Saya Cuma Tamatan SD, Cari Kerja Susah

Geliat PSK di Bekas Lokalisasi Dolly dan Moroseneng

 

Para pekerja seks komersial yang tertangkap basah melakukan praktik prostitusi di eks lokalisasi Moroseneng. Foto :SP/Firman Rachman


Tiga tahun silam, lokalisasi prostitusi Dolly dan Jarak di Kelurahan Putat Jaya, Sawahan, Kota Surabaya, resmi ditutup oleh Pemkot Surabaya. Tepatnya 18 Juni 2014. Penutupan ini termasuk lokalisasi di Sememi dan Dupak. Meski telah ditutup, bukan berarti praktik prostitusi di sana hilang begitu saja. Tak heran jika aparat kepolisian maupun Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kerap merazia kawasan bekas Dolly dan sekitarnya, bahkan kerap mendapati pekerja seks komersial di sana. Praktik mereka memang sembunyi-sembunyi, ada juga yang memanfaatkan media sosial. Lantas, mengapa mereka nekad? Berikut ini laporan Firman Rachman, wartawan Surabaya Pagi.

--------------

 

Hampir 40 tahun sejak tertulis di berbagai literasi, munculnya Dolly menjadi daya tarik bagi lelaki hidung belang untuk mendatangi tempat itu. Mereka hanya ingin mencari kenikmatan sesaat dari sejumlah perempuan yang menjajakan jasa seks. Namun setelah tiga tahun ditutup, kini wisma-wisma bekas lokalisasi di sana berubah fungsi. Ada yang menjadi kos-kosan, tempat kebugaran, toko dan tempat usaha lainnya. Pemkot sendiri juga mendirikan semacam sentra UKM di sana, seperti memproduksi sepatu.

 

Namun hal itu tak lantas membuat praktik prostitusi di sana hilang. Meredup iya, tapi masih berdenyut. Seperti awal Juni 2017 lalu, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya, berhasil mengungkap modus baru transaksi esek-esek di eks lokalisasi Dolly. Seorang germo diamankan beserta satu pria hidung belang dan PSK di sebuah kos mewah jalan Dukuh Kupang Barat 50 Surabaya. Mereka digerebek dalam sebuah kamar bernomor 502, kos Metro House.

 

Dari keterangannya, seorang mucikari tersebut dirinya menarik pelanggan yang melewati jalan Dolly atau Jarak. Surabaya Pagi pun mencoba mengikuti modus makelar atau mucikari yang masih saja nekad “buka lapak” di wilayah tersebut. Pantauan dilakukan selama seminggu belakangan ini.

 

Setiap malam, dari pukul 19.00 WIB, puluhan pria terlihat berjajar di sepanjang jalan Jarak dan Dolly. Ada yang berkumpul di warung, di depan sebuah gang, atau berdiri secara terang-terangan  seorang diri, kadang diantara mereka juga menyaru menjadi tukang becak yang ngetem di sepanjang jalan tersebut.

 

Berbekal korek api, diantara mereka menyulut untuk menarik perhatian pengendara pria. Selain korek, lambaian tangan dan sebuah teriakan “ayo bos” menjadi pemandangan lumrah di lokasi tersebut.

 

Pengendara yang memang berniat sejak awal mencicipi “madu surga dunia” di eks lokalisasi tersebut menepikan kendaraannya, untuk kemudian bernegosiasi dengan makelar ataupun mucikari tadi.

 

Surabaya Pagi masih terus memperhatikan bagaimana cara transaksi mereka. Dari hasil wawancara dengan melakukan penyamaran, Surabaya Pagi mendapatkan bagaimana para makelar ini meminang calon “pembeli”-nya. “Ada lima, bagus-bagus mas, kalau yang “V” ini masih 25 tahun. Harga 450 ribu untuk sekali main dua jam. Belum sama tempat. Kalau mau murah di kos saja,” ujar pria besar yang mengaku sudah dua tahun beroperasi menjadi mucikari sembari memperlihatkan satu persatu foto perempuan yang ada di galeri smartphonenya.

 

Tak jadi eksekusi, Surabaya Pagi mencoba memantau salah satu aktivitas transaksi lain di lokasi yang sama. Seorang pria hidung belang merapat, menepikan kendaraannya di depan pria kurus berpostur kecil diatas becak. Selama hampir 15 menit mereka bercakap, pria tua itu terlihat menelepon seseorang. Tak lama, pria tadi terlihat pergi dan berhenti di ujung jalan jarak dekat kelurahan Putat Jaya. Tak lama, pria berhelm biru dengan jaket hitam itu dihampiri seorang pria lain yang membonceng perempuan seksi dengan rok mini di jok belakangnya.

 

Tak lama berselang, mereka kemudian pergi secara bersama ke sebuah penginapan yang tertulis dengan nama Palem Hotel dan restoran di jalan Kencana Sari Barat. Setidaknya itulah gambaran geliat prostitusi yang ada di eks lokalisasi Dolly. Hingga saat ini, praktik ilegal tersebut masih terlihat.

 

Langganan Razia

Berbeda kisah dengan Dolly, di eks lokalisasi Moroseneng lebih terang-terangan. Dengan berjajar di sebuah sofa panjang, dan diterangi dengan lampu berwarna merah remang, rumah-rumah bordir itu masih aktif menjajakan PSK. Karena itu, lokasi ini kerap menjadi sasaran razia. Seperti Minggu (14/5) lalu, unit Tipiring Sat Sabahara menggerebek dua wisma di jalan Sememi I. Polisi menemukan sebanyak 13 perempuan yang merupakan pekerja seks komersial.

 

Baru-baru ini, polisi kembali mengobok-obok eks lokalisasi Moroseneng. Kali ini giliran dua wisma di jalan Sememi II yang jadi sasaran. Hasilnya, polisi mengamankan tujuh PSK dan dua orang yang diduga mucikari. Penggerebekan itu dilakukan Unit Tipiring sat Sabhara, Sabtu (19/8) lalu. “Kami mendapat informasi adanya geliat prostitusi di eks lokalisasi yang sudah tidak diijinkan oleh pemerintah dan dilarang aktivitasnya,” ujar Kanit Tipiring Ipda Satriyono.

 

Karena itulah, polisi dan Satpol kerap melakukan razia. “Intensitas kami razia itu seminggu bisa 14 kali, meski begitu, mereka tetap saja lolos. Saat dirazia mereka pada hilang semua. Terus terang kami ini kucing-kucingan sama mereka. Ini masalah bersama dan harus ada solusinya,” kata Kapolsek Benowo Kompol Mahmud saat dikonfirmasi via teleponnya, Minggu (20/8) kemarin.

 

Persoalan Klasik

Jasmin (bukan nama sebenarnya) misalnya, perempuan berparas ayu asal Malang itu mengaku terpaksa melayani jasa seks lantaran butuh uang. Setiap harinya ia bisa melayani 10-15 pria. Meski tarifnya Rp 170 ribu per tamu, ia hanya mendapatkan Rp 75 ribu. Sisanya untuk pengelola dan makelar. “Saya juga baru datang, dulu pernah juga di sini. Hasilnya lebih dari cukuplah mas. Saya cuma tamatan SD, suami gak punya, cari kerja susah dan terpaksa saja,” aku Jasmin sat ditemui Surabaya Pagi. n

 



Komentar Anda