Burger King

SURABAYAPAGI.com - Raksasa makanan cepat saji Burger King meluncurkan video pendek di YouTube yang menawarkan harga dan kecepatan layanan yang berbeda dalam menyajikan burger.

Video ini berjudul "Whopper Netrality." "Internet seharusnya seperti Whopper. Sama untuk semua orang." demikian bunyi video tersebut, dikutip dari Reuters, Kamis, 25 Januari 2018.

"Dicabutnya net neutrality menjadi topik hangat di Amerika, tapi sangat sulit dimengerti. Itulah sebabnya kami menciptakan Whopper Neutrality. Video ini bentuk eksperimen sosial yang menjelaskan efek pencabutan keseteraan internet yang kami analogikan seperti Burger Whopper," tulis Burger King dalam deskripsi videonya.

Dalam video tersebut terlihat bahwa pelanggan yang membayar jumlah minimum untuk sebuah Whopper harus menunggu 15-20 menit, kecuali mereka membayar lebih banyak.

Burger King mengibaratkan kecepatan layanan karyawannya sama dengan kecepatan internet atau mbps. Semakin tinggi harga maka semakin cepat layanannya.

"Apakah kamu bercanda? Anda membayar US$26 (sekitar Rp341 ribu) hanya untuk sebuah Whopper?" kata seorang wanita bertanya kepada seorang pria, yang memilih opsi hyperfast mbps.

Kasir Burger King kemudian menjawab pertanyaan wanita itu. "Dia mendapat prioritas lebih tinggi, terus..?" Pelanggan yang tidak sadar terlihat bingung dan kesal. "Oh, Tuhan. Ini adalah hal terburuk yang pernah kudengar," keluh seorang pelanggan yang marah.

Apa yang dilakukan kompetitor dari McDonald ini merupakan sindiran untuk Ketua Komisi Komunikasi Federal atau FCC Amerika Serikat, Ajit Pai.

FCC, yang didominasi Partai Republik, mencabut aturan yang melarang para penyedia layanan internet bertindak diskriminatif yang sempat diberlakukan selama dua tahun.

Artinya, pada era Pemerintahan Presiden Donald John Trump tidak ada lagi internet yang adil dan setara alias net neutrality di negeri Paman Sam.

Net Neutrality merupakan sebuah prinsip di mana penyedia jasa internet (ISP) - kalau di Indonesia seperti Telkom, Indosat, Biznet Network, atau XL Axiata - harus bersikap adil terhadap semua penyedia konten internet (situs) dan tidak membatasi hak akses pelanggan.

Ini berarti konten dari semua penyedia konten bisa diakses dengan kecepatan dan kualitas transmisi yang sama. FCC mencabut aturan net neutrality lewat sebuah sesi voting pada Kamis, 14 Desember 2017 lalu. (viv/cr)