Kembangkan Pertanian untuk Mengurangi Jumlah Penduduk Menjadi TKI

 

Arnoldus Maunino (kedua dari kiri) dan Ketua YBTS Edwin Saragih (kanan) saat berdiskusi tentang tanaman sayuran di Desa Kesetanan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.


SURABAYAPAGI.COM,  Nusa Tenggara Timur – Sejumlah warga di Desa Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan, TTS membentuk kelompok tani sebagai upaya mengurangi warganya bekerja di Malaysia sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Upaya tersebut merupakan akibat banyaknya TKI yang meninggal di Malaysia. Dari data Balai Pelayanan Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kupang, dalam rentang waktu 10 bulan (Januari-Oktober 2017) terdapat 45 TKI asal NTT yang meninggal di Malaysia.

TKI yang meninggal itu berasal dari 14 kabupaten di NTT, dan terbanyak berasal dari Kabupaten TTS, yakni 10 orang.

Kondisi itulah yang membuat Arnoldus Maunino bersama warga lainnya membentuk kelompok tani yang fokus menanam tanaman sayuran berbagai jenis.

Pada lahan seluas lebih dari satu hektar, Arnoldus bersama tetangga dan kerabatnya yang tergabung dalam satu kelompok menanam 20 jenis tanaman dan 28 varietas.

"Kami mulai pembersihan lahan mulai bulan April, selanjutnya pengolahan lahan di bulan Mei, kemudian di Bulan Juni kami mulai membuat bedengan dan persemaian, dan akhir Juni kami mulai tanam cabai keriting, tomat, kol dan sejumlah sayuran lainnya. Saat ini kami siap untuk panen," kata Arnoldus

Menurut Arnoldus, anggota kelompoknya berjumlah 16 orang. Namun saat bekerja, mereka akan dibantu oleh pemuda dan juga para pelajar yang ada di desa mereka.

"Dengan adanya pekerjaan ini kami mengharapkan agar anak-anak jangan lagi jadi TKI dan TKW ke Malaysia karena sumber daya alam di sini sudah cukup. Lebih baik jadi petani sukses di kampung, daripada jadi TKI di Malaysia," tegas Arnoldus.

Arnoldus mengatakan, dengan hasil pertanian yang bagus, sudah sangat membantu perekonomian warga dan dirinya bisa menyekolahkan anaknya.

"Kami juga sangat terbantu dengan adanya bimbingan dari Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS). Kami berharap hasil pertanian kami ini bisa diekspor keluar NTT," paparnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) Edwin Saragih mengatakan, pihaknya membina 500 petani asal Kabupaten Kupang dan Kabupaten TTS.

Pembinaan itu dilakukan melalui pameran Budidaya Sayuran di Desa Kesetnana.

Ekspo itu digagas oleh Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) bersama dengan PT East West Seed Indonesia (Ewindo), produsen benih sayuran tropis hibrida Cap Panah Merah.

Tema ekspo itu yakni membingkai kemitraan dan kebersamaan melalui budidaya sayuran yang berkelanjutan.

Acara ini melibatkan 500 petani dari kelompok tani Desa Oinlasi, Desa Pusu, Desa Oe-ue, Desa Noemeto, Kota Soe, dan Desa Boentuka Kabupaten TTS, serta tiga desa di Kecamatan Takari Kabupaten Kupang.

Menurut Edwin, ekspo ini bertujuan untuk memperkuat penghidupan dan mencetak petani yang tangguh dalam meminimalisasi risiko bencana iklim, terutama musim kering berkepanjangan yang sering terjadi di kawasan Indonesia Timur.

“Kami optimistis petani NTT akan menjadi petani sayuran yang tangguh dan adaptif terhadap kondisi iklim yang pada ujungnya mampu meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Edwin

Edwin Saragih menjelaskan, untuk mencapai tujuan tersebut telah dan akan dilaksanakan sejumlah kegiatan, di antaranya adalah transfer pengetahuan tentang cara bertanam yang baik kepada kelompok-kelompok tani melalui serangkaian pelatihan dan demo plot.

Selain itu, dilakukan upaya perlindungan dan konservasi sumber mata air, konstruksi sarana air untuk irigasi lahan pertanian, peningkatan akses petani terhadap data dan informasi iklim, peningkatan pendapatan petani termasuk pendampingan pengolahan dan pengemasan produk pertanian serta membuka akses pasar.

Selain kegiatan tersebut, pada kesempatan ini petani juga diperkenalkan dengan sejumlah varietas unggul sayuran. Varietas-varietas tersebut di antaranya Kubis Sehati F1, Paria Raden F1, Oyong Aggun F1, Labu Suprema F1, Kacang Panjang Kanton Tavi, Bawang merah Tuk tuk, Cabai Rawit Dewata 43 F1, Buncis Maxipro dan Melon Aramis F1.

 



Komentar Anda