Ditutup Risma, Dolly Masih Hidup

Justru Praktik Prostitusi Terselubung Tumbuh Subur

 

SURABAYA PAGI, Surabaya Penutupan lokalisasi Dolly oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini, kini patut dipertanyakan. Pasalnya, penutupan itu ternyata tidak menyelesaikan praktik prostitusi di sana. Justru yang terjadi, prostitusi terselubung di bekas lokalisasi Dolly tumbuh subur. Buktinya, beberapa kali praktek prostitusi di sana dibongkar polisi. Terbaru, Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polrestabes Surabaya, menangkap seorang pelaku trafficking di sana. Pelakunya, seorang tukang ojek bernama Sugeng Muklisno (42), yang sehari-hari indekos di Jalan Putat Jaya 3-B Nomor 21 Surabaya.

Pria ini ditangkap pada Rabu (14/12) setelah terbukti menjual satu pekerja seks komersial (PSK) ke pria hidung belang. Tidak mudah untuk membongkar praktek Sugeng. Polisi harus melakukan pengintaian beberapa minggu. Beberapa polisi menyebar di eks lokalisasi Dolly ini.

’’Menang, masih banyak laporan masuk terkait aktifitas prostitusi disana," sebut Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya Kompol Bayu Indra Wiguno, Kamis (15/12/2016).

Hasil pengintaian, ada seorang tukang ojek yang sering menawarkan PSK kepada pengendara atau pejalan kaki yang melintas disana. Polisi pun menyamar untuk menangkap Sugeng.

Setelah mendapat tawaran esek esek langsung dari Sugeng, seketika itu polisi menangkapnya. Setelah ditangkap, Sugeng dikeler untuk menujukkan lokasi yang dijadikan tempat PSK melayani pelanggan. Hasilnya, polisi mengamankan satu PSK bernama Santi yang saat itu sedang seranjang dengan seorang pria hidung belang.

Kompol Indra melanjutkan, kendati sudah resmi ditutup, faktanya, Dolly masih menjadi destinasi esek esek pilihan utama bagi pria hidung belang untuk melampiaskan nafsunya. "Memang tidak seterbuka dulu. Artinya, praktek prostitusi disana terselubung. Semua kegiatannya dilakukan secara sembunyi sembunyi," bebernya.

Modus yang dilakukan Sugeng sendiri, hampir sama dengan makelar makelar yang lebih dahulu tertangkap. Yakni, Sugeng menunggu pelanggannya di depan Gang Dolly (Jalan Girilaya- Jalan Jarak). Saat ada pengendara atau pejalan kali melintas, disanalah tangan Sugeng melambai. Lambaian tangan Sugeng sarat arti. Yaitu, Sugeng sedang menawarkan jasa PSK kepada pengendara ataupun pejalan kaki tadi.

Jika ada yang tertarik, mereka langsung tawar menawar harga. Mulai dari 150 hingga 250 ribu. Pilihan perempuannya pun beragam. Biasanya makelar hanya menyebutkan bentuk tubuh, kurus, sedang, atau montok. ’’Jika sudah ada kesepakatan harga, pelanggan dibawa tersangka ke kamar. Disana, PSK langsung dipanggil. Jika setuju dan sesuai dengan keinginan, tersangka baru meninggalkan lokasi,’’ imbuh Kompol Indra.

Cara pembayarannya relatif. Bisa diawal ataupun usai memakai jasa PSK. Kadang ada tips yang diberikan pelanggan. Namun, Sugeng mengatakan tidak pernah memberi nomor HPnya kepada pelanggan. ’’Terlalu beresiko. Kalau ingin pakai (PSK, red) lagi, ya langsung kesini," aku Sugeng.

Dalam pengakuannya, setiap transaksi, Sugeng bisa mendapatkan uang 50 ribu. Dia juga mengaku, semalam, dia bisa mendapatkan dua atau tiga transaksi. Jika ditotal sebulan, pendapatan sampingan Sugeng bisa lebih dari satu juta.

Kini polisi masih memburu pelaku lain bernama Parman yang juga memanfaatkan PSK bernama Santi untuk dijual. Polisi menduga, makelar sejenis Sugeng juga masih banyak tersebar di kawasan Dolly. ’’Kami terus pantau disana, biar benar-benar tidak ada lagi praktik prostitusi yang meresahkan masyarakat,’’ tandas Kompol Indra. n bkr



Komentar Anda