Koleksi pakaian yang dimasukkan dalam kategori Modest Fashion.

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Merek produk fesyen Marks & Spencer digempur warganet. Gempuran tersebut disebabkan oleh koleksi pakaian yang dikategorikan dalam "modest fashion" untuk perempuan.

M&S menampilkan sejumlah produk dalam kategori "modest fashion" dengan tampilan berupa pakaian panjang atau pun pakaian berleher tinggi menutup dada. Juga, celana panjang yang menutup hingga mata kaki.

Seperti diberitakan laman Independent, M&S menyebut koleksi tersebut telah dipasarkan sejak bulan Oktober 2017 lalu, namun baru menjadi pergunjungan saat ini.

Interpretasi dari "modest fashion" memang bervariasi dan tentu berbeda antar budaya dan negara.

Selain itu, tentu tidak ada interpretasi yang tidak ambigu, sebab segalanya akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik sosial budaya di masing-masing negara.

Namun pengertian yang selama ini dikenal dalam "modest fashion" bukanlah pakaian panjang yang menutup sebagian besar tubuh.

Pakaian jenis ini relatif lebih terbuka dan memamerkan sejumlah bagian tubuh. Sehingga, apa yang dilakukan M&S dinilai keliru dan mendatangkan implikasi lain.

Sejumlah pihak menilai, koleksi busana M&S itu ditujukan untuk menggaet para perempuan yang ingin berbusana secara tertutup, -baik karena alasan kepercayaan atau pertimbangan lainnya.

Nah, pada bagian inilah penamaan "modest fashion" menuai kritik. Mereka yang keberatan menganggap perempuan yang tidak mengenakan busana tersebut bukan "modest fashion".

"Modest fashion" yang dipersoalkan di sini menyangkut nilai kesopanan. Mereka merasa, orang-orang yang mengenakan pakaian tidak tertutup seperti produk H&M disebut tidak sopan.

"Saya berharap mereka tidak menyebutnya ‘modest’,” tulis seorang perempuan di Mumsnet.

"Ini menyiratkan bahwa perempuan yang tidak tertutup dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah orang yang tidak sopan."

“Apakah saya tidak sopan jika saya menunjukkan leher, pergelangan tangan, pergelangan kaki?" tanya perempuan lain.

“Tentu tidak, saya berpakaian dengan cara yang sangat sopan, dan dapat diterima di masyarakat.”

Beberapa orang percaya bahwa penggunaan kata tersebut dapat menimbulkan konsekuensi yang mengkhawatirkan.

“Ini bukan hanya semantik, tapi memberi 'bahan' bagi pelaku intimidasi di dunia nyata yang tidak selalu ingin menutupi dagu hingga ke pergelangan kaki.”

"Ini benar-benar benar-benar sebuah kemunduran dan memiliki konsekuensi negatif bagi perempuan,” kata pengkritik lain.

Perempuan lain berpendapat, dia tidak memiliki masalah dengan konsep tersebut, semua persoalan hanya perkara penamaan semata.

“Mereka harus menyebutnya 'tertutup' atau semacamnya, bukan modest. Modest menyiratkan hal mengerikan tentang perempuan yang tidak berpakaian seperti itu.”

“Saya sama sekali tidak memiliki masalah dengan busana tersebut, tapi saya pikir itu harus diberi nama ulang,” kata dia.

Namun beberapa yang lain menduga, M&S memilih penamaan itu dengan alasan SEO (search engine optimization).

Dengan menggunaan penamaan yang telah dikenal, maka pencarian dalam jaringan pun akan menjadi lebih mudah ditemukan.

Namun M&S menjelaskan, busana “modest fashion” ini bukanlah koleksi baru.

Modest fashion tidak ditargetkan kepada kelompok tertentu dan permintaan akan mode ini datang dari perempuan dengan berbagai latar belakang,” kata salah seorang Jurubicara M&S.

“Pemilihan ide busana mencerminkan permintaan pelanggan yang semakin meningkat," kata dia lagi. lx/kmp