan bukan untuk  “membudidayakan” para pendusta tetapi membangun jati diri bangsa.  Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889-26 April 1959) telah meneguhkan dan mengembangkan konsep pendidikan nasional yang membangun pribadi: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Hal ini berarti setiap insan  didik dapat berperilaku:  ing ngarso sung tulodo (menjadi teladan kebaikan), ing madyo mangun karso (menjadi penuntun  yang mensupport inovasi-kreasi), dan tut wuri handayani (menjadi fasilitator yang memotivasi) di manapun  berada. 

Untuk itulah pendidikan  musti bersandar pada suatu sistem sebagai starting point.  Lembaga pendidikan tidak hanya membentuk manusia yang mampu untuk mengadaptasikan diri dengan “life in general”, melainkan juga bermisi sebagai pengubah. Learning-teaching yang dikembangkan adalah untuk   melahirkan manusia yang berwawasan keilmuan sekaligus beratribut “agent of change and development”. 

 Sekolahan  bukan  pencetak generasi “mekanik” melainkan mendidik manusia yang bernurani dan bermartabat. Bagi anak-anak pinggiran, bisa sekolah itu saja suatu mimpi yang lama dibangunnya, soal hari masuknya berapapun tidak menjadi soal. Mereka bermimpi sekolah, seperti dirumuskan Frans Kafka (1883-1924), mimpi adalah realitas yang belum mampu dijangkau konsepsi. Maka policy maker dalam bidang pendidikan jangan berlagak tut wuri hangangkangi dengan menteknokratisasi pendidikan. KSLH harus dianggitkan untuk membenahi  schooling system yang  pedagogi  dan  penuh  dogma untuk menyemai anak didik yang bertradisi dialog.  Hanya dengan  budaya diskusi, sekolah menjauhkan anak-anak dari sifat iblis yang selalu bicara ana khairu minhu (aku lebih baik dari pada dia – Q.S. 38:76).

Watak sok bener anak didik harus dipungkasi dalam setiap  penggembalaan “learning-teaching”. Lahirnya anak-didik yang berburu ilmu dan bukan sekadar pencatat  literatur “wajib atau sunnah”.  Alvin Toffler (1928-2016) mengajukan formulasi sistem pendidikan yang mampu menelorkan alternatif masa depan berkelanjutan. Pendidikan bertujuan menyiapkan manusia antisipatif terhadap segala bentuk dinamika.  Apa yang dicuatkan  futurolog tersebut sebagai keharusan konsepsional learning-teaching   yang menyorongkan anak-anak sebagai “penakluk hari esok”.   Relasi antara guru (dosen) dan murid (mahasiswa) berpendar dalam bingkai  jargon komunikasi “to evaluate a man not from his answer, but from his questions”. Dari kualitas pertanyaan, guru memperoleh gambaran kemampuan produksi dan reproduksi setiap anak didiknya. Ini akan menjadikan suasana learning-teaching yang “ritmis” dan mengasyikkan.

 

Apa Perlu Mubahala?

KSLH secara hakiki mengemban makna  pendidikan unggul yang memajukan manusia Indonesia. KSLH pun adalah ijtihad hipotetis untuk beraksi selanjutnya.  Kalau mau menyoba KSLH, monggo mawon, mengingat full day school (FDS) sudah biasa bagi anak-anak kami. Sekolah-sekolah FDS terbukti melahirkan keragaman ruang ekspresi yang memberikan “karpet merah” anak didik berperadaban penuh inovasi dan kreasi. Tentu FDS adalah alternatif biasa yang musti dihormati dan KSLH menjadi “rona mediasi” yang moderat dalam menghargai keragaman kebutuhan pengelola pendidikan. Istilahnya, FDS itu kalau dibilang “kesalahan” tetaplah dia dosa yang terampuni, mengingat produk anaknya tampak berkarakter lebih. Ini juga boleh diprotes oleh “penantang”, sebuah tantangan yang juga “bukan arena berlaga”.

Mengenai hasil hebat FDS dengan mereka yang menolaknya tentu tidak perlu sampai dilakukan mubahalah, sumpah untuk saling melaknat yang kini lagi ramai. Sumpah pamungkas guna mengakhiri polemik dengan bersandarkan kepada keputusan teologis. Sementara itu untuk membuktikan kebenaran KSLH atau FDS dengan mereka yang bertahan pola enam hari masuk sebagai instrumen untuk menghasilkan insan unggul dengan kejujuran sebagai karakter utamanya, pastilah masih dapat dipilah dan dimandatkan menjadi pilihan bebas  para penyelenggara pendidikan. Tetapi untuk negara harus ada kepastian hukum guna menentukan batas demarkasi “garis ijtihad” KSLH agar bukan sekadar kebijakan “penghias berita”.

Lagian, kalau kuasa berkehendak, negara bertindak bagi sekolahnya sendiri  (negeri), apakah rakyat pada umumnya akan menolak? Asal kehendak negara ini tidak menorehkan kisah hidup yang dituang David Albahari, Cerpenis asal Serbia dalam karyanya Trash is Better, Cinta Semanis Racun (2016). KSLH tidaklah gula-gula cinta beracun bukan? Akhirnya, keluargalah sejatinya madrasah bagi anak-anak. Garis start dan finish pastilah kembali ke rumah. Rasulullah Muhammad SAW   bersabda dalam sebuah hadits  yang diriwayatkan Tirmidzi sebagai bekal umatnya: bahwa ”sebaik-baik di antara kamu adalah yang terbaik kepada keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik di antara kamu terhadap keluargaku”. Sungguh telah diajarkan pula: baiti jannati, rumahku surgaku.

 



Komentar Anda



Berita Terkait