SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Penyandang cacat atau disabilitas semakin mendapat tempat di masyarakat dalam bekerja. Tak terkecuali mantan narapidana. Ini bisa dibuktikan, di sebuah Kafe Mbok Kom, yang berada di Jalan Ketintang Madya Nomor 50 Surabaya (14/12).

Disana, pemilik kafe bernama Muhammad Sobik,31, alias Obik mengatakan ada 17 karyawan, dengan rincian 12 orang disabilitas sebagai pelayan dan lima orang normal sebagai asisten koki.

Kata Pemilik Kafe Mbok Kom, Muhammad Sobik,31, dirinya ingin para penyandang disabilitas memiliki kelebihan tersendiri dan bakat terpendam. Mempekerjakan rekan disabilitas dan mantan narapidana merupakan impiannya sejak lama."Saya senang dengan situasi yang seperti ini, setidaknya sebagian visi dan misi saya tercapai," terang pria yang sering disapa Obik itu.

Ia menuturkan, para pelanggan yang baru pertama kali kesana awalnya memang sempat bingung lantaran bingung untuk memesan hidangan yang akan dipilih.

Tapi, dari sana ia memberi pemahaman pada pelanggan untuk dapat memahami kondisi itu.

Obik ingin menepis pandangan sebelah mata terhadap penyandang disabilitas dan mantan narapidana. Ketika baru datang di kafe yang baru dibukanya pada 17 Oktober 2017 lalu yang tepat dengan hari ulang tahunnya, ia terlihat mengenakan sepeda motor Honda Beat, lalu berjalan menuju kafe untuk memanggil sejumlah rekannya untuk di berikan pengarahan (brieving).

Disana, Obik juga sempat mengutarakan sejumlah hal terkait kisah dan bagaimana awal mula dirinya mendirikam kafe itu.

Kendati sempat memperoleh sejumlah hambatan, namun hal itu justru dianggapnya sebagai tantangan. Ia ingin para karyawannya untuk lebih sukses daripada dirinya kelak.

Suami dari Dian Wahyuningsih,27, merupakan penyandang disabilitas, namun semangatnya dalam menjalani hidup dan memotivasi rekan disabilitas dan mantan narapidana sangatlah luar biasa.

Ia pun juga tak mau masyarakat beranggapan penyandang disabilitas tak mampu berbuat apa-apa.

Dari sana, ia merealisasikan dalam segala hal dalam aktifitasnya sehari-hari.

Ia juga mengatakan, segala aktifitas yang dilakukan orang normal pun dapat dilakukannya, bahkan lebih sempurna.

"Saya ini bukan cacat, semua saya bisa saya lakukan seperti orang normal lainnya, bahkan ikut club motor pun juga saya bisa," ungkapnya.

Pria yang telah mengidap kelainan pada kaki dari lahir itu telah berkeinginan untuk menjadi setara sejak kecil.

"Sejak TK, saya sering diejek temen saya, dari sana saya buktikan kalau saya bisa lebih dari mereka yang normal, misalnya naik sepeda," ujar Obik.

Menurutnya, cemoohan, hujatan, bahkan hinaan itu sudah hal biasa, itu adalah makanan sehari-hari baginya.

Akibat kenyang dengan sebutan pincang, buntung, dan sejenisnya, dari sana Obik membuktikan kalau dirinya lebih dari mereka.

"Semua hal saya lakukan secara sembunyi-sembunyi, pada malam hari sekitar pukul 01.00 sampai 03.00 WIB , sebelumnya saya teliti dan saya pahami, bahkan keluarga dan teman saya kaget waktu kecil saya bisa naik sepeda," ujarnya sembari tertawa.

Waktu pertama kali coba sepeda ontel, ia mengaku meminjam milik tetanggannya. Darisana, awalnya pun ia sempat kebingungan. Sebab, dengan dua buah alat kayuh berupa pedal beserta stangnya, sedangkan kakinya yang hanya satu, ia tak tahu harus mengawali darimana.

"Waktu itu saya sempat bingung, kaki saya kan hanya satu, tapi pelan-pelan belajar akhirnya bisa, saat itu aku masih duduk di kelas 3 SD," paparnya sembari tersenyum.

Pria yang pernah bekerja di perusahaan swasta dibidang perbankan, bengkel mobil, hingga properti itu mengatakan, pada saat itu, dirinya merasakan di dunia yang berbeda. Ia merasa, saat itu adalah bukan dirinya yang sebenarnya.

"Kalau bekerja ikut orang, seperti bukan diri saya sendiri, saya merasa ada yang aneh, karena banyak ide saya yang terpendam," bebernya.

Dari sana, Obik memiliki ide untuk bertahan hidup dengan cara membangun usaha.

Dari situlah, asal muasal dirinyanya memulai usaha dengan membuat dan menjual es kacang ijo.

"Perlahan-lahan proses, lalu maju dan maju, alhamdulillah, meskipun kacang ijo saya berhenti, tapi usaha lainnya jalan, bisa mas lihat sendiri sekarang," ujarnya sembari menunjukkan hasil karyanya.

Ia menambahkan, memiliki usaha dengan mempekerjakan kaum disabilitas dan mantan narapidana adalah cita-citanya selama ini yang di pendam dalam - dalam.

"Tidak pernah saya ceritakan ke siapapun, ketika sudah cukup modal, Bismillah, saya kembangkan usaha saya," pungkasnya.

Ia juga sempat berpikir, bagaimana caranya untuk merekrut teman-teman disabilitas, terutama teman-teman tuna rungu, wicara, dan tuna daksa seperti harapannya.

Sedari awal, ide untuk mendirikan Cafe atau perusahaan yang pegawainya para teman-teman disabilitas dan mantan narapidana adalah impiannya sejak lama.

"Saya butuh teman-teman yang selama ini dipandang sebelah mata dan selama ini dikucilkan oleh sekelilingnya, bahkan masyarakat yang ada saat ini," ujar pria yang memiliki seorang putra berusia 3.5 tahun itu.

Terkait modal, ia mengaku hanya bermodalkan nekat. Sebab, setelah seluruh biaya yang dimilikinya dirasa cukup, ia nekat untuk merealisasikan impiannya.

"Kalau bicara modal, saya modal nekat, karena semuanya ini saya belajar dan berproses dari nol, awal perjuangannya pada saat itu ya jual es kacang ijo berkeliling," papar Obik.

Sayangnya, usaha kacang ijo yang menjadi tumpuan awal dalam merintis karir usahanya kala itu hanya berjalan sekitar tujuh bulan saja.

Usai menjalani tujuh bulan lebih, Obik merasa lelah dan jenuh, dari sana akhirnya timbul niat untuk usaha lainnya.

Ketika itu, dirinya sedang nongkrong di trotoar sambil jualan, lalu dirinya melengkapi dagangannya dengan kopi, es teh, dan lainnya dan dari sanalah ia memulai usaha Warung Kopi (Warkop).

"Kalau berjalannya Warkop itu kurang lebih tujuh sampai sembilan tahun, waktu di Ketintang, Surabaya dan sudah pindah sana sini," ungkapnya.

Dari sana, ia berpindah-pindah lokasi dalam menjalankan usaha wakropnya, sebab Obik merasa kurang nyaman dan kurang teman, hingga akhirnya dirinya mendapatkan ide untuk usaha Cafe Mbok Kom dengan mempekerjakan teman-teman disabilitas. Obik yang juga Ketua Yayasan Disabilitas Mandiri Indonesia region Jatim itu juga menuturkan untuk saat ini, ia ingin melebarkan bisnisnya, terutama dibidang Frencheis di bakso.

Disana, Obik ingin di bagian produksi diisi oleh teman-teman disabilitasnya.

"Untuk back office, misalnya administrasi, produksi, teman disabilitas, lalu yang bagian terjun kelapangan teman-teman mantan narapidana," lanjutnya.

Untuk Cafe Mbok Kom, sebenarnya Obik juga ingin mengembangkan, namun hasratnya tak terlalu menggebu-gebu.

"Dari keluarga awalnya tidak mendukung, tapi dari situ saya maklum, tiga hari sebelum launching istri saya baru saya kasih tau, kalau ibu dan saudara saya lainnya tahunya malah sehari setelah launching," ungkap Obik.

Saat ia mengatakan "Semua saudara saya normal, gagah, ganteng, dan cantik, normal semua, cuma saya yang tidak", matanya sempat berkaca - kaca.

Nadanya mulai merendah, mulutnya bergetar, sembari tangan mengepal, ia mengatakan, "itu adalah takdir sang pencipta".

Ia tak menyalahkan orang tua, keadaan, dan siapa pun, ia menganggap kekurangan yang dimiliki adalah sebuah kelebihan yang belum terealisasi dalam suatu tindakan konkret.

Sebab, hal itu justru membuatnya untuk lebih termotivasi dan lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Kendati sempat ragu dan tak mendapat dukungan dari pihak keluarga, namun pada akhirnya seluruh pihak keluarga hingga temannya pun berusaha membantunya dalam segi modal dan pemasaran. Tetapi, hal tersebut ditolak Obik mentah-mentah.

"Yang pasti, selanjutnya keluarga mau bantu semua, tapi saya tidak mau, yang penting bantu doa saja sudah cukup," terangnya sembari tersenyum.

Sebuah ucapan yang disampaikannya terkait kondisinya, ia beranggapan bila dirinya bukanlah "Cacat". Selain itu, ia juga mengatakan, ingin membuat terobosan baru untuk membranding rekan disabilitas dan mantan narapidana untuk tampil lebih di masyarakat era sekarang.

"Saya ingin membuat branding disabilitas, saya ingin membuktikan 'Ini loh disabilitas', saya ingen membuat bakso dengan nama bakso kaki satu," ujarnya sembari tertawa.