Jadi Sarang Wanita Malam, Penghasilannya Rp 10-15 Juta

Fenomena Maraknya Kos Mewah di Kota Surabaya

 

Suasana razia kos elite yang dilakukan Polsek Dukuh Pakis di wilayah hukumnya, beberapa waktu lalu


Menguak sisi kehidupan pekerja hiburan, tak akan pernah habis dibahas. Tak terkecuali di Surabaya. Kali ini, Surabaya Pagi mencoba mendalami sisi lain kehidupan "perempuan malam" yang banyak memilih tinggal di kos-kosan mewah di Surabaya. Meski berprofesi sebagai pemandu lagu alias purel maupun perempuan bookingan, namun gaya hidup mereka cukup glamor. Inikah tuntutan di dunia hiburan di kota Metropolitan seperti Surabaya?
------------
Laporan : Firman Rachman, Editor : Ali Mahfud
---------

Seperti Mayang (bukan nama sebenarnya) salah seorang pemandu lagu yang bekerja di tempat karaoke elite di Surabaya Selatan ini. Kehidupan pribadi Mayang bisa dibilang glamor. Baru delapan bulan bekerja sebagai pemandu lagu, perempuan 24 tahun itu sudah bisa mencicil mobil dari hasil pekerjaan tersebut.

Bagaimana tidak, tarif pemandu lagu ini senilai Rp 150-200 ribu perjamnya. Para pengunjung, diwajibkan menyewa minimal 3 jam tiap pemandu lagu. "Itu juga belum bonusannya mas, saweran dari tamu. Ya tergantung tamunya juga, kalau gak pelit dan suka sama service kita dia gak segan kasih sampai lima ratus ribu," kata Mayang saat berbincang dengan Surabaya Pagi, kemarin malam.

Penghasilan Mayang dari tempat hiburan bisa dikatakan fantastis. Perbulan rata-rata ia dapat mengantongi Rp 10 hingga 15 juta rupiah. Berbekal cantik, dan tubuh yang menarik, perempuan asal Lumajang itu mengubah dirinya dalam waktu relatif singkat.

Mayang pun mengaku, ia kini tinggal di salah satu kos elite di wilayah Surabaya Selatan. Per bulan, perempuan manis itu mengeluarkan biaya 3 juta rupiah hanya untuk keperluan papannya. Mulai dari sewa, listrik hingga biaya kebersihan yang diterapkan oleh pemilik kos.

Bagi Mayang, uang yang dikeluarkan perbulannya itu sebanding dengan fasilitas yang diterima. "Kosan saya bebas sih mas. Ya kadang masih terima tamu di kos," ujar Mayang sambil tertawa centil.

Manfaatkan Medsos
Kesaksian Mayang juga diberikan oleh seorang terapis pijat plus-plus di wilayah timur Surabaya. Meskipun tempat kerjanya di Timur, perempuan bernama Mawar (bukan nama sebenarnya) ini indekos di jalan Ngagel Surabaya. Dengan tarif kos Rp 2,5 juta perbulan, janda satu anak itu mengaku masih bisa hidup mewah. Sejak cerai tiga tahun dari sang suami, ia harus menghidupi anaknya di kota asalnya Malang. Ia lebih memilih menjadi terapis pijat plus-plus serta pelayan pria hidung belang berbasis online karena mudah mendapatkan uang.

"Mau gimana lagi, ijazah cuma SMP, aku biasanya juga buka online di media sosial sih mas. Kalau di sini pertamu dapat 300 ribu, kalau pas lagi libur gitu saya tarif 800 ribu pertamu," kata Mawar.

Dalam sehari menjadi terapis, mawar mampu melayani tamu antara 2-4 pria. Bisa dibayangkan, perbulan Mayang mampu mengumpulkan uang dengan rata-rata hingga dua puluh juta rupiah.

Berbeda kisah Mawar dan Mayang, Ratna (bukan nama sebenarnya) mengatakan jika dirinya berprofesi sebagai pekerja part time event. Guna mencukupi kebutuhan hidup mewahnya, perempuan 23 tahun itu juga menjalani profesi sebagai pekerja seks komersial online. Selain online, perempuan berkulit putih ini juga mengaku jika kerap mendapat tamu dari mulut ke mulut di tempat hiburan atau club malam.

"Biasa juga nongkrong di FP sutos, TP juga, koko-koko biasanya mas," kata perempuan yang terjaring razia bersama pasangan tidak sah di sebuah kos Dukuh Kupang Surabaya beberapa waktu lalu.

 



Fasilitas mewah dan kebebasan bagi penghuni kos bertarif mahal.


Fenomena Kos Elite
Fenomena banyaknya tempat kos elite dengan harga yang relatif tinggi di Surabaya itu terjadi lantaran tingginya permintaan. Tempat kos elit tersebut kebanyakan tumbuh di lokasi yang dekat dengan tempat hiburan. Demi keamanan tempat kosnya, para pengusaha tempat kos ini rajin membayar uang pungutan keamanan di tempat mereka mendirikan usaha ini.

Mandra, salah satu sekuriti perumahan di kawasan Surabaya Selatan mengatakan jika kebanyakan pengusaha kos melakukan intervensi aturan kebijakan kampung. Mereka kerap memberi sejumlah uang perbulannya dengan dalih kas kampung.

"Kalau warga biasa iuran kampungnya cuma 50 ribu, tapi kalau yang punya usaha kos-kosan itu bisa kasih 500-1 juta. Dari situ mereka minta one gate sistem, terus kosnya itu bebas, dan pihak RT setempat gak inisiatif buat razia gitu. Saya sebagai keamanan kan gak berani mas tanpa komando," pungkas Mandra. n



Komentar Anda



Berita Terkait