Surabaya Krisis Berkesenian

Perkembangan kota ini yang mulai dipuja-puji banyak orang dan sering disebut-sebut sebagai kota paling bersih dan paling indah

 

Ikon Surabaya yang siap pugar


SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Hotman M. Siahaan Guru besar Universitas Airlangga yang juga seorang budayawan, melontarkan gugatan terhadap pemerintah kota Surabaya sebab sudah tidak memperdulikan kesenian di Surabaya.

Perkembangan kota ini yang mulai dipuja-puji banyak orang dan sering disebut-sebut sebagai kota paling bersih dan paling indah, tetapi bagi Hotman Surabaya adalah kota yang kurang berbudaya karena tidak memperhitungkan adanya kesenian khususnya Surabaya.

Hotman mengungkapkan "Karena itu dalam forum ini terus terang saya menyampaikan gugatan kultural terhadap pemerintah kota ini".

"Kehidupan politik yang tidak memperhatikan kebudayaan tak ubahnya kehidupan yang barbar,” tegas Hotman ketika membuka pameran tunggal lukisan Makhfoed di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur semalam (16/10) yang di kutip dari Barengwetan.

Hotman mengutarakan rasa prihatinnya yang amat dalam karena kita semakin tersingkirkan dalam mencari tempat berkesenian yang layak.

Bahkan DKS pun hendak digusur dari kompleks Balai Pemuda. Pemerintah kota ini hampir-hampir tidak memiliki kepedulian terhadap perkembangan kesenian.

Hotman melanjutkan, tidak ada seniman di Indonesia ini yang tidak mengenal tokoh teater almarhum Basuki Rahmat yang telah banyak sekali melahirkan tokoh teater.

Tidak ada juga yang tidak mengenal Leo Kristi dan juga Gombloh, lanjutnya. Tetapi mereka yang telah ikut serta mengharumkan nama kota ini tidak sebanding dengan penghargaan kultural yang diberikan oleh pemerintah kota Surabaya. Dengan kemampuan kita yang sudah semakin tua ini, tambahnya.

Hotman berharap, dengan pameran Cak Makhfoed ini makin menguatkan dan memberikan tonggak yang kukuh dalam kehidupan berkesenian.

“Saya sampaikan selamat untuk Cak Makhfoed semoga pameran ini barokah bagi keluarga dan juga bagi kehidupan seniman di kota ini,” pungkas Hotman.

Dalam kesempatan yang sama Hotman juga menyampaikan keprihatinannya terhadap keberadaan gedung Aksera di Dukuh Kupang yang sekian tahun tidak terawat. “Tetapi saya juga harus mengoreksi diri karena bertahun-tahun mencari dana untuk perbaikan dan pengelolaan menemui jalan buntu,” ujar Hotman yang juga pengurus Yayasan Aksera itu. Jul



Komentar Anda



Berita Terkait