Suasana arena judi di Karang Asem Gardu PLN, Tambaksari, Surabaya, kemarin.

Bagi sebagian orang, perjudian dianggap sebagai gaya hidup disela-sela rutinitas kerja kantoran. Meski melanggar hukum, tak sedikit orang yang melakukannya. Apalagi dari arena judi, bisa mendapat uang secara instan. Ini pula yang terlihat dari kampung judi doro (merpati) di daerah Ploso, Tambaksari, Surabaya. Meski sempat digerebek polisi, pemain judi di kawasan timur Surabaya itu tak surut. Bahkan setiap hari pesertanya bisa 100-an lebih. Tak heran jika perputaran uang judi di sana cukup menggiurkan.
----------------

Memanfaatkan lahan tidur milik Perusahaan Listrik Negara yang lebih dikenal dengan jalan Karang Asem Gardu PLN, sejumlah warga membuka praktik perjudian setiap siang hingga sore hari. Namun kebanyakan pemainnya warga pendatang, di luar wilayah kampung tersebut.

Mereka mulai buka dari pukul 13.00 WIB hingga menjelang maghrib. Ratusan orang memadati lokasi tersebut. Bahkan arena perjudian tak hanya terlihat dari sepanjang jalan tak beraspal itu, tapi juga di dalam sebuah bengkel guna mengelabuhi petugas.

"Di sini rata-rata yang datang orang luar kampung. Yang punya pegupon sebagian orang kampung, tapi ada juga yang sewa pagupon dari orang luar. Kalau yang rame sekali dan uangnya cepat muter itu pakai dadu mas, sudah kayak bursa efek," ujar salah satu warga yang berada di lokasi perjudian saat Surabaya Pagi memantau di lokasi, Selasa lalu.

Minggu (11/2) kemarin, Surabaya Pagi kembali datang ke lokasi. Ternyata, praktik judi di sana masih berlangsung. Bahkan, praktik perjudian itu dilakukan dengan pemain lebih banyak dan terang-terangan. Terlihat pembawa uang tengah (uang panjer judi) itu dengan bebas berlalu lalang diantara banyak orang.
"Pasang piro om, 300 bayar 400, ngungguli yo," ucap pria yang disapa Gundul ini.

Menurut warga yang juga pemain judi, Gundul ini salah satu dari banyaknya pemegang uang tengah bagi judi merpati. Gundul adalah contoh orang yang mempertemukan uang antara pihak lawan yang bertaruh pada salah satu merpati yang sedang diterbangkan.

Tak hanya Gundul, pantauan di lokasi ada lima orang dengan membawa sejumlah uang di tangannya. "Iki oleh e bos (Ini dapatnya bos, red)," kata Gundul kepada salah satu penjudi yang menang. Gundul pun mendapat upah Rp 100 ribu tiap sekali menang.

Perputaran Uang
Judi yang digemari kalangan masyarakat menengah ke bawah tersebut, kebanyakan diikuti tukang becak, orang lansia dan pemuda yang masih menganggur. Meski demikian, perputaran uang dalam sehari di arena judi itu bisa sampai puluhan juta rupiah.

Skema perhitungannya, jika ada 100 saja penjudi dengan satu orang minimal mengeluarkan uang Rp 100 ribu, maka sudah ada Rp 10 juta uang yang berputar di satu arena perjudian. Ini baru judi dadu. Belum lagi ditambah judi merpati yang kebanyakan dilakukan secara mandiri, antara lawan baik sendiri maupun melalui perantara seperti Gundul. Untuk satu kali pertandingan (balap merpati) satu penjudi bisa mengeluarkan uang antara Rp 500 ribu hingga 1 juta, bahkan lebih.

Yang mengejutkan, saat Surabaya Pagi memasuki lokasi dengan melewati jalan Karang Asem, terlihat pria menggunakan motor Supra warna hitam berplat luar kota, turut masuk dan berhenti memarkirkan motornya di depan arena perjudian. Namun sayang karena berjalan beriringan, Surabaya Pagi gagal mendapatkan foto pria itu. "Biasa mas, paling juga ambil jatah (uang keamanan)," kata pria yang sedari tadi duduk di warung.

Informasi yang diperoleh, ada beberapa warga yang ditunjuk sebagai koordinator pelaksana praktik judi, diduga memberikan uang keamanan kepada oknum tertentu. Tujuannya bebas dari razia kepolisian. Pengamanan preman terhadap orang asing seperti wartawan, juga dilakukan. Bahkan, setiap mata menatap curiga, terhadap orang baru yang mengeluarkan kamera smartphone-nya.

"Kalau di sini paling takut sama wartawan. Kalau aparat pakaian preman sudah biasa," tambah sumber yang meminta namanya tak ditulis di koran.