Ada Mahasiswi Layani Pejabat

Dijual via Medsos Paling Murah Rp 3 Juta untuk 2 Jam. Mucikarinya Cewek Surabaya dan Lamongan, Digrebek di Hotel di Surabaya Selatan

 

FOTO SP/ROBERTUS Dua mucikari ayam kampus berinisial AP dan UY yang berstatus mahasiswi diamankan ke Markas Polda Jatim, Selasa (20/12).


SURABAYA PAGI, Surabaya Menjelang perayaan tahun baru 2017, prostitusi mahasiswi yang biasa disebut ayam kampus kembali mencuat di Surabaya. Prostitusi melalui media sosial (Medsos) Line dan WhatsApp itu dijalankan dua mucikari yang berstatus mahasiswa perguruan tinggi di Surabaya. Yakni, berinisal AP (21), warga Jalan Kartini Lamongan dan seorang cewek berinisal UY (20), warga Surabaya. Bisnis esek-esek yang dikendalikan keduanya itu tergolong high class, melayani pesanan pejabat. Sedang cewek yang ditawarkan usianya 22 tahun ke bawah, paling murah dibandrol Rp 3 juta dengan waktu 2 jam.

Prostitusi ayam kampus ini terbongkar setelah Subdit II Perbankan unit IV Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim, menangkap AP dan UY di sebuah hotel di kawasan Surabaya selatan. Dari tangan pelaku pihaknya mengamankan barang bukti berupa uang tunai senilai Rp 3,5 juta, tiga ponsel Smartphone, satu kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Mandiri dan tiga dus kondom berwarna biru.

Informasi yang dihimpun Surabaya Pagi, Selasa (20/12/2016), dari pemeriksaan dua tersangka diketahui, sindikat jaringan bisnis esek-esek ini tergolong high class dan beromzet besar. Tak hanya melayani di dalam kota Surabaya, tapi juga luar kota. Diduga para pelanggannya berasal dari para pejabat dan pengusaha. Tarif sekali kencan dengan ayam kampus ini Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Rata-rata dalam sehari pelaku dapat tiga kali bertransaksi seksual. Jika ditotal dengan tarif Rp 3 juta, dikalikan satu bulan omzet yang didapat kurang lebih Rp 90 juta. Bahkan bisa sampai Rp 100 juta.

Tersangka UY berperan sebagai marketing yang bertugas berkomunikasi dengan pelanggan. Setelah tercapai kesepakatan, pelanggan akan menerima notifikasi nomor kamar. Sedang AP bertindak sebagai perekrut mahasiswi. Ada cara khusus semacam prosedur yang dipakai pelaku AP, untuk merekrut ayam kampus ini. Yakni, atas dasar rekomendasi dari sesama teman seprofesi.

Modus pelaku, yakni menyediakan layanan jasa esek-esek dengan wanita yang masih berstatus sebagai mahasiswi. Rata-rata anak buah pelaku adalah mahasiswi perguruan tinggi di Surabaya. Pelaku memakai media sosial (Medsos) Line dan Whastapp untuk menggaet pria hidung belang.

Tak sembarang wanita dapat masuk ke sindikat ini. Pelaku hanya memilih perempuan cantik yang bertubuh tinggi semampai, berkulit putih, langsing, berpenampilan menarik dan berbadan seksi. "Prostitusi ini tergolong private hanya orang tertentu yang bisa masuk," terang Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Kombes Pol Frans Barung Mangera di Mapolda Jatim, Selasa (20/12/2016) kemarin.

Untuk melakukan transaksi, lanjut Barung, biasanya pelanggan membayar secara cash setelah berkencan. Pelaku mendapat keuntungan 30 persen dari setiap kali transaksi seks tersebut. "Kalau tarif kencan Rp 3 juta, pelaku dapat 30 persen yakni sebesar Rp 900 ribu dibagi dua dengan pelaku UY," ungkapnya. "Dalam sehari rata-rata tersangka bisa menjual tiga cewek," imbuhnya.

Saat ditanya apakah salah satu pelanggan itu adalah pejabat? Barung mengatakan belum dapat memastikan hal itu. "Itu masih dalam proses penyidikan," ujarnya.

Menurut Barung, prostitusi online ini merupakan skala besar dengan omzet puluhan juta dan peminat yang luar biasa. Tidak hanya di Surabaya saja, pelaku ini juga melayani transaksi seks luar kota (Open Expo) sesuai permintaan pelanggan. "Pelaku ini pernah bertransaksi layanan seks dengan pelanggan di antaranya di Trawas, Kota Batu dan di sejumlah kota di Jawa Timur lainnya," terangnya.

Mantan Kabid Humas Polda Sulsel ini menambahkan ungkap kasus ini bermula dari patroli dunia maya ’Cyber Trops’ dan menemukan prostitusi online yang memperdagangkan perempuan mahasiswi ini. Pada, Minggu (19/12) pihaknya membuat laporan model A dan berhasil menangkap kedua pelaku di sebuah hotel di kawasan Surabaya selatan. "Pelaku melanggar Pasal 2 UU Ri Nomor 21 Tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan manusia (human trafficking) dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun kurungan penjara," papar Barung.

Sampai saat ini, penyidik masih mengembangkan kasus sindikat prostitusi online ini. Disinyalir prostitusi ini berjalan dengan sistematis dan tersusun dengan rapi.
"Kami masih memeriksa lima saksi yang mengetahui dan pernah mengalami secara langsung prostitusi online ini. Sebab, ditengarai melibatkan banyak orang," tandas Barung. n nt



Komentar Anda



Berita Terkait