Mahasiswa Widya Kartika Berebut Dana Investasi

 

Arief Budiman, Dekan Fakuktas Ekonomi Universitas Widya Kartika saat melihat mahasiswa praktik membuat produk kuliner.


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Frida Listiani Budiman (21), mahasiswa program studi Manajemen mengungkapkan sengaja membuat konsep makanan yang bisa ditempatkan di kantin kampus. Yaitu dengan membuat Mie Sarjana, konsepnya mie instan dengan sajian menggunakan batok kelapa dan variasi hidangan yang dibagi per bab di dalam menu.

Menanamkan jiwa kewirausahaan dan semangat kompetitif dilakukan universitas Widya Kartika dengan kompetisi membuat produk. Tak hanya berkompetisi menampilkan produk yang banyak diminati. Produk tersebut juga akan menjadi bekal mahasiswa untuk memperoleh dana investasi.

“Kami pakai batok kelapa sebagai mangkoknya agar identik tradisional, sumpitnya juga kami buat menyerupai kayu asli,” ungkapnya di sela pembuatan mie sekaligus peringatan hari pahlawan di halaman kampus.

Inspirasi Mie Sarjana ini dikatakannya karena pada 9 temannya yang membuat produk ini juga sudah mulai fokus skripsi. Menu dibagi menjadi 3 bab, bab pertama menjadi pilihan variasi mie memakai mie goreng, mie soto atau kare. Pada bab 2 digunakan untuk varian pakai toping sosis, kornet dan telur. Dan bab 3 dipakai untuk toping sambel dari level 1 sampai 10.

“Kami pilih mie karena Biasanya anak-anak kalau kuliah pagi pingin sarapan tapi bukan nasi, dan di kantin mie yang ada biasa saja. Makanya kami variasikan,” ungkapnya.

Frida juga mulai memainkan strategi promosi dengan memberikan gratis biaya mie jika pembeli memilih bab level 0. Karena menurut mereka mahasiswa di Surabaya identik dengan cita rasa pedas.
Arief Budiman, Dekan Fakultas Ekonomi mengungkapkan kompetisi ini akan menjadi bentuk presentasi mahasiswa untuk menarik investor pada produknya. Apalagi investor mereka untuk mulai memasarkan produk berasal dari teman-temannya sendiri.

“Setiap mahasiswa harus berinvestasi Rp 100.000 pada produk yang mereka anggap bisa menguntungkan,” ujarnya.

Dengan banyaknya investor dan kemungkinan adanya produk dengan investor terbanyak dan terendah. Maka akan memunculkan situasi start up yang sesungguhnya di lapangan.

“Setelah berjualan 3 minggu, nanti mereka harus menghitung profit dan membagikannya pada investor. Penjual dengan profit paling banyak akan dapat investasi dari kampus untuk melanjutkan usahanya, ”urainya.

Muis Murtadho, koordinator Iptek Bagi Kewirausahaan (IBK) menjelaskan kegiatan membuat produk ini dilakukan 52 mahasiswa Manajemen Universitas Widya Kartika. Sebelumnya mereka membuat proposal bisnis plan berisi produk unggulan, keunggulannya, penentuan harga pokok, harga jual dan target profit harian hingga bulanan.

“Tidak ada syarat khusus yang penting mudah dan terjangkau. Ini masuk mata kuliah entrepreneur 3, langsung praktik tidak sekedar online,” ujarnya.

Sebelumnya ada presentasi proposal juga, karena mahasiswa sudah diajari studi kelayakan. Sasaran entrepreneur 3,lanjutnya, memang selalu kuliner karena prosesnya cepat dan perputaran penjualannya bisa cepat. Rasa dan kualitas bisa cepat diperbaiki.

“Kendala utama mahasiswa biasanya bagaimana mencari diversifikasi produk. Karena mahasiswa biasanya cepat puas saat produknya sudah diminati di awal, sehingga pengembangan lanjutannya sulit,” ujarnya . sry



Komentar Anda