Ciptakan Lulusan Kritis Jadi Tantangan Perguruan Tinggi

 

Dari kiri, Prof. Bagong Suyanto; Prof. Daniel M. Rosyid, Ph.D.; Syamsidar Thamrin; dan Iman Prihandono, P.hD., dalam sarasehan dan diskusi kebangsaan pada Kamis (9/11) di Hotel Aria Centra.(Foto:Unair)


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pada era modernisasi saat ini, perguruan tinggi dituntut untuk mengambil peran dalam menciptakan lulusan yang mampu memenuhi kebutuhan pasar. Seperti data yang pernah dirilis Kemenristekdikti, hanya ada 17.5 persen lulusan perguruan tinggi yang terserap industri.

Sarasehan dan diskusi kebangsaan yang dihelat Universitas Airlangga pada Kamis (9/11) membahas tentang “Peran Perguruan Tinggi dalam Membangun Kehidupan Kebangsaan Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan Sosial”.

Hadir tiga pembicara dalam sarasehan di Hotel Aria Centra itu. Mereka adalah Prof. Bagong Suyanto, guru besar Sosiologi Ekonomi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR; Prof. Daniel M. Rosyid, Ph.D., guru besar Fakultas Teknologi Kelautan, ITS; dan Syamsidar Thamrin dari Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dalam sarasehan tersebut, mereka memberikan gagasannya terkait dengan peran perguruan tinggi untuk kemajuan bangsa.

Prof. Bagong menyatakan, peran sekaligus tantangan perguruan tinggi adalah menciptakan lulusan yang peka dan kritis terhadap persoalan di masyarakat. Sebab, lanjut dia, seperti konsep yang dikemukakan sosiolog George Ritzer, yang terjadi di Indonesia saat ini adalah McDonaldisasi perguruan tinggi. Yakni, perguruan tinggi mencetak lulusan seperti prinsip-prinsip restoran cepat saji.

”Tantangan kita, membuat lulusan yang peka, kritis, dan memiliki empati. Bukan hanya sibuk membangun kokohnya kurikulum. Banyak masalah sosial yang tidak dapat dipecahkan melalui prasangka ilmiah semata,” tutur Prof. Bagong.

Sejalan dengan Prof. Bagong, Prof. Daniel menyatakan bahwa tantangan perguruan tinggi adalah menciptakan siswa sekaligus mahasiswa yang memiliki kultur belajar, bukan hanya kultur sekolah.

”Kita gagal membedakan antara schooling dan learning. Jadi, mahasiswa tidak kuat dalam berpikir,” ungkap Prof. Daniel.

Dalam gagasannya, Prof. Daniel menganjurkan setiap anak-anak sekolah sering dilibatkan dalam kegiatan belajar di masyarakat serta mengetahui langsung masalah yang ada di sana.

Sementara itu, menurut Syamsidar, pendidikan di Indonesia kurang mengajarkan anak untuk memiliki sifat kompetitif. Karena itu, yang terjadi, sebagian besar anak kurang memiliki motivasi untuk mengungguli prestasi-prestasi anak lain yang bermunculan.

”Berpikir untuk jadi kompetitornya Mark Elliot Zuckerberg (pendiri Facebook, Red), bukan bekerja untuk Facebook. Mestinya anak-anak kita dilatih untuk berpikir ke sana,” tegas Syamsidar.

Sarasehan dan diskusi kebangsaan itu dilangsungkan dalam rangka peringatan Dies Natalis Ke-63 UNAIR. Puncak dies natalis pada Kamis (10/11) akan menghadirkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR Ignasius Jonan. ifw



Komentar Anda